Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

PESAN UNTUK DEKAN BARU DALAM LINGKUNGAN USK

Senior Lecture pada Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana USK

Media GPNEWS 
Senin, 13 Juli 2026

Surat Terbuka Menjelang Pelantikan Dekan Universitas Syiah Kuala, 13 Juli 2026

  • Oleh : Teuku Muhammad Jamil
  • Senior Lecture pada Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana USK.
  • Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

Selamat kepada para Dekan Universitas Syiah Kuala yang akan dilantik pada 13 Juli 2026.

Pelantikan bukanlah akhir dari sebuah kompetisi, melainkan awal dari sebuah pengabdian. Jabatan dekan bukan hadiah atas kemenangan politik akademik, melainkan amanah intelektual yang kelak dipertanggungjawabkan kepada sivitas akademika, masyarakat, dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagai seorang dosen yang telah mengabdi cukup lama di Universitas Syiah Kuala, izinkan saya menitipkan  pesan dan harapan sederhana. Pesan dan harapan ini lahir bukan dari kebencian, melainkan dari kecintaan kepada almamater yang telah membesarkan ribuan anak bangsa.

Jangan pernah menganggap fakultas sebagai kerajaan pribadi.

Fakultas bukan milik dekan. Fakultas adalah rumah bersama tempat dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, dan alumni bertumbuh. Jabatan hanya sementara, tetapi kerusakan budaya akademik dapat diwariskan bertahun-tahun.

Seorang dekan yang baik meninggalkan sistem yang kuat, bukan pengaruh yang menakutkan.

Jangan memilih pembantu berdasarkan kedekatan, tetapi berdasarkan kompetensi.

Universitas tidak dibangun oleh kelompok pendukung, melainkan oleh orang-orang terbaik.

Ketika loyalitas lebih dihargai daripada kapasitas, maka inovasi akan mati perlahan.

Sejarah membuktikan bahwa banyak institusi besar runtuh bukan karena kekurangan orang pintar, tetapi karena pemimpinnya lebih mencintai pengikut daripada profesional.

Jangan membungkam kritik.

Kritik bukan ancaman.

Justru universitas yang kehilangan kritik telah kehilangan ruh keilmuan. Kampus yang sehat bukan kampus yang sunyi, melainkan kampus yang memberi ruang bagi perbedaan pendapat secara ilmiah.

Jika semua orang selalu setuju kepada dekan, kemungkinan besar ada sesuatu yang sedang tidak sehat.

Jangan menjadikan dosen hanya sebagai mesin administrasi.

Hari ini terlalu banyak energi akademisi habis untuk mengisi formulir, laporan, aplikasi, dan berbagai administrasi yang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas ilmu.

Dosen dilahirkan untuk berpikir, meneliti, mengajar, dan mengabdi kepada masyarakat. Jangan biarkan birokrasi membunuh kreativitas.

Jangan pernah melupakan mahasiswa.

Gedung megah tidak akan pernah menjadi ukuran keberhasilan sebuah fakultas.

Ukuran sesungguhnya adalah kualitas lulusan.

Mahasiswa bukan pelanggan.

Mahasiswa adalah amanah peradaban.

Mereka datang membawa harapan orang tua, dan pulang membawa masa depan bangsa.

Jangan takut melahirkan dosen yang lebih hebat daripada diri sendiri.

Pemimpin yang besar justru melahirkan generasi yang melampauinya. Sebaliknya, pemimpin yang kecil selalu takut disaingi.

Universitas tidak boleh menjadi tempat mempertahankan ego, tetapi tempat melahirkan keunggulan.

Jangan bermain-main dengan integritas.

Integritas adalah mata uang yang nilainya jauh lebih mahal daripada seluruh anggaran fakultas. Sekali kepercayaan hilang, bertahun-tahun pun belum tentu mampu mengembalikannya.

Kejujuran adalah fondasi utama universitas bermartabat.

Jangan mengejar pencitraan lebih daripada prestasi.

Media sosial boleh ramai.

Spanduk boleh indah.

Namun sejarah hanya mencatat karya nyata.

Kampus membutuhkan pemimpin yang bekerja, bukan sekadar tampil.

Jangan melupakan nilai kemanusiaan.

Setiap kebijakan akademik memiliki wajah manusia.

Di balik angka-angka terdapat keluarga dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang sedang berjuang.

Pemimpin yang baik tidak hanya pandai membuat keputusan, tetapi juga memahami dampak keputusan itu terhadap kehidupan orang lain.

Jangan meninggalkan warisan konflik.

Kelak masa jabatan akan selesai.

Yang akan dikenang bukan banyaknya rapat atau perjalanan dinas, melainkan apakah fakultas menjadi lebih damai, lebih ilmiah, lebih bermartabat, dan lebih berprestasi.

Jangan wariskan perpecahan.

Wariskan budaya akademik.

Wariskan kejujuran.

Wariskan harapan.

Akhirul Kalam :

Universitas Syiah Kuala telah melewati perjalanan panjang sebagai mercusuar ilmu pengetahuan di Aceh. Tantangan masa depan tidak semakin ringan. Persaingan global, kecerdasan buatan, transformasi digital, krisis moral, dan tuntutan masyarakat menempatkan kampus pada persimpangan sejarah.

Karena itu, dekan hari ini tidak cukup hanya menjadi administrator. Ia harus menjadi pemimpin intelektual, penjaga integritas, pelayan sivitas akademika, dan penggerak perubahan.

Jabatan akan berakhir.

Nama bisa terlupakan.

Namun keputusan-keputusan yang diambil seorang dekan akan hidup jauh lebih lama daripada masa jabatannya.

Maka, ketika kelak Bapak dan Ibu meninggalkan ruang dekan, biarlah sivitas akademika berkata dengan tulus :

Beliau tidak sekadar memimpin fakultas. Beliau telah meninggalkan jejak peradaban.”

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com