- Oleh : Teuku Muhammad Jamil
- Pengamat Politik dan Akademisi pada Universitas Syiah Kuala (USK)
- Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh
Setiap tanggal 12 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Koperasi Nasional. Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar memperingatinya adalah :
“apakah koperasi masih menjadi gerakan ekonomi rakyat, atau telah bergeser menjadi proyek administrasi negara ?”
Inilah pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan jujur oleh seluruh penyelenggara negara.
Apa yang Sedang Terjadi ?
Pemerintah saat ini mengusung Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai strategi memperkuat ekonomi kerakyatan. Hingga Mei 2026, lebih dari 83 ribu koperasi telah dibentuk di seluruh Indonesia, dan Aceh termasuk provinsi dengan jumlah pembentukan yang tinggi.
Angka tersebut memang mengesankan. Namun dalam ilmu ekonomi kelembagaan, jumlah bukanlah ukuran keberhasilan.
Ukuran keberhasilan koperasi bukan berapa banyak akta notaris diterbitkan.
Bukan pula berapa banyak gedung diresmikan.
Melainkan berapa banyak anggota yang memperoleh manfaat ekonomi.
Berapa banyak petani terbebas dari tengkulak.
Berapa banyak nelayan memperoleh akses pasar.
Berapa banyak UMKM memperoleh pembiayaan murah.
Berapa banyak keluarga keluar dari kemiskinan.
Apabila semua itu belum terjadi, maka sesungguhnya yang sedang tumbuh hanyalah statistik, bukan kesejahteraan.
Siapa yang Bertanggung Jawab ?
Jawabannya bukan hanya pemerintah.
Tetapi juga perguruan tinggi.
Dunia usaha.
Pemerintah daerah.
Organisasi masyarakat.
Dan terutama generasi muda Indonesia.
Ironisnya, justru generasi muda semakin jauh dari koperasi.
Mereka lebih mengenal startup daripada koperasi.
Lebih memahami venture capital daripada simpanan wajib.
Lebih akrab dengan aplikasi digital dibandingkan rapat anggota tahunan.
Ini bukan kesalahan mereka.
Ini kegagalan kita mewariskan gagasan Bung Hatta kepada generasi baru.
Di Mana Jiwa Koperasi Itu ?
Kita menyaksikan bangunan koperasi mulai berdiri.
Papan nama mulai terpasang.
Peresmian dilakukan.
Foto-foto dipublikasikan.
Tetapi pertanyaannya sangat sederhana.
Di mana aktivitas ekonominya ?
Di mana anggota yang benar-benar bertransaksi ?
Di mana laporan usaha yang sehat ?
Di mana keuntungan yang kembali kepada anggota ?
Jangan sampai koperasi berubah menjadi bangunan yang megah, tetapi kosong dari kehidupan.
Gedung koperasi tidak boleh menjadi monumen kebijakan yang akhirnya lebih sering dikunci daripada dibuka.
Kapan Momentum Evaluasi Itu?
Hari Koperasi adalah momentum paling tepat melakukan evaluasi nasional. Karena sejarah telah memberi pelajaran.
Bung Hatta tidak pernah meminta rakyat membesarkan dirinya melalui koperasi. Beliau justru membesarkan koperasi agar rakyat dapat hidup lebih bermartabat.
Hari ini justru muncul kesan sebaliknya.
Ada yang ingin membesarkan dirinya melalui koperasi.
Perbedaan moral inilah yang menjadi persoalan terbesar bangsa.
Mengapa Banyak Koperasi Tidak Berkembang ?
Douglass North menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas institusi.
Robert Putnam menegaskan pentingnya modal sosial (social capital) berupa kepercayaan.
Elinor Ostrom membuktikan bahwa lembaga berbasis partisipasi masyarakat lebih mampu bertahan dibanding lembaga yang dibangun hanya melalui pendekatan birokrasi.
Ketiga teori tersebut memberikan pesan yang sama.
Institusi tidak hidup karena bangunan.
Institusi hidup karena kepercayaan.
Karena itu, koperasi tidak akan berkembang apabila hanya mengejar target pembentukan, tetapi mengabaikan pendidikan anggota, transparansi, integritas pengurus, dan usaha produktif.
