OPINI
DOSA PRIORITAS GENERASI: Ketika Orang Asing Menjadi Segalanya, Ibu dan Ayah Menjadi Sisanya
MEDIAGAJAHPUTIHNEWS.COM
WILAYAH SABANG (PULAU WEH-ACEH)
REDAKSIGPN-NEWS-DAERAH
Oleh:
- Teuku Muhammad Jamil
- Pengamat Sosial dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh
Pagi itu saya duduk di sebuah warung kopi di Aceh Besar. Aroma sanger memenuhi udara, sesekali bercampur dengan wangi kopi hitam yang baru diseduh. Di setiap sudut meja tampak anak-anak muda bercengkerama. Ada yang berdiskusi, mengerjakan tugas kuliah, menyusun rencana bisnis, ada pula yang sekadar berbincang hingga berjam-jam.
Saya tersenyum. Warkop bukanlah musuh. Sejak dahulu, warung kopi adalah denyut nadi peradaban Aceh. Di tempat seperti inilah gagasan lahir, persahabatan tumbuh, bahkan sejarah sering kali ditulis. Namun, di tengah keramaian itu, hati saya diguncang oleh sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar.
Mengapa semakin ramai warung kopi, justru semakin sunyi rumah-rumah kita?
Mengapa semakin mudah seseorang meluangkan waktu berjam-jam bersama teman, tetapi semakin sulit menyediakan beberapa menit untuk duduk menemani ibu dan ayahnya?
Inilah tragedi yang sesungguhnya. Bukan tentang warung kopi, melainkan tentang bergesernya skala prioritas kehidupan.
Krisis yang Tidak Terlihat
Bangsa ini sering berbicara tentang krisis ekonomi, politik, pendidikan, bahkan krisis lingkungan. Namun ada satu krisis yang jauh lebih berbahaya karena berlangsung diam-diam: krisis moralitas prioritas.
Generasi hari ini bukan kekurangan kecerdasan. Mereka menguasai teknologi, cepat belajar, kreatif, dan adaptif. Tetapi kecerdasan tidak selalu berjalan seiring dengan kebijaksanaan.
Di tengah derasnya arus digital, banyak anak muda tanpa sadar mulai menempatkan orang-orang yang baru hadir dalam hidupnya lebih tinggi daripada mereka yang sejak awal mempertaruhkan seluruh hidupnya demi dirinya.
Ironisnya, yang diprioritaskan sering kali adalah mereka yang belum tentu menjadi bagian dari masa depan. Sedangkan yang diabaikan adalah mereka yang telah menjadi alasan kita bisa hidup hingga hari ini.
Ketika yang Sementara Menjadi Lebih Berharga
Mari kita jujur. Mengapa seseorang rela begadang hingga dini hari hanya untuk membalas pesan seseorang yang baru dikenalnya beberapa bulan?
Tetapi merasa terlalu sibuk untuk menelepon ibunya lima menit.
Mengapa seseorang dapat menghabiskan ratusan ribu rupiah demi membahagiakan pacarnya, tetapi merasa berat ketika diminta membeli obat untuk ayahnya?
Mengapa kehilangan pasangan terasa seperti akhir dunia, sementara kehilangan waktu bersama orang tua dianggap hal biasa?
Bukankah ini sebuah ironi?
Kita sedang hidup di zaman ketika "online" lebih penting daripada “hadir”. Notifikasi telepon lebih cepat dijawab daripada panggilan ibu atau ayah
Status media sosial lebih sering diperbarui daripada kabar kepada orang tua. Padahal, orang tua tidak membutuhkan unggahan kita. Mereka hanya membutuhkan kehadiran kita.
Orang Tua Tidak Pernah Meminta Balasan
Ada satu hal yang sering dilupakan.
Ibu tidak pernah menghitung berapa malam ia tidak tidur ketika kita sakit.
Ayah tidak pernah membuat daftar tagihan atas seluruh keringat yang jatuh demi biaya sekolah kita. Tidak pernah. Mereka mencintai tanpa kontrak.
