Polemik PD III, Mahfuz Sidik: Dunia Menanti Kepastian Serangan AS ke Iran
MEDIAGAJAHPUTIHNEWS.COM
WILAYAH PULAU WEH-ACEH
REDAKSIGPN-NEWS-NASIONAL
GPN NEWS || JAKARTA, 21 Februari 2026 — Dinamika geopolitik global kembali memanas. Mantan Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2016, Mahfuz Sidik, menilai dunia saat ini tengah menanti kepastian langkah Amerika Serikat terhadap Iran—apakah benar-benar akan terjadi serangan militer atau tidak.
Menurutnya, eskalasi tersebut berpotensi menjadi pemantik konflik global berskala besar, bahkan membuka kemungkinan terjadinya Perang Dunia III.
“Masalah ini sangat aktual dan menjadi perbincangan banyak pihak. Dunia menanti kabar terbaru dari situasi ini—apakah serangan Amerika ke Iran benar-benar terjadi atau tidak. Jika terjadi, dampaknya bisa meluas secara global,” ujar Mahfuz.
Pernyataan itu disampaikan Mahfuz yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat Indonesia dalam forum Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik bertema “Serangan ke Iran: Benarkah Ambang Pintu Perang Dunia III?”, Jumat (20/2/2026) malam.
Dokumen Strategis dan Peta Konflik Timur Tengah
Mahfuz mengungkapkan, dalam dokumen yang pernah dibocorkan mantan Panglima NATO, Wesley Clark, disebutkan adanya agenda Gedung Putih pasca-serangan 11 September 2001 untuk melancarkan operasi militer terhadap tujuh negara dalam kurun lima tahun.
Tujuh negara tersebut adalah Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, Sudan, dan Iran.
“Dari tujuh negara itu, yang hingga kini belum sepenuhnya dilumpuhkan secara militer dan politik adalah Iran. Enam negara lainnya telah mengalami instabilitas serius, bahkan porak-poranda seperti Libya dan Suriah,” paparnya.
Mahfuz juga menyinggung kepemimpinan Presiden Donald Trump, yang disebut melanjutkan pendekatan keras terhadap Iran. Iran dituding sebagai pendukung terorisme global dalam kerangka kebijakan global war on terrorism.
Selain itu, ia merujuk pada dokumen strategis yang disusun sejumlah penasihat senior di Washington DC untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang disebut bertujuan mereposisi peta kekuatan di Timur Tengah dengan menjadikan Israel sebagai aktor dominan di kawasan.
“Iran disebut sebagai the last stone of the region—batu terakhir yang masih berdiri kokoh dan dianggap ancaman bagi Israel,” jelasnya.
Ancaman Eskalasi dan Dampak Global
Mahfuz menilai Iran memiliki kapasitas berbeda dibanding negara-negara lain yang sebelumnya menjadi target operasi militer AS. Iran disebut memiliki kemampuan nuklir, rudal balistik, serta dukungan militer kuat termasuk dari Rusia dan Tiongkok.
Selain itu, Iran menguasai Selat Hormuz, jalur strategis distribusi energi dunia. Penutupan selat tersebut berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global.
Ia juga menyoroti dukungan kelompok perlawanan regional terhadap Iran, seperti Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, dan Hamas di Gaza.
“Amerika dan Israel sedang berhadap-hadapan dengan Iran hari demi hari. Jika mereka nekat, maka serangan itu bisa menjadi pemantik Perang Dunia III,” tegasnya.
Sikap Indonesia: Mitigasi dan Kehati-hatian
Dalam konteks kepentingan nasional, Mahfuz menekankan pentingnya Indonesia bersikap hati-hati dan tidak terjebak dalam politik aliansi global.
Menurutnya, pemerintah perlu melakukan kalkulasi strategis dan mitigasi risiko, mengingat Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor minyak yang rentan terdampak gejolak di kawasan Timur Tengah.
“Indonesia harus menghitung secara cermat. Jangan sampai terseret dalam pusaran konflik global. Mitigasi risiko ekonomi dan energi harus dipersiapkan sejak dini,” pungkasnya.
~Perss GPN Sabang News Oleh Kabiro ~Eric Karno
~Sumber -Surya Irawan
Kabid Hubungan Media DPP Partai Gelora Indonesia
~RedaksiDaerah-GajahPutihNews.Com
Social Header
Kontributor