Breaking News

Jangan Padamkan Lilin Orang Lain Hanya untuk Terlihat Bersinar

                                         
  Opini | Gajahputihnews

Gayo Lues – Di tengah kerasnya persaingan hidup yang semakin ketat, muncul satu fenomena sosial yang kian sering terlihat di tengah masyarakat: ambisi yang dibungkus kesombongan. Tidak sedikit orang ingin terlihat paling hebat, paling benar, dan paling berpengaruh. Namun sayangnya, sebagian memilih jalan yang keliru—bukan dengan memperbaiki diri, tetapi dengan menjatuhkan orang lain.

Cara seperti ini bukan hanya memalukan, tetapi juga menunjukkan kemiskinan moral. Dalam kehidupan sosial maupun profesi, seharusnya ada satu prinsip sederhana yang menjadi pegangan bersama: tidak perlu meniup lilin orang lain hanya untuk membuat cahaya diri sendiri terlihat lebih terang.

Kalimat ini memiliki makna yang dalam. Pada hakikatnya, setiap orang sedang berjuang di medan kehidupan yang sama. Kita bekerja, berusaha, dan mencari nafkah demi kehidupan yang lebih baik. Karena itu, memadamkan cahaya orang lain hanya agar diri terlihat bersinar adalah sikap yang tidak beretika.

Orang yang benar-benar kuat tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk berdiri tinggi. Justru mereka yang merasa hebat dengan merendahkan orang lain sedang memperlihatkan kelemahan karakter mereka sendiri.

Lebih menyedihkan lagi ketika ada pihak yang merasa dirinya paling pandai, lalu dengan angkuh menepuk dada seolah-olah dialah yang paling benar. Padahal dalam banyak pelajaran kehidupan, orang yang benar-benar berilmu biasanya justru lebih banyak merendah daripada meninggi.

Kesombongan intelektual merupakan racun dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika seseorang merasa dirinya paling tahu segalanya, akal sehat perlahan tertutup. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai rekan seperjuangan, melainkan sebagai pesaing yang harus disingkirkan.

Padahal hidup ini bukan arena untuk saling menjatuhkan.

Ada pepatah lama yang sarat makna: “Jangan menjatuhkan piring orang lain yang sedang makan.” Maknanya jelas—jangan merusak rezeki orang lain. Jika seseorang sedang bekerja dan berusaha mencari nafkah dengan cara yang baik, maka menghormatinya adalah kewajiban moral kita sebagai sesama manusia.

Sangat memprihatinkan ketika ada orang yang sengaja menciptakan sensasi, menimbulkan konflik, atau menyebarkan narasi yang menjatuhkan orang lain hanya demi perhatian publik. Sensasi mungkin dapat membuat seseorang terkenal dalam waktu singkat, tetapi kehormatan tidak pernah lahir dari cara-cara seperti itu.

Jika ingin mencari nama dan pengakuan, silakan. Itu hak setiap orang. Namun jangan menjadikan orang lain sebagai batu pijakan untuk terlihat hebat. Nama baik tidak pernah dibangun dari kejatuhan orang lain.

Dalam falsafah kehidupan masyarakat kita, terdapat perumpamaan yang sangat indah: lihatlah penyu di pantai. Ia mampu menghasilkan ratusan telur, namun tidak pernah berdiri di tepi laut sambil menepuk dada dengan kesombongan. Ia tetap berjalan tenang, menjalani siklus kehidupannya tanpa perlu memamerkan apa yang dimilikinya.

Bandingkan dengan manusia yang baru memiliki sedikit kelebihan, tetapi sudah merasa paling hebat di antara yang lain.

Inilah ironi zaman. Banyak orang ingin dihormati, tetapi lupa menjaga kehormatan dirinya sendiri. Banyak orang ingin dihargai, tetapi tidak pernah belajar menghargai orang lain.

Padahal masyarakat hari ini tidak lagi mudah dibodohi. Mereka dapat melihat siapa yang benar-benar bekerja dengan tulus dan siapa yang hanya mencari panggung dengan cara menjatuhkan orang lain. Pada akhirnya, waktu selalu menjadi hakim yang paling jujur.

Karena itu, di tengah kehidupan yang penuh persaingan ini, marilah kita belajar satu hal yang sederhana namun sangat penting: jika tidak mampu menyalakan lilin orang lain, setidaknya jangan meniupnya hingga padam.

Jika tidak mampu membantu orang lain berdiri, jangan pula berusaha menjatuhkannya. Dan jika ingin dihormati, maka hormatilah lebih dahulu orang lain.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak dinilai dari seberapa keras ia menepuk dada, melainkan dari seberapa besar ia mampu menjaga kehormatan dirinya tanpa harus merusak martabat orang lain.

Penulis: Rauf Ariga

Reporter: Dir

© Copyright 2022 - gajah putih News.com