![]() |
| Hingga pertengahan Januari 2026, sebanyak 155.193 jiwa atau sekitar 49.800 kepala keluarga (KK) dilaporkan masih berada di pengungsian dan belum dapat kembali ke rumah masing-masing. Ali Gondrong |
Banjir Besar Aceh: Lebih dari 155 Ribu Warga Masih Mengungsi hingga Januari 2026
GPNEWS.COM|BANDA ACEH - Bencana banjir besar yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh pada akhir November 2025 masih meninggalkan dampak serius bagi masyarakat.
Hingga pertengahan Januari 2026, sebanyak 155.193 jiwa atau sekitar 49.800 kepala keluarga (KK) dilaporkan masih berada di pengungsian dan belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Data tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Posko Penanganan Bencana Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin, pada Rabu, 14 Januari 2026.
Ia menjelaskan bahwa para pengungsi saat ini tersebar di 988 titik pengungsian yang berada di berbagai kabupaten dan kota di Aceh.
“Jumlah pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Aceh Utara, yakni mencapai 67.876 jiwa,” ujar Murthalamuddin.
Selain Aceh Utara, wilayah lain dengan jumlah pengungsi cukup besar antara lain Aceh Tamiang sebanyak 26.040 jiwa, Gayo Lues 19.906 jiwa, serta Pidie Jaya dengan 14.794 jiwa.
Sementara itu, Aceh Timur mencatat 8.507 jiwa pengungsi, Aceh Tengah 8.021 jiwa, Bireuen 5.895 jiwa, Bener Meriah 2.116 jiwa, dan Nagan Raya 1.763 jiwa.
Bahkan di wilayah perkotaan, dampak banjir masih dirasakan. Kota Lhokseumawe tercatat masih menampung 138 jiwa pengungsi, sementara Kabupaten Pidie sebanyak 137 jiwa.
Puluhan Ribu Rumah Terdampak, Ribuan Rusak Berat
Tidak hanya menyebabkan pengungsian massal, banjir besar tersebut juga mengakibatkan kerusakan signifikan pada permukiman warga. Berdasarkan laporan sementara, sebanyak 148.819 unit rumah terdampak banjir di berbagai daerah di Aceh.
Kerusakan rumah bervariasi, mulai dari 64.740 unit mengalami rusak ringan, 40.114 unit rusak sedang, hingga 29.755 unit rusak berat atau terdampak sangat parah.
Kondisi ini memaksa ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan harus bertahan di pengungsian dalam waktu yang cukup lama.
“Dari pendataan terbaru, tercatat sebanyak 14.210 unit rumah mengalami rusak berat dan 1.942 unit rumah dilaporkan hilang akibat terjangan banjir,” jelas Murthalamuddin.
Percepatan Huntara dan Persiapan Huntap
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah bersama unsur terkait terus mengintensifkan upaya pemulihan pascabencana.
Salah satu langkah prioritas yang dilakukan adalah percepatan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hilang, agar para pengungsi dapat segera meninggalkan tenda-tenda darurat.
Selain itu, pemerintah juga mulai menyiapkan pembangunan hunian tetap (huntap) sebagai solusi jangka panjang bagi masyarakat terdampak.
Pembangunan huntap ini direncanakan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kelayakan hunian, serta mitigasi risiko bencana di masa mendatang.
“Pemerintah berkomitmen memastikan proses pemulihan berjalan secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga masyarakat terdampak dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan hunian yang lebih layak dan aman,” pungkas Murthalamuddin.
Bencana banjir besar ini sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya penguatan sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di Aceh, mengingat wilayah ini rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem.

Social Header
Kontributor