Isa Alima dan T.A. Sakti Menyulam Ingatan Aceh, Menghidupkan Kembali Majun Aceh
Mediagajahputihnews.com | Wilayah Pulau Weh (Sabang)
GPN-News | BANDA ACEH - 9 Januari 2026 Di sebuah rumah yang tenang di kawasan Tanjong Selamat, Darussalam, Banda Aceh, dua anak negeri bertemu dalam suasana silaturahmi yang hangat dan penuh makna. Drs. M. Isa Alima bersua dengan T.A. Sakti, dosen sejarah kawakan Aceh, penulis, sekaligus penjaga ingatan panjang peradaban Tanah Rencong,Kamis,8 Januari 2026.
Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu bukan sekadar temu kangen. Ia menjelma menjadi ruang tafakur, membentang dari Aceh masa lalu, Aceh hari ini, hingga Aceh yang sedang dicita-citakan untuk masa depan. Percakapan mengalir perlahan, namun dalam, seperti sungai yang menyimpan kisah di setiap lekuknya.
Dari sekian banyak topik yang dibahas, satu hal mencuat dan menyita perhatian serius: Obat Tradisional Aceh yang nyaris terlupakan, Majun Aceh.
Majun Aceh, dalam catatan sejarah dan ingatan kolektif masyarakat, pernah menjadi ramuan yang masyhur. Ia dikenal mujarab, diracik dari herbal murni tanpa sentuhan unsur kimia. Sebuah warisan pengobatan tradisional yang lahir dari kearifan alam dan ketelitian leluhur, sehingga diyakini minim efek samping dan sarat manfaat.
“Ini bukan sekadar obat, ini identitas,” mengemuka dalam perbincangan. Majun Aceh adalah bukti bahwa Aceh pernah berdiri tegak dengan pengetahuan kesehatan yang mandiri, berakar, dan berdaulat.
Isa Alima dan T.A. Sakti sepakat, sudah saatnya Majun Aceh tidak hanya dikenang, tetapi dikembangkan dan dilestarikan kembali, bukan sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai bagian dari masa depan Aceh yang berdaulat secara budaya dan kesehatan.
Dalam lintasan sejarah, disebut pula sosok legendaris Panghab Keumire (Panglima Abdul Wahab), tokoh yang dikenal sangat ahli dalam mengolah Majun Aceh pada masanya. Nama itu kembali dihidupkan dalam percakapan, seperti obor kecil yang menyala di tengah gelapnya lupa.
T.A. Sakti sendiri bukan sosok sembarangan dalam dunia kebudayaan Aceh. Ia adalah penerima Anugerah Budaya “Tajul Alam” dari Pemerintah Aceh pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) V tahun 2009, sebuah pengakuan atas dedikasinya menjaga dan menuliskan sejarah Aceh dengan jujur dan bernurani.
Silaturahmi itu pun berakhir tanpa gegap gempita, namun meninggalkan getar yang panjang. Sebab dari ruang tamu sederhana itu, lahir sebuah tekad: Aceh tidak boleh kehilangan ingatannya, dan tidak boleh malu pada warisan leluhurnya sendiri.
Majun Aceh, yang dulu pernah berjaya, mungkin sedang menunggu waktu untuk kembali bukan hanya sebagai obat bagi tubuh, tetapi juga sebagai benawar luka lupa bagi sebuah bangsa.
~Pers GPN Sabang News Oleh Kabiro -Eric Karno
~Sumber -Isa Alima Aceh
Social Header
Kontributor