Partai Gelora Giatkan Pendidikan Kewarganegaraan agar Masyarakat Pahami Hak dan Kewajiban
MEDIAGAJAHPUTIHNEWS.COM
GPN NEWS || JAKARTA — 8 FEBRUARI 2026-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menegaskan komitmennya untuk menggiatkan pendidikan kebangsaan atau pendidikan kewarganegaraan (civic education) kepada masyarakat luas. Upaya ini dinilai penting guna membangun kesadaran warga negara yang memahami hak dan kewajibannya dalam kehidupan demokrasi.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah, dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangsaan Bagian ke-6 yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gelora, Jumat malam (6/2/2026).
“Dalam negara demokrasi, masyarakat tidak boleh masa bodoh. Demokrasi mengandaikan warga negara yang sadar, peduli, dan peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Karena itu, pendidikan kewarganegaraan harus terus digiatkan,” ujar Fahri Hamzah.
Menurut Fahri, pemahaman terhadap hak dan kewajiban warga negara akan mendorong partisipasi aktif masyarakat demi kepentingan kolektif dan kemajuan bangsa. Kesadaran tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai keagamaan yang mengajarkan kepedulian sosial serta tanggung jawab terhadap sesama.
“Agama pun menuntut pemeluknya untuk peduli. Ketidakpedulian berarti menempatkan diri di luar komunitasnya. Ini adalah fondasi penting dalam membangun bangsa,” tegasnya.
Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Republik Indonesia itu menjelaskan, kajian kebangsaan mencakup pemahaman sejarah bangsa, falsafah negara Pancasila, serta sistem ketatanegaraan dan pemerintahan yang dipengaruhi oleh sistem politik.
“Dengan pemahaman itu, kita bisa mengerti apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Faktanya, masih banyak orang—termasuk elit—yang tidak memahami persoalan-persoalan mendasar kebangsaan,” ungkap Fahri.
Ia pun berharap fungsionaris dan kader Partai Gelora dapat menjadi kelompok yang memiliki pemahaman utuh mengenai persoalan kebangsaan, sehingga mampu bersikap objektif dalam melihat persoalan publik.
“Saya sering mengkritik politisi, anggota dewan, dan pejabat yang tidak bisa membedakan antara perilaku sistem dan perilaku individual. Padahal keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda,” katanya.
Fahri menilai, ketidakmampuan membaca persoalan secara sistemik menyebabkan bangsa ini kerap terjebak dalam masalah yang berulang, seperti korupsi dan kemiskinan yang tak kunjung tuntas.
“Kita terlalu sibuk melihat gambar-gambar kecil dan lupa membaca gambar besar. Akibatnya, kita tidak tahu bagaimana cara keluar dari persoalan,” tegas mantan Wakil Ketua DPR RI periode 2014–2019 itu.
Untuk itu, Fahri menekankan pentingnya seluruh komponen bangsa memiliki kemampuan memahami secara menyeluruh sistem pemerintahan, politik, dan demokrasi Indonesia.
“Dengan begitu kita bisa memahami mengapa kita berada di titik ini, serta ke mana arah perjalanan bangsa ke depan. Semua itu adalah konsekuensi dari sistem yang kita pilih bersama,” pungkasnya.
~Perss GPN Sabang News Oleh Kabiro -Eric Karno
Sumber - Surya Irawan
Kepala Bidang Hubungan Media
DPP Partai Gelora Indonesia
~RedaksiDaerah-GAJAHPUTIHNEWS.COM
Social Header
Kontributor