Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

IPK 4,00, tetapi Mengapa Hidupnya Tidak Lulus?

Ketika Anak Kehilangan Adab, Ilmu Kehilangan Berkah.

Oleh: Teuku Muhammad Jamil 
Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK)
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh 

OPINI

IPK 4,00, tetapi Mengapa Hidupnya Tidak Lulus?

Ketika Anak Kehilangan Adab, Ilmu Kehilangan Berkah.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun saya mengajar di perguruan tinggi. Ribuan mahasiswa telah datang dan pergi. Sebagian kini menjadi menteri, kepala daerah, hakim, jaksa, perwira TNI-Polri, profesor, pengusaha, birokrat, dosen, guru, maupun tokoh masyarakat. 

Ada pula yang memilih menjadi petani, nelayan, dan pelaku UMKM, tetapi hidupnya penuh kemuliaan karena mampu memberi manfaat bagi sesama.

Di tengah perjalanan panjang itu, ada satu pertanyaan yang terus menggelitik hati saya.

Mengapa mahasiswa dua atau tiga dekade lalu, yang IPK-nya rata-rata di bawah 3,00, justru banyak yang lebih berhasil dalam kehidupan?

Sebaliknya, hari ini kita menyaksikan fenomena yang paradoks. Mahasiswa dengan IPK 3,90 hingga 4,00 semakin banyak. Predikat cum laude tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. 

Namun setelah wisuda, tidak sedikit yang justru kebingungan mencari arah hidup, mengantre lowongan kerja, bahkan kehilangan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan dunia nyata.

Padahal, generasi sebelumnya sering mengalami keadaan yang sebaliknya. Mereka tidak mencari pekerjaan, tetapi pekerjaan yang mencari mereka.

Lalu apa yang sebenarnya berubah?

Yang berubah bukan semata-mata kecerdasan intelektual. Yang berubah adalah karakter, mentalitas, dan cara memandang ilmu.

Kampus Berhasil Melahirkan Sarjana, tetapi Belum Tentu Melahirkan Manusia

Hari ini dunia pendidikan terlalu sibuk mengejar angka.

IPK, Akreditasi, Publikasi, Ranking, Sertifikat, dan Portofolio.

Namun diam-diam kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih mahal : Adab.

Dalam tradisi Islam, Imam Malik pernah berpesan, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Karena ilmu tanpa adab ibarat cahaya yang kehilangan arah.

Saya masih mengingat mahasiswa era 1990-an hingga awal 2000-an.

Mereka datang ke kampus dengan pakaian sederhana.

Naik sepeda, Naik bus, Kadang uang saku hanya cukup untuk makan sekali. Namun mereka membawa sesuatu yang hari ini semakin mahal.

Rasa hormat.

Mereka menghormati dosen bukan karena nilai. Tetapi karena ilmu. Mereka menghormati orang tua bukan karena uang. Tetapi karena keberkahan. Mereka percaya bahwa ridha Allah dimulai dari ridha orang tua.

Kini gejalanya mulai berbeda.

Guru dihormati selama dapat memberi nilai. Dosen dicari ketika membutuhkan tanda tangan. Orang tua dihubungi ketika saldo rekening mulai menipis.

Selebihnya, waktu lebih banyak dihabiskan di warung kopi, media sosial, dan dunia digital yang sering kali menjauhkan mereka dari keluarga. Ironisnya, mereka merasa paling merdeka, padahal tanpa sadar sedang dijajah oleh algoritma.

IPK Mengukur Otak, Bukan Seluruh Kehidupan

Kesalahan terbesar pendidikan modern adalah menganggap keberhasilan hidup dapat diwakili oleh angka.

Padahal Howard Gardner melalui teori Multiple Intelligences telah menjelaskan bahwa kecerdasan manusia jauh lebih luas daripada kemampuan akademik.

Daniel Goleman kemudian memperkuatnya melalui konsep Emotional Intelligence, bahwa keberhasilan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan, berempati, dan memiliki integritas dibanding sekadar kecerdasan intelektual.

Dunia kerja pun semakin menegaskan kenyataan tersebut.

Perusahaan tidak hanya mencari orang yang pintar. Mereka mencari orang yang jujur. Mereka mencari orang yang mampu bekerja sama. Mereka mencari orang yang tahan menghadapi tekanan. Mereka mencari orang yang dapat dipercaya. Semua itu tidak pernah tercetak dalam transkrip nilai.

Cum Laude Tidak Selalu Cum Character

Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan ratusan ribu sarjana. Jumlah lulusan dengan predikat cum laude juga terus meningkat. Namun, dunia kerja tidak berkembang secepat pertumbuhan jumlah lulusan.

Akibatnya, banyak lulusan harus menunggu lama memperoleh pekerjaan yang sesuai, bahkan tidak sedikit yang akhirnya bekerja di luar bidang keilmuannya.

