![]() |
Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Wartawan Internasional ASWIN DPD ACEH Oleh: Teuku Muhammad Jamil Pengamat Politik dan Akademisi USK Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh |
BANGSA YANG KEHILANGAN RASA MALU SEDANG MENUNGGU BENCANA: Saat Lampu Merah Tak Lagi Bermakna.
Lampu lalu lintas sesungguhnya bukan sekadar perangkat elektronik yang berganti dari merah, kuning, lalu hijau. Ia adalah simbol paling sederhana dari peradaban. Di hadapan lampu merah, negara sedang menguji karakter warganya. Yang diuji bukan kemampuan mengemudi, melainkan kemampuan mengendalikan diri.
Ironisnya, di Indonesia, semakin banyak orang yang menganggap lampu merah hanya sebagai “saran”, bukan aturan. Berhenti dianggap pilihan. Menyerobot dianggap kecerdikan. Membunyikan klakson saat orang lain mematuhi aturan dianggap keberanian. Yang disiplin justru diejek lambat. Yang melanggar malah merasa paling pintar.
Di titik inilah persoalannya tidak lagi berkaitan dengan lalu lintas. Ini adalah krisis karakter.
Saya pernah menyaksikan bagaimana masyarakat Jepang memaknai disiplin sebagai bagian dari martabat. Bahkan sering diceritakan bahwa anjing peliharaan pun berhenti ketika lampu pejalan kaki masih merah karena telah terlatih mengikuti kebiasaan pemiliknya.
Entah kisah itu selalu terjadi atau tidak, pesan moralnya jelas: jika se-ekor hewan dapat dibiasakan menghormati aturan, mengapa manusia yang mengaku berakal justru merasa terhina ketika diminta berhenti beberapa detik?
Masalah terbesar bangsa ini bukan kekurangan undang-undang. Kita memiliki UU Lalu Lintas, ETLE, kamera pengawas, hingga Operasi Patuh setiap tahun. Bahkan pada 2026, Korlantas kembali mengoptimalkan penegakan hukum berbasis ETLE untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat.
Namun hukum hanya bekerja pada perilaku yang tertangkap kamera. Karakter bekerja bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Sosiolog Emile Durkheim mengingatkan bahwa masyarakat hanya akan bertahan apabila norma dihormati bersama. Ketika norma kehilangan wibawa, lahirlah anomie keadaan ketika aturan tidak lagi dipandang mengikat. Dalam kondisi seperti itu, pelanggaran menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akhirnya dianggap budaya.
Karena itu, menerobos lampu merah bukan sekadar pelanggaran lalu lintas. Ia adalah pernyataan bahwa kepentingan pribadi lebih penting daripada hak orang lain.
Padahal semua orang sedang terburu-buru.
Tidak ada orang berhenti di lampu merah karena ingin tidur. Tidak ada pengendara membawa bantal untuk beristirahat di atas sepeda motor atau mobilnya. Semua ingin segera tiba di rumah, bertemu keluarga, atau menyelesaikan pekerjaan. Namun peradaban mengajarkan satu hal sederhana: giliran harus dihormati.
Sayangnya, sebagian masyarakat justru menganggap antre sebagai penghinaan terhadap harga diri.
Fenomena ini menunjukkan apa yang disebut Lawrence Kohlberg : sebagai kegagalan perkembangan moral. Banyak orang menaati aturan hanya jika ada polisi. Ketika polisi tidak ada, aturan dianggap hilang. Moralitas seperti ini masih berada pada tingkat paling rendah, yaitu takut terhadap hukuman, bukan sadar terhadap nilai.
Inilah sebabnya kamera ETLE terus diperbanyak, tetapi pelanggaran tetap bermunculan. Teknologi memang dapat merekam kendaraan. Namun teknologi tidak pernah mampu merekam rasa malu.
Data kepolisian sendiri menunjukkan pelanggaran lalu lintas masih menjadi perhatian serius, sehingga Operasi Patuh terus dilakukan untuk menekan pelanggaran dan angka kecelakaan.
Sesungguhnya, yang sedang kita hadapi adalah kemiskinan etika publik.
Orang mudah menyalahkan pemerintah, tetapi enggan mengoreksi dirinya sendiri. Menuntut pelayanan kelas dunia, namun membuang sampah sembarangan. Menginginkan jalan bebas macet, tetapi menerobos lampu merah. Menuntut negara maju, tetapi menolak disiplin yang menjadi syarat utama kemajuan.
Bangsa ini sering berbicara tentang revolusi mental. Padahal revolusi mental tidak dimulai dari ruang seminar, bukan pula dari pidato para pejabat.
Ia dimulai ketika seseorang memilih berhenti di lampu merah meskipun jalan sedang kosong.
Peradaban tidak dibangun oleh proyek-proyek raksasa. Peradaban dibangun oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mungkin karena itulah kita sering gagal membedakan antara kemajuan dan pembangunan: Kita mampu membangun jalan layang, tetapi belum tentu mampu membangun kesadaran. Kita mampu membeli kamera pengawas paling canggih, tetapi belum tentu mampu menumbuhkan hati nurani.
Bangsa yang kehilangan disiplin perlahan kehilangan rasa hormat. Bangsa yang kehilangan rasa hormat akhirnya kehilangan keadilan. Dan bangsa yang kehilangan keadilan sedang berjalan menuju kemunduran, meskipun gedung-gedungnya semakin tinggi.
Lampu merah sesungguhnya sedang mengajarkan filsafat yang sangat sederhana.
Berhentilah sejenak agar semua orang dapat bergerak bersama.
Apabila pelajaran sesederhana ini saja gagal kita pahami, jangan heran apabila kemacetan bukan hanya terjadi di jalan raya, tetapi juga dalam cara berpikir, cara memimpin, bahkan dalam perjalanan bangsa menuju negara yang benar-benar beradab.
Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan untuk sebuah bangsa yang mengaku dirinya berperadaban.

0 Komentar