Breaking News

Mengenal Pendiri FPI Aceh

Foto: Dr. M.Yusuf Al-Qardhawy, MH.

Banda Aceh, 28/12/2024

Nama Front Pembela Islam (FPI) di mata masyarakat Aceh tidak dapat dilupakan. Jasa ormas yang didirikan oleh Habib Rizieq Syihab (HRS), keturunan Rasulullah yang ke-37 ini cukup besar pada saat gempa dan tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004 silam. FPI mengerahkan sekitar 1200 laskar khususnya dari berbagai wilayah di Indonesia membantu evakuasi jasad-jasad korban tsunami Aceh, selain turut juga memberikan bantuan dalam bentuk lain termasuk uang tunai.

Secara nasional FPI berdiri pada 17 Agustus 1998, tidak lama setelah rezim orde baru tumbang. Ormas ini didirikan oleh sejumlah habaib, ulama dan aktivis Islam yang konsen dengan penegakan syariat Islam. Pentolan utama pendiri FPI adalah HRS, pada saat itu baru saja menyelesaikan pendidikannya di Mekkah Al-Mukarramah di King Saud University. 

Tujuan awal pendirian FPI adalah ingin memberantas maksiat yang cukup merajalela di Ibukota Jakarta yang dilakukan secara terang-terangan, terstruktur, sistematis dan masif. Secara aplikasi ibadah, ormas FPI berkiblat kepada Mazhab Imam Syafie dengan tauhid Asy'ariyah-Maturidiyah dan mengakui tasauf Imam Al-Ghazali.

Foto: MYQ bersama HRS Februari 2005 di Komplek Taman Makam Pahlawan Banda Aceh. 

Siapa Pendiri FPI Aceh?

Banyak yang tidak tahu, siapa sesungguhnya pendiri utama dan pertama FPI Aceh. Dari berbagai literatur diperoleh informasi bahwa Tgk.  Muhammad Yusuf Al-Qardhawy (MYQ) adalah orang pertama di Aceh yang diberikan mandat oleh HRS untuk mendirikan FPI di Provinsi Aceh. Pada saat menerima mandat, MYQ masih berstatus mahasiswa semester empat IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

MYQ lahir pada 20 Desember 1980 di Samalanga Kabupaten Bireun dari pasangan Tgk. Idris (ayah) bin Syarif Muhammad Amin Jamalullail bin Teungku Di Barat dan Ummi Salamah Lingga (ibu) binti Banta Ahmad Lingga. Sejak sekolah dasar hingga menengah diselesaikan di Samalanga. Sejak usia 12-15 tahun mondok di Ponpes/Dayah Seupeng yang dipimpin oleh Tgk.  H. Nasruddin (Alumni Dayah MUDI MESRA Samalanga).

Setelah tamat SMP melanjutkan ke Dayah Babussalam Blang Bladeh Bireuen yang diasuh oleh Tgk. H. Muhammad Amin (Tumin) hingga tahun 1999. Sebelum ke Dayah ini, sempat belajar di Dayah Darussa'dah Baitul 'Atiq Meunasah Capa Bireuen yang dipimpin oleh Tgk. H. Mukhtar Kutablang. MYQ juga sempat berguru langsung kepada Tgk. H. Muhammad Kasim TB di Meunasah Kota Bireuen. MYQ juga sempat berguru langsung kepada Tgk.  Muhammad Nasir (Ayah Nasir) di Beureunuen, Pidie sebelum masuk dayah Blang Bladeh Bireun. 

Sejak tahun 1999 hingga awal tahun 2000 sempat belajar bersama Abon Mukhtar Darussalamah Teupin Raya, Pidie. Karena di kawasan Teupin Raya suasana tidak kondusif, MYQ hijrah ke Aceh Besar belajar di Dayah Darul Aman Tungkop, yang dipimpin oleh Tgk. H. Zakaria Adami hingga tahun 2004.

Untuk menempuh pendidikan formal, pada tahun 2003 melanjutkan di IAIN Ar-Raniry (sekarang UIN) Banda Aceh,  selesai tahun 2010. Konsentrasi yang ditekuni untuk jenjang S-1 ini adalah Politik Islam (Hukum tata negara Islam) atau Siyasah Islamiyah.

Satu tahun kemudian (tahun 2011) melanjutkan di program Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh dengan konsentrasi penelitian akhir Hukum Internasional. Riset di S-2 dilakukan mengenai legal status GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan MoU Helsinki menurut perspektif Hukum Internasional. Di magister ilmu hukum ini selesai tahun 2013.

Pada tahun 2017 kembali melanjutkan di Program Doktor Ilmu Hukum USK dengan konsentrasi riset hukum internasional. Tema kajian di S-3 ini menyangkut implementasi the right of self-determination terhadap gerakan pembebasan Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan Acheh Sumatra National Liberation Front (ASNLF). Riset untuk memperoleh gelar doktor ini baru selesai pertengahan tahun 2024.

Selama melanjutkan pendidikan formal (S1-S3), MYQ terus memperdalam Ilmu agama kepada guru-guru muktabar. Sempat belajar (mengaji) langsung bersama Abuya Profesor Muhibuddin Waly di Dayah Mesjid Tuha Lam Ateuk Aceh Besar. Sejak tahun 2008-2010 belajar dan tinggal di Dayah Lampoh Cut Ingin Jaya Aceh Besar dan belajar langsung kepada Tgk. Mulyadi Jalok, alumni BUDI Lamno (Aceh Jaya). Selain itu, MYQ juga sempat berguru langsung kepada Abuya Jamaluddin Waly, Abu Muhamma Ismi (Abu Madinah), dan beberapa ulama/teungku lainnya. 

Foto: Salah satu buku karya MYQ tentang Hukum Internasional. 

Selain mengajar sebagai dosen, MYQ juga seorang penulis produktif baik berupa jurnal, buku, opini di berbagai media massa, dan sebagainya. Sampai akhir tahun 2024 paling tidak sudah menulis 24 judul buku terutama menyangkut sejarah Aceh dan kajian hukum internasional. Semua bukunya dengan mudah dapat dijumpai di pustaka-pustaka dan toko-toko buku di Banda Aceh, bahkan terdapat di Gramedia luar Aceh.

Foto: Buku terbaru karya MYQ tentang sejarah Aceh. 

Foto: Buku karya MYQ tentang Hukum Internasional.

Foto: Buku karya MYQ tentang sejarah Aceh.

Sebagian buku yang ditulis oleh MYQ dikoleksi oleh beberapa pustaka di luar negeri,  seperti Inggris, Belanda, Australia,  dan lain-lain. Buku-buku tersebut semuanya ber- ISBN dan diterbitkan oleh penerbit ternama baik di Aceh maupun luar Aceh terutama di Yogyakarta. Sebagian besar buku-buku tersebut juga terdapat di pustaka nasional di Jakarta. 

Penulis: Evi Suryani 





© Copyright 2022 - gajah putih News.com