Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Digelar di Banda Aceh, 21 Negara Dipersiapkan Hadir


Media: Gajahputihnews.com
Senin, 6 Oktober 2026

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Digelar di Banda Aceh, 21 Negara Dipersiapkan Hadir

GPN NEWS | BANDA ACEH — 𝐊𝐨𝐭𝐚 𝐁𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐀𝐜𝐞𝐡 𝐤𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢𝐩𝐞𝐫𝐬𝐢𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐭𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧 𝐮𝐥𝐚𝐦𝐚, 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐞𝐚𝐠𝐚𝐦𝐚𝐚𝐧, 𝐝𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐤𝐚𝐭 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐤𝐚𝐰𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐝𝐮𝐧𝐢𝐚. Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II 𝐓𝐚𝐡𝐮𝐧 𝟐𝟎𝟐𝟔 𝐝𝐢𝐣𝐚𝐝𝐰𝐚𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐧𝐠𝐬𝐮𝐧𝐠 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝟗-𝟏𝟏 𝐎𝐤𝐭𝐨𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟔 𝐝𝐢 𝐁𝐚𝐧𝐝𝐚 𝐀𝐜𝐞𝐡,

Muzakarah tahun ini mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat.”

Rangkaian kegiatan direncanakan berlangsung di dua lokasi utama, yakni Lapangan Blang Padang sebagai pusat kegiatan terbuka untuk masyarakat dan Balai Meuseuraya Aceh sebagai lokasi forum muzakarah dan pembahasan keilmuan.

Kegiatan tersebut dipersiapkan sebagai ruang silaturahmi, pertukaran ilmu, serta dialog antara ulama dan tokoh keagamaan dari berbagai daerah dan negara.

21 Negara Dipersiapkan Hadir

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II diproyeksikan menjadi pertemuan lintas negara dengan delegasi dari 21 negara.

Sejumlah negara yang telah disebutkan dalam informasi persiapan antara lain Indonesia, Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Suriah, Mesir, Palestina, Iran, Kamboja, dan Uzbekistan.

Adapun daftar lengkap negara dan delegasi peserta tetap mengacu pada daftar resmi panitia menjelang pelaksanaan kegiatan.

Keterlibatan sejumlah negara tersebut tidak terlepas dari jejaring pengkajian dan muzakarah yang selama ini berkembang melalui berbagai kegiatan MPTT. Hubungan keilmuan dan kegiatan serupa juga telah menjangkau sejumlah negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Tengah hingga Afrika Utara.

Kehadiran para ulama dari berbagai kawasan diharapkan memperluas ruang pertukaran ilmu dan pengalaman keislaman, sekaligus memperkuat hubungan antarkomunitas Muslim lintas negara.

Tiga Hari, Dua Lokasi Utama

Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari.

Pada 9 Oktober 2026, Lapangan Blang Padang dipersiapkan sebagai lokasi kegiatan terbuka yang dapat diikuti masyarakat. Agenda yang direncanakan antara lain pembukaan, tabligh akbar, zikir, doa untuk negeri, dan kegiatan keagamaan lainnya.

Sementara pada 10–11 Oktober 2026, Balai Meuseuraya Aceh dijadwalkan menjadi lokasi Muzakarah Ulama Tauhid, Tasawuf, dan Kesufian.

Pembagian lokasi tersebut menempatkan Blang Padang sebagai ruang perjumpaan masyarakat secara terbuka, sedangkan Balai Meuseuraya Aceh menjadi ruang dialog dan pembahasan keilmuan yang lebih khusus.

Dengan demikian, kegiatan tidak hanya berorientasi pada forum ulama, tetapi juga membuka ruang keterlibatan masyarakat.

Membawa Pesan Tauhid, Tasawuf, Persatuan dan Perdamaian

Tema yang diangkat menjadi pesan utama dalam muzakarah tahun ini.

Forum tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi ruang pembahasan mengenai tauhid, tasawuf, akhlak, ukhuwah, persatuan, dan perdamaian umat.

Pertemuan ulama dari berbagai latar belakang keilmuan dan kawasan juga diharapkan menjadi momentum memperkuat silaturahmi serta membuka ruang pertukaran pengalaman mengenai pembinaan umat di masing-masing negara.

Di tengah beragamnya kondisi sosial dan keagamaan masyarakat, dialog antartokoh agama dinilai penting untuk membangun sikap saling memahami dan memperkuat persaudaraan.

Aceh dan Tradisi Keilmuan Islam

Pemilihan Banda Aceh sebagai lokasi muzakarah internasional memiliki kaitan dengan sejarah panjang Aceh sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Nusantara.

Tradisi pendidikan melalui dayah, masjid, dan jaringan ulama telah menjadi bagian penting dari perjalanan intelektual Islam di Aceh.

Berbagai disiplin ilmu keislaman berkembang dalam tradisi tersebut, termasuk tauhid, fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf.

Karena itu, muzakarah internasional di Banda Aceh juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi keilmuan Islam Aceh dengan jaringan keilmuan Islam dari berbagai kawasan dunia.

