Breaking News

JANGAN SALAH PILIH DEKAN : MASA DEPAN USK DAN ACEH SEDANG DIPERTARUHKAN


By redaksi: GPNews 
Senin, 1 Juni 2026
Editor: Junaidi Ulka 

Oleh 
Teuku Muhammad Jamil 
Akademisi Senior Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh 

OPINI

JANGAN SALAH PILIH DEKAN : MASA DEPAN USK DAN ACEH SEDANG DIPERTARUHKAN

“Merespons Gagasan Prof. Apridar tentang Profesionalisme Calon Dekan USK

Gagasan Prof. Apridar dalam tulisannya “Calon Dekan USK Kedepan Harus Profesional” yang dimuat Harian Rakyat Aceh patut diapresiasi sebagai bagian dari ikhtiar intelektual untuk memastikan proses pemilihan dekan di Universitas Syiah Kuala (USK) menghasilkan pemimpin yang mampu membawa fakultas dan universitas menuju kemajuan.

Profesionalisme memang syarat penting. Tidak ada lembaga pendidikan tinggi yang dapat berkembang tanpa pemimpin yang memahami tata kelola organisasi, perencanaan, penganggaran, manajemen sumber daya manusia, serta pengelolaan akademik yang baik.

Namun pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah : apakah profesionalisme saja cukup ?

Menurut saya, jawabannya tidak.

USK hari ini tidak sedang menghadapi persoalan administratif semata. USK sedang berada pada momentum sejarah yang sangat menentukan. Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH), USK dituntut menjadi pusat inovasi, penggerak pembangunan daerah, penghasil sumber daya manusia unggul, sekaligus motor perubahan sosial dan ekonomi Aceh.

Dalam situasi seperti ini, dekan yang dibutuhkan bukan sekadar administrator yang pandai mengelola surat-menyurat, menyusun anggaran, atau memimpin rapat rutin. USK membutuhkan pemimpin akademik yang mampu membaca perubahan zaman, memahami arah kebijakan universitas, serta memiliki keberanian melakukan transformasi.

Karena itu, pemilihan atau penunjukan dekan tidak boleh dipahami sekadar sebagai pergantian pejabat struktural lima tahunan. Jabatan dekan bukan ruang prestise akademik dan bukan pula penghargaan atas senioritas seseorang.

Dekan adalah posisi strategis yang menentukan kualitas lulusan, arah penelitian, budaya akademik, regenerasi kepemimpinan, serta kontribusi fakultas terhadap pembangunan Aceh.

Dengan kata lain, dekan bukan sekadar pengelola fakultas. Dekan adalah arsitek masa depan.

Membaca Visi Rektor, Bukan Berjalan Sendiri

Terpilihnya Prof. Dr. Mirza Tabrani sebagai Rektor USK membawa harapan besar terhadap lahirnya transformasi baru dalam tata kelola universitas.

Visi besar rektor tidak akan pernah berhasil jika tidak diterjemahkan secara efektif oleh para dekan di tingkat fakultas.

Karena itu, dekan yang akan dipilih harus mampu membaca arah pembangunan USK ke depan. Mereka harus memahami bahwa fakultas bukan kerajaan kecil yang berjalan sendiri-sendiri. Fakultas adalah bagian dari ekosistem besar universitas.

Jika rektor berbicara tentang internasionalisasi, maka dekan harus mampu membangun jejaring akademik global.

Jika rektor berbicara tentang hilirisasi riset, maka dekan harus mampu menghubungkan penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Jika rektor berbicara tentang transformasi digital, maka dekan harus mampu mengubah budaya kerja fakultas menjadi lebih modern cepat dan efesien.

Tanpa kemampuan menerjemahkan visi rektor, fakultas akan berjalan tanpa arah yang jelas dan transformasi universitas hanya akan menjadi slogan.

Bahaya Dekan Pengelola Rutinitas

Salah satu penyakit kronis banyak perguruan tinggi di Indonesia adalah lahirnya pemimpin yang terlalu sibuk mengurus rutinitas birokrasi tetapi miskin gagasan besar.

Energi habis untuk urusan administratif, sementara inovasi dan terobosan nyaris tidak tidak terlihat.

Padahal dunia pendidikan tinggi sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Kecerdasan buatan, digitalisasi, ekonomi berbasis pengetahuan, disrupsi pasar kerja, hingga kompetisi global telah mengubah wajah pendidikan dunia.

