Breaking News

Peranan FPI dalam Evakuasi Korban Tsunami Aceh

 


Banda Aceh, 24/12/2024

Gempa bumi yang disusul gelombang tsunami raksasa menghantam bumi Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Menurut buku "Dahsyatnya Tsunami Aceh" yang ditulis Yusuf Al-Qardhawy Al-Asyi, bencana alam ini sudah terjadi di Aceh sebanyak 11 kali, bahkan lebih dari jumlah itu.

Bencana tsunami Aceh yang lalu sudah 20 tahum berlalu. Korban yang meninggal pun tidak tanggung-tanggung mencapai angka 200 ribu lebih, belum termasuk yang luka-luka dan hilang.

Pada saat bencana yang menggugah dunia internasional tersebut, muncul simpati lebih 100 negara yang ikut membantu Aceh dengan aneka bantuan. Di dalam negeri sejak tsunami menerjang Aceh,  sekitar 1200 laskar Front Pembela Islam (FPI) yang dipimpin langsung oleh Habib Rizieq Syihab ikut evakuasi mayat-mayat tsunami khususnya di Banda Aceh dan Aceh Besar.

Foto: beberapa laskar FPI sedang mencari mayat korban tsunami di sekitar Banda Aceh.

Ketua Umum FPI saat itu adalah Habib Rizieq Syihab (HRS). HRS bersama istri, Syarifah Fadhlun telah berada di Aceh awal Januari 2005. Mereka tinggal di Komplek Makam Taman Pahlawan Peuniti selama lebih kurang empat bulan. 

Foto: HRS (baju dan peci putih) sedang evakuasi mayat bersama anggota FPI lainnya.

Salah satu saksi mata yang ikut langsung evakuasi korban tsunami Aceh bersama laskar FPI adalah Yusuf Al-Qardhawy. Ia selama 4 bulan ikut bersama evakuasi jenazah tsunami di Banda Aceh dan Aceh Besar. 

"Saya salah satu warga Aceh yang ikut langsung evakuasi korban tsunami di Banda Aceh dan Aceh Besar bersama Habib Rizieq Syihab. Selama kurang lebih empat bulan evakuasi bersama Habib dan istrinya," ujar Yusuf.

Yusuf melihat langsung Habib Rizieq dan laskar FPI terjun ke rawa-rawa mengambil mayat tsunami Aceh.

"Saya juga lihat langsung bagaimana Habib Rizieq dan anggotanya ambil mayat di rawa-rawa yang penuh air sampai batas dada mereka. Laskar FPI betul-betul tulus membantu mayat-mayat bangsa Aceh. Mereka datang dari berbagai daerah di tanah air," ungkap alumni Dayah Babussalam Blang Bladeh Bireuen ini.

Pada saat itu Yusuf masih duduk di semester tiga Fakultas Syariah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh yang juga korban tsunami. Pada saat tsunami menerjang Aceh ia tinggal di Jeulingke Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh. 

"Pada saat tsunami dulu saya masih semester tiga kuliah di IAIN Ar-Raniry Banda Aceh dan tinggal di kawasan Jeulingke," ujarnya.

Lebih lanjut Yusuf menambahkan, posko evakuasi korban tsunami Aceh adalah kompleks makam Pahlawan Peuniti.

"Saya dam Habib Rizieq bersama istri serta lebih seribu laskar FPI tinggal dan tidur di Komplek kuburan makam Pahlawan Peuniti Banda Aceh," ungkapnya.

Foto: Yusuf Al-Qardhawy bersama HRS di Komplek Makam Taman Pahlawan Peuniti Banda Aceh sekitar bulan Februari 2005.

Yusuf menjelaskan, ia bersama laskar FPI dari seluruh Indonesia tiap hari melakukan evaluasi mayat tsunami hingga enam bulan lamanya. 

"Sekitar seribu lebih laskar FPI dari seluruh Indonesia evakuasi mayat tsunami ditambah lebih kurang 300 orang dari Aceh.  Yang dari Aceh hanya sekitar 15 orang yang nginap di posko di makam Pahlawan Peuniti,  selebihnya pulang ke rumah masing-masing. Dari 15 orang tersebut salah satunya saya. Habib bersama istrinya sekitar empat bulan di Aceh ikut evakuasi mayat juga. Kami sampai enam bulan," ujar mantan komisioner Bawaslu Kota Banda Aceh ini. 

Foto: Yusuf Al-Qardhawy bersama tentara Diraja Malaysia di sebuah pelabuhan di Aceh sekitar bulan Maret 2005 untuk mengambil bantuan dibagikan ke korban tsunami.

Mayat-mayat tsunami yang dievakuasi FPI setelah dishalatkan diantar ke kuburan massal di daerah Siron dan Lampeneureut dengan menggunakan truk.

"Mayat tsunami yang telah dievakuasi dishalatkan oleh laskar FPI, lalu diantar ke kuburan massal di Siron dan dan kawasan Lampeuneurut  dengan truk merah dulu," terangnya.

"Setelah Habib Rizieq kembali ke Jakarta, tinggal beberapa anggota FPI di posko baru di Lanteumen Barat masih juga evakuasi walau sebagian jenazah tsunami sudah mengering. Saya tinggal di posko baru itu beberapa bulan termasuk orangtua saya. Ada Robert Laweung Teungku Boyhaki Luengputu, Tgk. M. Isa, Adi Medan, Ustad Madris, dan beberapa lainnya," tambah Yusuf.

Yusuf tidak menyangka pada saat Habib Rizieq kembali ke Jakarta setelah empat bulan di Aceh,  menitipkan Surat Mandat pembentukan FPI Aceh ke dirinya melalui Ustad Shabri Lubis.

"Orang Aceh ramailah yang ikut evakuasi, tapi saya tidak tahu kenapa Habib Rizieq memilih saya sebagai koordinator pembentukan FPI Aceh, padahal disitu banyak orang Aceh yang lebih hebat dari saya. Surat Mandat itu dititip sama Ustad Shabri Lubis yang waktu itu menjabat sebagai Sekjen DPP FPI," ungkapnya.

Yusuf mengungkapkan, beberapa laskar FPI sempat menikah dengan putri Aceh setelah selesai evakuasi. 

"Ada beberapa teman FPI dari luar Aceh yang sempat menikahi gadis-gadis Aceh termasuk mantan Seken DPP FPI Doktor Hilmi Bakar Almascaty," pungkasnya. 

Penulis: Evi Suryani




© Copyright 2022 - gajah putih News.com