Breaking News

ACEH DI PERSIMPANGAN HUJAN DAN KESADARAN


By redaksi GPNEWS 
Editor: Ali Gondrong 

ACEH DIPERSIMPANGAN HUJAN DAN KESADARAN

Dari Bencana Menuju Kebangkitan Peradaban Spiritual-Ekologis

By Muslahuddin Daud

Ketika hujan turun deras di Aceh dan sungai meluap melampaui ingatan, ketika tanah runtuh dan bukit kehilangan pijakannya, sesungguhnya bukan hanya rumah yang hanyut. Ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang diguncang: kesadaran kolektif.

Aceh bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang sejarah, ruang syariat, ruang luka, dan ruang kebangkitan. Tanah ini pernah diguncang konflik, dihantam tsunami, dan kini berulang kali diuji oleh banjir dan longsor. Setiap ujian selalu membawa pertanyaan yang sama:

  • Apakah ini sekadar fenomena alam?
  • Apakah ini teguran Ilahi?
  • Apakah ini akibat kelalaian manusia?
  • Ataukah semua itu sekaligus?

Tulisan ini adalah upaya membaca bencana secara utuh dari sisi syariat hingga makrifat, dari analisis ekologis hingga manifesto kebangkitan.

I. MEMBACA BENCANA SEBAGAI AYAT

Dalam pandangan sufistik, tidak ada peristiwa yang kosong makna. Segala sesuatu adalah ayat — tanda. Sebagian tertulis dalam kitab, sebagian tertulis dalam kejadian.

Banjir dan longsor bisa dijelaskan secara ilmiah:

  • Curah hujan ekstrem.
  • Deforestasi.
  • Perubahan tata ruang.
  • Erosi tanah dan rusaknya daerah aliran sungai.

Secara ekologis, bencana adalah bagian dari mekanisme keseimbangan bumi. Alam memiliki hukumnya sendiri. Ketika hutan hilang, air mencari jalannya. Ketika tanah kehilangan akar penahannya, ia runtuh.

Namun pertanyaannya tidak berhenti di situ.

  • Mengapa kerentanan itu terjadi?
  • Mengapa manusia membangun tanpa mempertimbangkan daya dukung?
  • Mengapa izin eksploitasi sering kali mengalahkan keselamatan jangka panjang?

Di sini bencana bukan hanya fenomena alam. Ia adalah pertemuan antara hukum bumi dan keputusan manusia.

II. SYARIAT: AMANAH YANG HARUS DITEGAKKAN

Dalam syariat, manusia adalah khalifah. Artinya penjaga, bukan penguasa absolut.

Menebang tanpa perhitungan adalah pelanggaran amanah.

Membangun tanpa kajian risiko adalah kelalaian.

Membiarkan tata kelola lemah adalah bentuk ketidakadilan.

Syariat bukan hanya tentang ibadah ritual, tetapi tentang keadilan sosial dan ekologis. Jika hukum ditegakkan hanya pada aspek moral pribadi, tetapi lemah pada tata kelola lingkungan, maka syariat kehilangan ruhnya.

Bencana menjadi cermin:

apakah agama telah menjadi sistem nilai yang menjaga kehidupan, atau sekadar identitas simbolik?

III. TARIQAT: JIWA YANG TERBELENGGU ATAU TERBEBASKAN

Aceh dikenal religius. Namun religiusitas tidak otomatis melahirkan kesadaran. Jika agama hanya melahirkan kepatuhan tanpa pemahaman, ia bisa membekukan daya kritis. Jika dogma lebih kuat dari hikmah, maka empati terhadap alam bisa terabaikan.

Tariqat mengajarkan bahwa agama adalah perjalanan penyucian jiwa. Jiwa yang bersih akan lembut terhadap tanah dan air. Jiwa yang sadar akan melihat hutan sebagai amanah, bukan komoditas.

Bencana mengguncang bukan hanya rumah, tetapi cara kita beragama.

Apakah kita beragama untuk membela kehidupan, atau sekadar mempertahankan simbol?

IV. HAKIKAT: KESEIMBANGAN SEBAGAI HUKUM SEMESTA

Pada tingkat hakikat, kita memahami bahwa bencana dan kestabilan bukan lawan. Keduanya bagian dari mekanisme keseimbangan. Ketika manusia keluar dari batas, alam merespons. Bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyeimbangkan. Masalahnya, proses penyeimbangan itu terasa sebagai penderitaan.

Di sini kita melihat bahwa yang tidak stabil sering kali bukan alam, melainkan pola pembangunan dan orientasi ekonomi. Jika pertumbuhan selalu mengorbankan daya dukung, maka krisis hanyalah soal waktu.

V. MAKRIFAT: MEMBUKA HIJAB KOLEKTIF

Apakah mudharat lebih besar daripada manfaat?

Secara material, kerugian sangat besar. Tetapi makrifat mengajarkan bahwa setiap peristiwa membuka hijab.

Hijab kesombongan bahwa manusia mampu mengendalikan segalanya.

Hijab ilusi bahwa sistem kita sudah aman.

Hijab keyakinan bahwa agama cukup tanpa pembaruan kesadaran.

Jika setelah bencana tidak ada transformasi, maka penderitaan menjadi sia-sia. Tetapi jika ia melahirkan reformasi struktural dan kebangkitan kesadaran, maka ia menjadi titik balik sejarah.

MENUJU KEBANGKITAN ACEH

Aceh kini berada di persimpangan: mengulang siklus kelalaian atau melahirkan peradaban baru. Kebangkitan yang dibutuhkan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi kebangkitan empat dimensi sekaligus.

1. Kebangkitan Spiritual

  • Agama harus melahirkan etika ekologis.
  • Masjid menjadi pusat literasi lingkungan.
  • Ulama dan intelektual berbicara tentang amanah bumi.
  • Syariat hidup dalam kebijakan.
  • Tariqat hidup dalam empati.
  • Hakikat hidup dalam kebijaksanaan.
  • Makrifat hidup dalam kerendahan hati.

2. Kebangkitan Ekologis

  • Reformasi tata ruang berbasis daya dukung alam.
  • Perlindungan hutan dan DAS secara konsisten.
  • Transparansi izin dan pengawasan publik.
  • Rehabilitasi ekologis jangka panjang.

Aceh harus membangun dengan ilmu, bukan sekadar ambisi.

3. Kebangkitan Struktural

  • Pemerintahan harus berbasis data dan visi jangka panjang.
  • Perencanaan 20–50 tahun ke depan menjadi keharusan.
  • Bencana tidak lagi ditangani secara reaktif, tetapi preventif.

4. Kebangkitan Pendidikan

  • Generasi muda harus memahami bahwa menjaga alam adalah ibadah.
  • Kurikulum integratif agama dan sains lingkungan menjadi kebutuhan.
  • Literasi bencana menjadi budaya.

SUMPAH KESADARAN ACEH

  • Kami tidak akan membaca bencana hanya sebagai takdir tanpa introspeksi.
  • Kami tidak akan memisahkan agama dari tanggung jawab ekologis.
  • Kami tidak akan membiarkan pembangunan mengorbankan masa depan.
  • Aceh memilih menjadi penjaga keseimbangan.
  • Jika tanah ini sering diguncang, mungkin bukan karena ia lemah, tetapi karena ia sedang dipersiapkan untuk naik tingkat.
  • Bencana bisa menjadi pengulangan.
  • Atau bisa menjadi kebangkitan.
  • Dan kebangkitan selalu dimulai dari kesadaran.

© Copyright 2022 - gajah putih News.com