Fakultas yang masih dikelola dengan pola pikir dua puluh tahun lalu akan menghasilkan lulusan yang tertinggal dari kebutuhan zaman.

Karena itu, USK membutuhkan dekan yang visioner. Pemimpin yang tidak hanya mampu menjaga sistem berjalan, tetapi juga mampu menciptakan sistem baru yang lebih relevan dengan masa depan.

Fakultas Harus Menjadi Pusat Solusi Aceh

Aceh masih menghadapi berbagai persoalan mendasar.

Kemiskinan masih menjadi tantangan serius. Kualitas pendidikan belum menunjukkan lompatan yang signifikan. Lapangan kerja terbatas. Daya saing ekonomi daerah masih rendah. Inovasi industri belum berkembang optimal.

Dalam kondisi seperti itu, universitas tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari realitas masyarakat.

Fakultas-fakultas di USK harus hadir sebagai pusat solusi.

Penelitian yang dibiayai miliaran rupiah tidak boleh berhenti di rak perpustakaan atau sekadar menjadi angka dalam laporan kinerja. Pengabdian kepada masyarakat tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial dan laporan administratif.

Kehadiran kampus harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dekan yang dibutuhkan adalah mereka yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan rakyat Aceh. Mereka yang memahami bahwa keberhasilan fakultas tidak hanya diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap penyelesaian persoalan daerah.

Integritas Lebih Penting dari Sekadar Profesionalisme

Dalam banyak kasus, kehancuran sebuah institusi bukan disebabkan oleh kurangnya orang pintar.

Justru sering kali kerusakan muncul karena pemimpinnya kehilangan integritas.

Profesionalisme tanpa integritas hanya akan melahirkan birokrat yang cakap secara teknis tetapi miskin keteladanan moral.

Kampus tidak boleh menjadi arena transaksi kekuasaan.

Kampus tidak boleh dikuasai oleh politik kelompok.

Kampus tidak boleh dikelola berdasarkan balas jasa, kedekatan personal, atau kepentingan jaringan tertentu.

Dekan harus hadir sebagai pemimpin seluruh civitas akademika, bukan representasi kelompok mana pun.

USK membutuhkan figur yang dihormati karena kapasitas, integritas, keadilan, dan keberaniannya mengambil keputusan yang benar, bukan karena kekuatan jaringan politiknya.

Membangun Regenerasi Akademik

Tantangan besar lain yang dihadapi banyak perguruan tinggi adalah stagnasi regenerasi kepemimpinan.

Nama yang muncul sering kali nama yang sama. Lingkaran yang berkuasa tetap berputar pada orang-orang yang sama. Ruang tumbuh bagi generasi baru menjadi sempit.

Akibatnya, inovasi berjalan lambat dan organisasi kehilangan energi pembaruan.

membangun regenerasi akademik yang sehat.USK membutuhkan dekan yang mampu 

Pemimpin yang membuka ruang bagi dosen muda, peneliti muda, dan talenta-talenta baru untuk berkembang.

Kampus besar tidak dibangun oleh satu generasi. Kampus besar dibangun melalui estafet kepemimpinan yang sehat, berkelanjutan, dan berbasis meritokrasi.

USK Sedang Menentukan Arah Masa Depan

Pemilihan dekan yang akan berlangsung di lingkungan USK bukanlah agenda administratif biasa. Ini adalah momentum menentukan arah masa depan universitas.

Karena itu, ukuran keberhasilan seorang calon dekan tidak boleh hanya dilihat dari kemampuan mengelola birokrasi atau menyusun program kerja.

Yang lebih penting adalah kemampuan membaca perubahan dunia, memahami visi rektor, menjaga integritas kelembagaan, membangun regenerasi akademik, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat Aceh.

USK tidak sedang mencari pengurus fakultas.

USK tidak sedang mencari administrator kampus. USK sedang mencari para pemimpin yang mampu melahirkan gagasan besar, membangun tradisi akademik yang kuat, dan mengubah ilmu pengetahuan menjadi kekuatan peradaban.

Sebab pada akhirnya, masa depan Aceh tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memimpin pemerintahan, tetapi juga oleh siapa yang memimpin kampus.

Dan dari ruang-ruang fakultas itulah, masa depan Aceh akan ditentukan.

Pojok Kampus USK, 01 Juni 2026

© Copyright 2022 - gajah putih News.com