Jejaring MPTT sendiri selama ini berkembang melalui kegiatan pengkajian dan muzakarah di berbagai daerah di Indonesia maupun sejumlah negara lainnya.

Syech Wan: Jangan Berhenti di Dalam Forum

Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, Irwan Syahputra atau Syech Wan, menilai kedatangan ulama dari berbagai daerah dan negara merupakan momentum penting bagi Aceh.

Menurutnya, muzakarah tidak semestinya hanya dimaknai sebagai pertemuan ulama, tetapi harus mampu mempertemukan ilmu, pengalaman, dan tradisi keislaman dalam suasana damai.

“Bagi Aceh, pertemuan ulama dari berbagai daerah dan negara bukan sekadar momen berkumpul, melainkan bagaimana ilmu, pengalaman, dan tradisi keislaman dapat dipertemukan dalam suasana damai. Yang terpenting, pesan persatuan dan perdamaian ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan berhenti di dalam forum saja,” ujar Syech Wan.

Ia berharap masyarakat dapat merasakan manfaat kegiatan melalui agenda keagamaan terbuka, silaturahmi, serta pesan persatuan dan perdamaian yang disampaikan para ulama.

Ia juga mengharapkan seluruh unsur yang terlibat mampu menjaga ketertiban, keamanan, kebersihan, dan kenyamanan selama rangkaian kegiatan berlangsung.

Yayasan Cakra Donya Siapkan Relawan

Dukungan teknis untuk kegiatan terbuka di Lapangan Blang Padang juga mulai dipersiapkan.

Yayasan Cakra Donya Atjeh, bersama sejumlah unsur relawan dan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I), menyatakan kesiapan membantu pelaksanaan kegiatan sesuai kapasitas masing-masing.

Sekitar 100 relawan dipersiapkan untuk membantu pelayanan peserta, ketertiban, kebersihan, serta kebutuhan teknis selama kegiatan.

Tgk. Agus, Kabid Keagamaan Yayasan Cakra Donya Atjeh yang juga disebut sebagai Sekretaris Panitia Aceh, mengatakan keterlibatan relawan diperlukan mengingat kegiatan di Lapangan Blang Padang bersifat terbuka dan diperkirakan dihadiri masyarakat dari berbagai daerah.

Koordinasi antara panitia, pemerintah, organisasi, relawan, dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting agar kegiatan berlangsung tertib dan aman.

Dukungan dari Sejumlah Daerah

Persiapan muzakarah juga mendapat perhatian dari sejumlah daerah.

Pada 21 September 2026, Bupati Simeulue Mohammad Nasrun Mikaris menerima kunjungan ulama dan tokoh agama yang membahas rencana pelaksanaan muzakarah.

Dukungan serupa disampaikan Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus M. Thomas Mopili saat menerima kunjungan panitia pada 28 September 2026.

Dalam pertemuan tersebut, panitia menyampaikan informasi mengenai rencana pelaksanaan muzakarah sekaligus meminta dukungan terhadap kegiatan yang akan berlangsung di Banda Aceh.

Dukungan dari berbagai daerah tersebut menunjukkan bahwa agenda muzakarah mulai mendapat perhatian di luar Aceh.

Banda Aceh Menjadi Ruang Pertemuan Ulama Dunia

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026 kini memasuki tahap persiapan akhir menuju pelaksanaan pada 9–11 Oktober 2026.

Jika seluruh agenda berjalan sesuai rencana, Banda Aceh selama tiga hari akan menjadi ruang perjumpaan ulama, tokoh agama, dan masyarakat dari berbagai kawasan.

Lapangan Blang Padang akan menjadi ruang terbuka bagi masyarakat melalui tabligh akbar, zikir, dan doa. Sementara Balai Meuseuraya Aceh menjadi pusat forum muzakarah yang membahas tauhid, tasawuf, dan kesufian.

Bagi Aceh, momentum tersebut bukan sekadar menjadi tuan rumah kegiatan internasional. Lebih dari itu, muzakarah menjadi kesempatan memperkenalkan tradisi keilmuan Islam Aceh sekaligus memperluas jejaring silaturahmi dengan ulama dari berbagai negara.

Pesan yang diharapkan mengemuka dari pertemuan tersebut adalah penguatan ilmu, ukhuwah, persatuan, dan perdamaian umat.

JADWAL DAN LOKASI

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026
9–11 Oktober 2026
Banda Aceh, Aceh

Lapangan Blang Padang
Kegiatan terbuka masyarakat, tabligh akbar, zikir, doa, dan rangkaian kegiatan keagamaan.

Balai Meuseuraya Aceh
Muzakarah Ulama Tauhid, Tasawuf, dan Kesufian, 10–11 Oktober 2026.

Tema:
“Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat.”

Yayasan Cakra Donya Atjeh berharap muzakarah internasional tersebut tidak hanya menjadi forum pertemuan ulama, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu wilayah yang memiliki sejarah dan tradisi keilmuan Islam yang panjang. (jnd.uk) 

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com