Mereka berkorban tanpa kuitansi.
Mereka memberi tanpa pernah bertanya kapan akan dikembalikan. Yang mereka harapkan ketika usia mulai menua hanyalah perhatian yang sederhana.
Duduk bersama. Bercerita. Mendengar suara anak-anaknya. Sesederhana itu. Tetapi justru kesederhanaan itulah yang hari ini menjadi barang mewah.
Islam Telah Menetapkan Skala Prioritas
Islam tidak melarang persahabatan. Islam juga tidak melarang seseorang mencintai calon pasangan hidupnya. Namun Islam telah menetapkan urutan kemuliaan.
Ridha Allah bergantung kepada ridha kedua orang tua.
Surga berada di bawah telapak kaki ibu. Ayah adalah pintu kemuliaan seorang anak. Maka sungguh aneh apabila seseorang begitu takut kehilangan pacarnya, tetapi tidak takut kehilangan doa ibunya. Begitu takut mengecewakan teman-temannya, tetapi begitu mudah mengecewakan ayahnya.
Padahal doa seorang ibu yang keluar dari hati yang terluka jauh lebih dahsyat daripada ribuan kata motivasi yang beredar di media sosial.
Hukum Kehidupan Tidak Pernah Salah
Ada satu hukum sosial yang tidak pernah gagal. Cara kita memperlakukan orang tua hari ini adalah pendidikan yang sedang kita berikan kepada anak-anak kita di masa depan. Anak-anak tidak belajar dari ceramah. Mereka belajar dari contoh.
Jika hari ini kita mengajarkan bahwa orang tua boleh diabaikan ketika sudah tua, jangan terkejut apabila suatu hari nanti kita menerima perlakuan yang sama. Karena sejarah selalu menemukan jalannya untuk berulang.
Sebelum Semuanya Terlambat
Percayalah. Akan datang suatu hari ketika telepon dari ibu tidak pernah berbunyi lagi. Akan datang suatu hari ketika kursi tempat ayah biasa duduk menjadi kosong untuk selamanya.
Saat itu kita mungkin memiliki jabatan. Memiliki rumah. Mobil. Harta. Popularitas.
Tetapi semua itu tidak mampu membeli satu menit untuk kembali mendengar suara mereka.
Penyesalan adalah barang yang paling mahal di dunia. Karena ia selalu datang ketika kesempatan telah tiada.
Penutup
Kepada generasi muda Indonesia, khususnya anak-anak Aceh, saya ingin menitipkan satu pesan.
Silakan membangun mimpi setinggi langit.
Silakan mengejar pendidikan terbaik.
Silakan mencintai pasangan hidupmu dengan cara yang bermartabat.
Silakan menikmati secangkir kopi bersama sahabat.
Tetapi jangan pernah membangun masa depan dengan mengorbankan orang-orang yang telah membangun hidupmu sejak engkau belum mampu berdiri.* Jangan pernah menukar cinta orang tua yang tulus dengan perhatian dunia yang sementara.
Karena ketika seluruh dunia meninggalkanmu, masih ada ibu yang menangis dalam sujudnya. Masih ada ayah yang diam-diam menyebut namamu dalam setiap doanya. Dan ketika keduanya telah tiada, tidak ada lagi jalan untuk mengulang waktu.
Peradaban tidak runtuh ketika gedung-gedung roboh atau jalan-jalan rusak. Peradaban runtuh ketika anak-anak berhenti memuliakan ibu dan ayahnya.
Maka, sebelum terlambat, pulanglah.
Peluk ibu. Cium tangan ayah. Mintalah maaf. Sebab keberhasilan terbesar seorang anak bukanlah tingginya jabatan yang ia raih, melainkan keridaan kedua orang tuanya yang mengantarkannya menuju keberkahan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.
-Reporter/Pers GPN Sabang News Oleh Kabiro : MJ Eric Karno
-Sumber/Rilis/Photo : Junaidi Aceh
-RedaksiDaerah : Gajah putih NEWS.com
0 Komentar