Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

DI BAWAH BAYANG-BAYANG KURSI KEKUASAAN

Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Pengamat Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala 
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh 

Media: Gajahputihnews.com
Senin, 13 Juli 2026

DI BAWAH BAYANG-BAYANG KURSI KEKUASAAN

“Catatan untuk Mereka yang Mengejar Jabatan, Bukan Amanah”

Ada yang menangis ketika gagal memperoleh jabatan. Ada pula yang menangis ketika kehilangan jabatan. Tetapi sangat sedikit yang menangis karena gagal menjaga amanah.

Barangkali, di situlah kita sedang kehilangan makna. Jabatan yang seharusnya menjadi jalan pengabdian perlahan berubah menjadi tujuan kehidupan. Orang tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan untuk lembaga ini?” Yang lebih sering terdengar justru,  “Apa yang bisa saya peroleh dari jabatan ini?”

Maka, lahirlah manusia-manusia yang tidak pernah lelah berburu kursi. Mereka tidak mengenal musim. Tidak mengenal rasa malu. Tidak mengenal batas.

Hari ini memuji seseorang. Besok memuja orang lain. Lusa bersumpah bahwa sejak awal mereka berada di pihak yang baru. Mereka berganti warna lebih cepat daripada daun yang diterpa musim.

Mereka berganti kesetiaan lebih cepat daripada arah angin. Yang mereka sembah bukan nilai. Melainkan peluang. Yang mereka kejar bukan amanah. Melainkan kemewahan. Mereka adalah peziarah yang tidak pernah menemukan rumah, sebab rumah mereka hanyalah kepentingan.

Ironisnya, mereka selalu datang membawa senyum. Senyum yang manis. Kata-kata yang lembut. Pujian yang tinggi. Namun di balik senyum itu, sering tersembunyi kalkulator.

Di balik doa itu, kadang terselip proposal. Di balik ucapan selamat, ada daftar keinginan yang menunggu ditandatangani. Mereka tidak sedang mendekati pemimpin. Mereka sedang mendekati pintu rezeki versi mereka.

Ketika pintu itu tertutup, mereka pergi tanpa pamit. Begitulah watak para pemburu kekuasaan. Mereka tidak pernah jatuh cinta kepada lembaga. Mereka hanya jatuh cinta kepada orang yang sedang berkuasa. Dan ketika kekuasaan berpindah tangan, cintanya pun ikut berpindah.

Begitu murah. Begitu ringan. Begitu cepat. Padahal jabatan adalah tempat paling sunyi di dunia. Semakin tinggi seseorang naik, semakin sedikit suara yang benar-benar jujur sampai ke telinganya.

Yang tersisa hanyalah gema pujian. Padahal gema tidak pernah menunjukkan arah. Ia hanya mengulang apa yang ingin kita dengar. Karena itu, pemimpin yang dikelilingi penjilat sesungguhnya sedang berjalan sendirian.

Ia tampak ramai. Tetapi kesepiannya sangat dalam. Sebab tidak ada lagi yang berani mengatakan bahwa ia sedang keliru. Sejarah telah berkali-kali mengajarkan, bukan musuh yang paling cepat merobohkan seorang pemimpin.

Sering kali justru tepuk tangan yang berlebihan. Sebab tepuk tangan dapat membuat seseorang lupa bahwa bumi masih ada di bawah kakinya. “Maka berhati-hatilah terhadap orang yang selalu berkata, "Bapak selalu benar.”

Sebab manusia yang selalu benar hanyalah manusia yang tidak lagi mau belajar. Dan organisasi yang kehilangan kritik sesungguhnya sedang menghitung hari menuju kemundurannya.

Wahai para pengejar jabatan... Jangan habiskan umurmu untuk mengejar kursi. Karena kursi tidak pernah mengenal siapa yang mendudukinya. Ia hanya menunggu giliran.

Hari ini milikmu.BBesok milik orang lain. Lusa mungkin hanya tinggal namamu di arsip.

Yang abadi bukanlah jabatan. Yang abadi adalah jejak. Yang dikenang bukanlah pangkat. Yang dikenang adalah manfaat.

Jangan menjadi orang yang sibuk mencari posisi, tetapi kehilangan prinsip. Jangan menjadi orang yang pandai mendekati kekuasaan, tetapi jauh dari hati nurani. Dan jangan pernah mengira semua orang yang mengelilingimu adalah sahabat.

Sebab di sekitar kekuasaan selalu ada dua jenis manusia. Mereka yang ingin membantumu memikul amanah. Dan mereka yang ingin memanfaatkan amanahmu untuk kepentingannya.

Bedanya sangat tipis. Yang pertama akan tetap bersamamu ketika jabatanmu berakhir. Dan Yang kedua akan menghilang bahkan sebelum papan namamu diturunkan.

Pada akhirnya, jabatan hanyalah persinggahan. Sedangkan kehormatan adalah perjalanan panjang. Maka janganlah menjadi pemburu jabatan. Jadilah pemburu keberkahan. Sebab kursi hanya akan mengangkat tubuhmu beberapa jengkal dari lantai.

Tetapi keikhlasan akan mengangkat derajatmu jauh melampaui usia dan masamu. Karena pada hari ketika semua papan nama telah dilepas, semua karangan bunga telah layu, dan semua pengawal telah pergi, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan yang tak pernah bisa dihindari:  “Untuk siapa sebenarnya jabatan itu dahulu engkau gunakan?”

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com