Bagaimana Seharusnya ?
Pemerintah harus menjadikan koperasi sebagai gerakan ekonomi, bukan semata proyek pembangunan.
Keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak boleh diukur dari jumlah gedung.
Tetapi harus diukur dari:
- jumlah anggota yang aktif,
- omzet usaha,
- penyerapan tenaga kerja,
- nilai transaksi,
- peningkatan pendapatan anggota,
- dan penurunan angka kemiskinan desa.
Tanpa indikator tersebut, koperasi hanya akan menjadi angka dalam laporan tahunan.
Fenomena Koperasi Merah Putih : Harapan Besar, Tantangan Lebih Besar
Program Koperasi Merah Putih sesungguhnya merupakan peluang besar membangun ekonomi desa. Namun peluang sebesar apa pun akan berubah menjadi beban apabila tata kelolanya lemah.
Data pemerintah menunjukkan pembentukan koperasi berlangsung sangat cepat. Di sisi lain, proses operasionalisasi berjalan bertahap dan tidak semua koperasi yang telah dibentuk langsung memiliki kegiatan usaha, gerai, maupun kapasitas kelembagaan yang memadai. Pemerintah sendiri menargetkan koperasi-koperasi tersebut beroperasi secara bertahap sepanjang tahun 2026.
Artinya, pekerjaan terbesar sesungguhnya baru dimulai.
Membangun koperasi jauh lebih sulit daripada meresmikannya.
Di Mana Pemuda Indonesia ?
Pertanyaan yang lebih menyedihkan adalah:
Mengapa kampus-kampus tidak lagi menjadikan koperasi sebagai laboratorium ekonomi rakyat ?
Mengapa organisasi mahasiswa tidak lagi menjadikan koperasi sebagai gerakan intelektual ?
Mengapa lulusan perguruan tinggi lebih memilih menjadi pencari kerja daripada pencipta ekosistem ekonomi berbasis koperasi ?
Padahal Indonesia memiliki lebih dari 30 juta UMKM nonpertanian yang sesungguhnya dapat menjadi ekosistem alami bagi koperasi modern.
Inilah pekerjaan rumah bangsa.
Pesan untuk Penguasa
Izinkan saya menyampaikan satu kalimat kepada siapa pun yang sedang memegang kekuasaan hari ini.
Jangan wariskan kepada rakyat ribuan gedung koperasi yang kosong. Wariskanlah ribuan koperasi yang mampu menghidupi rakyat.
Karena rakyat tidak makan papan nama.
Rakyat tidak hidup dari spanduk peresmian.
Rakyat tidak sejahtera karena pidato.
Rakyat hanya akan sejahtera apabila koperasi benar-benar membeli hasil panennya, membantu modal usahanya, memperluas pasarnya, dan menjaga harga dirinya.
Penguasa boleh berganti.
Kabinet boleh berganti.
Program boleh berganti.
Tetapi amanat Pasal 33 UUD 1945 tidak pernah berganti.
Ekonomi Indonesia harus tetap diselenggarakan sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Akhirnya perlu diingatkab bahwa Bung Hatta telah memberikan teladan yang sangat sederhana.
Beliau tidak mencari kehidupan di dalam koperasi.
Beliau menghidupkan koperasi agar rakyat memperoleh kehidupan.
Hari ini sejarah sedang bertanya kepada kita.
Apakah kita sedang membangun koperasi ?
Ataukah kita hanya sedang membangun simbol-simbol koperasi ?
Jika jawabannya masih sebatas gedung, papan nama, dan seremoni, maka sesungguhnya kita belum meneruskan cita-cita Bung Hatta. Kita baru membangun bangunannya.
Kita belum membangun jiwanya.
Selamat Hari Koperasi Nasional Ke-79.
Koperasi akan tetap menjadi soko guru perekonomian Indonesia, apabila penguasanya memiliki keberanian menempatkan rakyat sebagai tujuan, bukan sekadar objek pembangunan. Sebab koperasi bukan dibangun untuk memperbesar kekuasaan, melainkan untuk memperbesar kesejahteraan.

0 Komentar