Breaking News

Listrik Padam Berulang di Banda Aceh dan Aceh Besar, Prof TM Jamil Soroti Buruknya Pelayanan Publik

Prof. Dr. TM Jamil, Drs., M.Si

Media: Gajahpurihnews.com
Sabtu, 23 Mei 2026
Pewarta: Junaidi Ulka 

Listrik Padam Berulang di Banda Aceh dan Aceh Besar, Prof TM Jamil Soroti Buruknya Pelayanan Publik

BANDA ACEH — Tokoh masyarakat sekaligus akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. TM Jamil, Drs., M.Si, mengkritik keras pemadaman listrik berulang yang terjadi selama dua hari terakhir di kawasan Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, serta Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. Bahkan, berdasarkan informasi yang diterima masyarakat, gangguan listrik juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera.

Menurut Prof. TM Jamil, kondisi listrik yang terus mengalami gangguan dengan pola “mati-hidup” tidak lagi dapat dianggap sebagai persoalan teknis biasa. 

Ia menilai situasi tersebut telah mengarah pada bentuk kelalaian pelayanan publik yang merugikan masyarakat secara luas.

“Yang membuat masyarakat marah bukan hanya listrik padam, tetapi sikap diam dan minimnya penjelasan kepada publik. Rakyat tidak butuh pembiaran. Rakyat butuh kepastian, keterbukaan, dan tanggung jawab,” kata TM Jamil di Banda Aceh.

Ia menegaskan, listrik saat ini merupakan kebutuhan dasar yang sangat menentukan aktivitas masyarakat modern. 

Pemadaman yang terjadi berulang kali disebut berdampak langsung terhadap proses belajar anak-anak, aktivitas usaha kecil, pelayanan publik, hingga kerusakan perangkat elektronik warga akibat arus listrik yang tidak stabil.

“Anak-anak belajar dalam gelap, pelaku usaha mengalami kerugian, perangkat elektronik warga rusak akibat listrik yang hidup-mati, tetapi seolah tidak ada rasa urgensi untuk menjelaskan kepada masyarakat apa yang sebenarnya terjadi. Ini tidak boleh dianggap normal,” ujarnya.

TM Jamil juga menyoroti lemahnya komunikasi publik dari pihak penyedia layanan. Menurutnya, dalam sistem pelayanan publik yang baik, setiap gangguan layanan harus disertai informasi yang terbuka, permintaan maaf kepada masyarakat, serta langkah cepat penanganan.

Ia meminta pihak PLN segera memberikan penjelasan resmi terkait penyebab gangguan listrik, langkah penanganan yang sedang dilakukan, serta estimasi waktu pemulihan agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian.

“Jangan sampai rakyat merasa bahwa suara mereka hanya penting ketika menjadi pelanggan, tetapi diabaikan ketika mereka menjadi korban pelayanan yang buruk. Pelayanan publik harus punya empati, bukan sekadar prosedur,” tegasnya.

TM Jamil menambahkan, masyarakat Aceh tidak menuntut hal berlebihan. Mereka hanya meminta hak dasar berupa pasokan listrik yang stabil, pelayanan yang manusiawi, serta informasi yang jujur dan transparan.

“Atas kondisi ini, saya meminta agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti secara serius. Jangan biarkan masyarakat terus menjadi korban dari lemahnya komunikasi dan lambannya respons pelayanan publik,” pungkasnya.

© Copyright 2022 - gajah putih News.com