![]() |
| Foto ini merupakan sebuah refleksi hari pertama orang tua mengantarkan anak-anaknya masuk sekolah pada lembaga pendidikan semua tingkatan di Kota Banda Aceh |
OPINI
MENGANTAR ANAK KE SEKOLAH : MENGANTAR MASA DEPAN BANGSA
- Oleh : T.M. Jamil
- Guru pada Program Doktor (S3) Pendidikan IPS - Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh
Keputusan Pemerintah Aceh memberikan kelonggaran kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengantar anak pada hari pertama sekolah patut diapresiasi.
Kebijakan ini mungkin terlihat sederhana secara administratif, tetapi sesungguhnya mengandung filosofis dan makna sosial, psikologis, dan pendidikan yang sangat mendalam.
Negara sesungguhnya sedang mengirimkan sebuah pesan penting kepada masyarakat: bahwa pendidikan anak bukan hanya urusan sekolah, melainkan juga dimulai dari kehadiran orang tua.
Membaca kebijakan tersebut membawa ingatan saya kembali ke masa kecil. Saya masih mengingat dengan jelas ketika ayah dan ibu mengantar kami ke sekolah pada awal tahun ajaran atau ketika memasuki jenjang pendidikan baru. Saat itu mungkin kami belum memahami makna dari perjalanan singkat tersebut. Namun kini saya menyadari bahwa yang mereka antarkan bukan sekadar tubuh seorang anak menuju ruang kelas, melainkan rasa aman, keberanian, cinta, dan harapan.
![]() |
| Anak didik, pendidik (guru) dan orang tua adalah bahagian yang tidak terpisahkan dari sebuah pendidikan |
Sayangnya, dalam kehidupan modern, banyak orang tua merasa tugasnya telah selesai ketika mampu membayar uang sekolah, membeli seragam terbaik, menyediakan gawai tercanggih, bahkan menyekolahkan anak di lembaga pendidikan bergengsi.
“Padahal pendidikan tidak pernah dimulai dari dompet, melainkan dari pelukan, percakapan, perhatian, dan kehadiran.”
Kita sering merasa telah sukses menjadi laki-laki karena telah memiliki anak. Kita merasa telah berhasil menjadi perempuan karena telah melahirkan. Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kita sudah berhasil menjadi ayah dan ibu?
Inilah pertanyaan yang sering luput dari perenungan kita.
Dalam teori Attachment yang dikembangkan oleh John Boby, dijelaskan bahwa kedekatan emosional antara anak dan orang tua pada masa awal kehidupan merupakan fondasi utama pembentukan rasa aman (secure attachment). Anak yang tumbuh dengan kelekatan emosional yang kuat cenderung memiliki kepercayaan diri lebih tinggi, kemampuan sosial yang lebih baik, lebih tangguh menghadapi tekanan, dan memiliki prestasi akademik yang lebih baik dibandingkan anak yang mengalami keterasingan emosional.
Temuan tersebut diperkuat oleh berbagai penelitian psikologi pendidikan yang menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam aktivitas sekolah merupakan salah satu prediktor paling konsisten terhadap keberhasilan belajar anak.
Di sisi lain, sosiolog Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa keluarga merupakan sumber utama modal sosial dan modal budaya. Anak-anak tidak hanya mewarisi harta benda, tetapi juga nilai, kebiasaan, karakter, disiplin, cara berpikir, bahkan cita-cita. Semua itu lahir dari interaksi sehari-hari bersama orang tua.
“Artinya, ketika seorang ayah mengantar anak ke sekolah, sebenarnya ia sedang mewariskan nilai, bukan sekadar memberikan tumpangan.”
Begitu pula ketika seorang ibu atau ayah menggandeng tangan anaknya menuju gerbang sekolah, sesungguhnya ia sedang menanamkan keberanian, rasa percaya diri, dan kasih sayang yang kelak akan tumbuh menjadi karakter.
Filsuf pendidikan Ki Hadjar Dewantara sejak lama telah mengingatkan bahwa keluarga adalah pusat pendidikan pertama dan utama. Sekolah hanyalah mitra keluarga. Guru tidak pernah dimaksudkan untuk menggantikan peran ayah dan ibu.
Ironisnya, dalam kehidupan modern justru banyak orang tua yang menyerahkan hampir seluruh proses pendidikan kepada sekolah. Ketika anak berprestasi, orang tua bangga. Namun ketika anak bermasalah, sekolah yang pertama kali disalahkan.
Padahal karakter anak dibentuk jauh lebih lama di rumah daripada di ruang kelas.
Fenomena meningkatnya perundungan (bullying), kekerasan remaja, penyalahgunaan narkoba, kecanduan gawai, hingga krisis empati di kalangan generasi muda sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari semakin renggangnya hubungan emosional antara orang tua dan anak. Banyak keluarga tinggal serumah, tetapi hidup dalam dunia masing-masing.
Ayah sibuk bekerja.
Ibu sibuk dengan aktivitasnya.
Anak sibuk dengan layar telepon genggam.
Semua saling berdekatan secara fisik, tetapi berjauhan secara emosional.
Di sinilah kebijakan dan kearifan Pemerintah Aceh memiliki makna simbolik yang luar biasa. Negara sedang mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari angka partisipasi sekolah, kelulusan, nilai ujian, atau pembangunan gedung baru. Pendidikan sejati dimulai ketika orang tua hadir mendampingi anak.
“Karena itu, kebijakan ini hendaknya tidak berhenti sebagai dispensasi pada hari pertama sekolah semata. Ia harus menjadi gerakan sosial yang menghidupkan kembali budaya mendampingi anak, berdialog dengan mereka, mengenal guru-gurunya, memahami kesulitannya, dan menjadi sahabat dalam proses tumbuh kembangnya.”
Kita memerlukan revolusi pendidikan yang dimulai dari rumah. Sebab sesungguhnya rumah adalah universitas pertama seorang anak.
Ayah adalah profesor pertama di rumah.
Ibu adalah guru pertama.
Sekolah hanyalah melanjutkan apa yang telah dibangun keluarga.
Pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual anak-anaknya, tetapi juga oleh kualitas kasih sayang yang mereka terima sejak kecil.
Anak-anak mungkin akan melupakan hadiah yang pernah diberikan orang tuanya. Namun mereka hampir tidak pernah melupakan siapa yang menggenggam tangannya ketika pertama kali melangkah menuju sekolah.
Karena itulah, mengantar anak ke sekolah bukan sekadar perjalanan beberapa kilometer. Ia adalah perjalanan panjang membangun peradaban.
Mengantar anak ke sekolah sejatinya adalah mengantar masa depan bangsa. Semoga !!!


0 Komentar