Masalahnya bukan karena mereka bodoh. Tetapi karena dunia nyata memiliki rumus yang berbeda dengan ruang kuliah.

Di kampus, jawaban benar mendapat nilai. Di kehidupan, karakter membangun kepercayaan. Kepercayaan melahirkan kesempatan. Kesempatan melahirkan keberhasilan.

Berkah yang Mulai Dilupakan

Ada satu kata yang hampir hilang dari ruang-ruang kuliah, yaitu Berkah.

Dalam perspektif pendidikan Islam, ilmu bukan hanya menghasilkan kecerdasan. Ilmu harus menghadirkan keberkahan.

Mengapa generasi terdahulu tampak lebih tenang, lebih kuat, dan lebih berhasil? Karena mereka menjaga tiga pintu keberkahan.

Pertama, menghormati orang tua. 

Kedua, memuliakan guru. 

Ketiga, menjaga kejujuran.

Hari ini ketiganya mulai terkikis.

Padahal keberhasilan hidup tidak hanya ditentukan oleh usaha. Tetapi juga oleh doa orang tua yang diam-diam membuka pintu langit.

Kita Sedang Kehilangan Kesabaran

Media sosial melahirkan budaya instan. Anak muda ingin sukses sebelum berusia 25 tahun. Ingin kaya tanpa proses. Ingin terkenal tanpa karya. Ingin memimpin tanpa pernah belajar dipimpin. Media sosial hanya memperlihatkan hasil. Tetapi menyembunyikan perjuangan.

Akibatnya, banyak anak muda mengalami kegelisahan ketika realitas hidup tidak seindah layar telepon genggam.

Orang Tua Pun Tidak Boleh Lepas Tangan

Tulisan ini bukan hanya kritik kepada mahasiswa. Orang tua juga harus bercermin. Banyak keluarga hari ini berlomba memasukkan anak ke berbagai kursus.

Bahasa asing, Komputer, Robotik, dan Musik.

Namun lupa mengajarkan satu pelajaran yang paling mahal.

Cara menghormati guru.
Cara meminta maaf.
Cara mencium tangan ibu.
Cara memuliakan ayah. 
Cara memuliakan serta menyayangi kakak, abang dan adik

Padahal pendidikan karakter dimulai dari rumah. Kampus hanya menyempurnakan apa yang telah dibangun keluarga.

Yang kita hadapi hari ini bukan krisis intelektual. Yang kita hadapi adalah krisis karakter. Bangsa ini tidak kekurangan lulusan terbaik. Bangsa ini tidak kekurangan profesor. Bangsa ini tidak kekurangan doktor.

Tetapi bangsa ini sedang kekurangan manusia yang amanah.

Kekurangan manusia yang jujur.

Kekurangan manusia yang tahu berterima kasih kepada guru.

Kekurangan anak-anak yang memuliakan kedua orang tuanya.

Padahal dari situlah keberkahan sebuah bangsa bermula.

Untuk Anak-Anak Bangsa...

Wahai anak-anakku...

Jangan terlalu bangga dengan angka 4,00.

Karena kehidupan tidak pernah memberikan indeks prestasi.

Yang dinilai Allah bukan IPK-mu.

Tetapi amanahmu.

Yang dikenang masyarakat bukan transkrip nilaimu.

Tetapi manfaatmu.
Hormatilah gurumu.
Peluklah ibumu.
Mintalah doa ayahmu.

Sebab boleh jadi yang mengantarkanmu menuju puncak bukan semata-mata kecerdasanmu. Melainkan keberkahan yang lahir dari kerendahan hatimu.

Ingatlah... IPK mungkin membuka pintu wawancara.

Tetapi adab membuka pintu kehidupan. Ilmu memberi jalan menuju profesi. Namun keberkahan mengantarkan seseorang menuju kemuliaan. Dan sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa bangsa tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya cerdas, tetapi oleh mereka yang cerdas sekaligus beradab.

Karena itu, jangan hanya bercita-cita menjadi sarjana yang lulus dengan nilai terbaik. Berjuanglah menjadi manusia yang lulus dalam kehidupan. Itulah wisuda yang sesungguhnya.
-------------------------------------------------------------

Tentang Penulis

Teuku Muhammad Jamil
Adalah akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), pengajar senior, peneliti, dan pengamat politik serta kebijakan publik. Selama lebih dari tiga dekade mengabdikan diri di dunia pendidikan tinggi, ia aktif menulis artikel ilmiah dan opini di berbagai media nasional maupun daerah. Baginya, pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, menanamkan adab, serta melahirkan generasi yang berintegritas, berdaya saing, dan membawa keberkahan bagi masyarakat, bangsa, dan agama.

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com