Breaking News

Indahnya Idul Adha dan Lezatnya ‘Daging Kurban’ dalam Membangun Ekonomi Ummat

Prof. Dr. TM. Jamil, Drs., M.Si

Media Gajahputihnews.com
Selasa, 26 Mei 2026
Editorial redaksi 

Oleh :
Teuku Muhammad Jamil
Akademisi dan Pengamat Sosial Politik, Universitas Syiah Kuala

OPINI

Indahnya Idul Adha dan Lezatnya ‘Daging Kurban’ dalam Membangun Ekonomi Ummat

“Ketika Ibadah Tidak Hanya Mengenyangkan Perut, Tetapi Juga Menghidupkan Martabat Sosial dan Keadilan Ekonomi”

Hari Raya ‘Idul Adha sesungguhnya bukan hanya tentang gema takbir, aroma sate yang mengepul, atau ramainya pembagian daging kurban di sudut-sudut kampung. Lebih dari itu, ‘Idul Adha adalah momentum spiritual, sosial, ekonomi, sekaligus peradaban. Ia adalah peristiwa kolektif umat yang menyatukan dimensi langit dan bumi: antara ketaatan kepada Allah dan tanggung jawab terhadap sesama manusia.

Di tengah dunia yang semakin individualistik, materialistik, dan penuh kesenjangan sosial, ibadah kurban justru menghadirkan pesan yang sangat revolusioner : bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan orang-orang mampu.

Daging kurban bukan sekadar makanan, tetapi simbol distribusi keadilan sosial. Ia menjadi bahasa kemanusiaan yang paling sederhana namun paling menyentuh: “aku kenyang, maka engkau juga harus merasakan kenyang.”

Ironisnya, di era modern hari ini, ketika angka pertumbuhan ekonomi terus dipamerkan di layar-layar statistik, masih banyak rakyat kecil yang bahkan hanya bisa menikmati daging setahun sekali, yakni saat ‘Idul Adha. 

Ini bukan sekadar fakta sosial, tetapi alarm moral tentang ketimpangan ekonomi yang masih akut di negeri yang kaya sumber daya ini.

Karena itu, ‘Idul Adha seharusnya tidak berhenti pada ritual seremonial tahunan. Ia harus dibaca sebagai gerakan ekonomi umat. Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi penyembelihan keserakahan, egoisme, dan ketidakpedulian sosial yang selama ini melumpuhkan rasa solidaritas kebangsaan.

Dalam perspektif ekonomi Islam, distribusi memiliki nilai yang sama pentingnya dengan produksi. Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencari kekayaan, tetapi juga bagaimana kekayaan itu mengalir secara bermartabat kepada masyarakat luas. 

Di sinilah kurban memainkan fungsi sosial-ekonomi yang sangat strategis. Perputaran uang dalam momentum kurban melibatkan peternak, pedagang pakan, sopir angkutan, tukang jagal, pedagang rempah, pelaku UMKM kuliner, hingga masyarakat kecil penerima manfaat. Kurban sesungguhnya menciptakan “ekosistem ekonomi kerakyatan” yang sangat nyata.

Sayangnya, banyak kebijakan ekonomi negara hari ini justru lebih berpihak kepada kapital besar dibanding ekonomi ummat.

Peternak lokal sering kalah bersaing dengan impor, pasar tradisional makin terpinggirkan, sementara rakyat kecil hanya dijadikan objek statistik kemiskinan tanpa pemberdayaan yang serius. Dalam konteks ini, semangat kurban mestinya menjadi kritik moral terhadap sistem ekonomi yang terlalu rakus pada pertumbuhan, tetapi miskin keadilan distribusi.

Kita sering membanggakan pembangunan gedung-gedung megah, jalan-jalan besar, dan proyek-proyek triliunan rupiah. Namun, pembangunan yang gagal menghadirkan rasa keadilan sosial pada akhirnya hanya akan melahirkan kecemburuan, kemarahan, dan keterasingan sosial. 

Peradaban tidak diukur dari tingginya bangunan, tetapi dari seberapa besar keberpihakan kepada mereka yang lemah.

Filsuf besar Aristoteles pernah mengingatkan bahwa tujuan negara bukan sekadar membuat rakyat hidup, tetapi membuat rakyat hidup baik dan bermartabat.

Dalam Islam, prinsip itu bahkan jauh lebih luhur: manusia terbaik adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka kurban sejatinya adalah pendidikan moral tentang empati sosial dan keberanian berbagi di tengah budaya pamer dan konsumerisme yang semakin brutal.

Hari ini, kita hidup di zaman ketika sebagian orang dengan mudah menghabiskan jutaan rupiah untuk gaya hidup, tetapi merasa berat membantu tetangga yang kesulitan makan. 

Kita hidup di era ketika media sosial penuh dengan pencitraan kesalehan, namun kosong dari kepedulian sosial yang nyata. Padahal, esensi ‘Idul Adha bukanlah pada seberapa mahal hewan kurban kita, tetapi seberapa besar ketulusan dan keberpihakan kita kepada sesama manusia.

Lebih menyedihkan lagi, agama kadang hanya diperlakukan sebagai ritual simbolik tanpa daya transformasi sosial. Masjid ramai, tetapi kemiskinan tetap tinggi.

Ceramah agama bergema di mana-mana, tetapi korupsi, ketidakadilan, dan kerakusan tetap tumbuh subur. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas kita sering gagal melahirkan kesadaran sosial yang otentik.

Karena itu, ‘Idul Adha harus menjadi momentum refleksi nasional: apakah agama benar-benar telah membangun solidaritas sosial, atau hanya berhenti pada seremoni keagamaan tahunan? Apakah kurban hanya menjadi agenda foto dan publikasi, atau sungguh menjadi gerakan pemberdayaan ekonomi ummat?

Kita membutuhkan paradigma baru dalam memaknai kurban. Kurban harus diarahkan menjadi instrumen penguatan ekonomi rakyat berbasis masjid, gampong, pesantren, dan komunitas lokal. Negara juga harus hadir memperkuat peternak kecil, membangun rantai distribusi yang sehat, serta memastikan ekonomi rakyat tidak kalah oleh oligarki pasar.

Sebab sesungguhnya, kelezatan daging kurban bukan hanya terletak pada rasanya, tetapi pada nilai keadilan dan cinta kasih yang menyertainya. Ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli ketika seorang anak yatim tersenyum menerima daging kurban, ketika keluarga miskin merasa dihargai sebagai manusia, dan ketika masyarakat merasakan bahwa agama hadir membela kehidupan mereka.

Di situlah indahnya ‘Idul Adha.

Ia mengajarkan bahwa ibadah tertinggi bukan hanya hubungan dengan Tuhan, tetapi juga keberanian memuliakan manusia.

Dan di situlah pula makna terdalam kurban: menghadirkan keadilan sosial sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.

Sagoe Cot Irie, 09 Zulhijjah 1447-H

© Copyright 2022 - gajah putih News.com