Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

Profil Prof. Dr. H. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D. Dari Serambi Mekkah untuk Pengabdian HAM Nasional

 


Penulis: NA. RIYA ISON

*"gajahputihnews.com"*Amanah adalah titipan langit yang menemukan pundak terbaiknya. Kabar membanggakan datang dari Aceh ketika intelektual progresif, Prof. Dr. H. Muhammad Siddiq Armia, M.H., Ph.D., resmi dilantik oleh Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, di Aula Trinity Tower Lantai 37, Jakarta, pada Senin pagi, 26 Oktober 2026.


Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 142/TPA Tahun 2026, beliau kini mengemban amanah sebagai Deputi Bidang Koordinasi Hak Asasi Manusia (HAM) pada Kemenko Kumham Imipas, jabatan pimpinan tinggi madya eselon I-a. 


Jabatan ini memiliki tugas strategis menyelenggarakan sinkronisasi dan koordinasi perumusan, penetapan, pelaksanaan kebijakan, serta pemantauan di bidang HAM lintas kementerian dan lembaga.


Lahir di Takengon pada 3 Maret 1977, Prof. Siddiq tumbuh dalam keluarga yang lekat dengan tradisi pesantren dan syiar Islam. Beliau merupakan cucu kandung ulama kharismatik dan ahli falak lulusan Al-Azhar, Abu Muhammad Ali Teupin Raya, pendiri Dayah Darussa'adah Pusat Teupin Raya, Pidie. 


Ayahnya, Tgk. H. Armia M. Ali, LML., M.A., merupakan lulusan Timur Tengah dan dosen senior Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dari jalur nasab keilmuan inilah nilai keikhlasan dan ketekunan mengalir.


Perjalanan intelektualnya berawal dari lingkungan Dayah Darussa'adah sambil menempuh pendidikan formal di MAN Beureunuen, Pidie, angkatan 1995. Ia kemudian meraih Sarjana di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry pada 2000, Magister Hukum di Universitas Indonesia pada 2004, dan Doktor Comparative Constitutional Law di Anglia Ruskin University, Cambridge, Inggris, pada 2016. 


Disertasi doktoralnya mengkaji perbandingan Mahkamah Konstitusi Jerman, dengan pengalaman riset di Mahkamah Agung Inggris. Fokus kajiannya yang luas mencakup hukum tata negara, hukum internasional, hukum Islam, dan Islamic Constitutionalism (konstitusionalisme Islam). Perpaduan ilmu dayah dan wawasan internasional inilah yang menjadi modal utamanya.


Dedikasinya terlihat dalam berbagai peran strategis. Sebagai Pembina Lembaga Pemerhati dan Advokasi Syariat Islam (LEPADSI) Aceh, beliau berkontribusi dalam pemikiran dan perumusan strategi pelaksanaan syariat Islam yang berkeadilan dan humanis. 


Ketika menjabat Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry periode 2018–2022, beliau mendorong internasionalisasi lembaga, percepatan akreditasi program studi menuju predikat Unggul, serta advokasi kenaikan pangkat dosen.


Di bawah kepemimpinannya, Jurnal Petita berhasil menembus indeksasi Scopus Q1, mengangkat reputasi akademik hukum dan syariah Indonesia di tingkat internasional. Capaian ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa karya dari Serambi Mekah mampu bersaing di panggung dunia.


Atas dedikasi risetnya, beliau tercatat masuk dalam daftar Top 2% Scientist Worldwide versi Stanford University dan Elsevier pada 2025 dan 2026. Pada Oktober 2026, beliau menempati peringkat pertama di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia. 


Karya-karyanya telah dirujuk akademisi lintas negara.Prestasi ini melengkapi rekam jejak akademiknya sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara termuda di UIN Ar-Raniry. Namun di balik capaian akademik, Prof. Siddiq dikenal sebagai sosok keluarga yang sederhana. 



Di sampingnya ada isteri yang setia mendampingi, Intan Marjani, M.Ed., pendidik yang menjadi penyemangat dalam perjalanan akademik dan pengabdian. Dari pernikahan tersebut, lahir dua buah hati: Musyari Rasyid Shiddiq (16 tahun) dan Jinan Munira Shiddiq (9 tahun), yang menjadi sumber energi dan doa dalam setiap langkah.


Tidak hanya unggul di bidang akademik, beliau juga menuntaskan pendidikan ketahanan nasional pada Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) Lemhannas RI Angkatan 67 Tahun 2024, serta aktif sebagai Ketua Dewan Wilayah Syarikat Islam Aceh. 


Kombinasi keilmuan, keulamaan, dan kenegaraan inilah yang membuat sosoknya dinilai tepat untuk posisi Deputi HAM. 


Kini, tanggung jawab besar menanti di Kemenko Kumham Imipas. Kementerian yang baru dibentuk melalui Perpres Nomor 142 Tahun 2024 ini memikul mandat menyelaraskan kebijakan nasional di empat sektor strategis. 


Memasuki 2026, Kemenko Kumham Imipas memasuki fase konsolidasi, di mana fondasi organisasi yang telah dibangun mulai dioperasionalkan secara terstruktur.


Sebagai Deputi Koordinasi HAM, beliau berperan dalam menyinkronkan kebijakan antar-kementerian, mengawal Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) 2025-2029, memperkuat sinergi lintas sektor demi pemenuhan hak dasar warga negara yang berkeadilan, serta terlibat dalam penyelesaian kasus HAM berat masa lalu dan penguatan forum isu perempuan dan disabilitas.


Penunjukannya juga disambut berbagai pihak di Aceh sebagai momentum strategis penyelesaian persoalan HAM Aceh, penguatan perdamaian pasca MoU Helsinki, dan pemenuhan amanat UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.Amanat Menko Yusril dalam pelantikan tersebut menekankan pentingnya kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) dan komunikasi konstruktif berkelanjutan. 


LEPADSI, DPW PBB dan PW Syarikat Islam Provinsi Aceh pun menyampaikan apresiasi, menilai kehadiran putra Aceh di posisi strategis pusat merupakan kebanggaan sekaligus harapan untuk memperkuat kebijakan HAM yang tidak hanya kokoh secara normatif, tetapi juga efektif dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


Selamat mengemban amanah, Prof. Siddiq, bersama isteri Intan Marjani, M.Ed., serta ananda Musyari dan Jinan. Perjalanan dari bilik dayah di Teupin Raya, ruang kuliah di Cambridge, hingga ruang koordinasi HAM di Jakarta adalah teladan bahwa ilmu yang tekun dan pengabdian yang tulus tidak pernah mengkhianati hasil.


Semoga perpaduan ilmu dayah, wawasan internasional, dan integritas keluarga menjadi kontribusi bermakna bagi kemajuan HAM Indonesia, dalam rida Allah Swt.


Pada akhirnya, ada seberkas sinar yang dapat dipetik dari prestasi Prof. Siddiq, bekerjalah dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi, di mana pun kita ditempatkan. Tekunilah amanah kecil sebelum dipercaya amanah besar. Jaga keluarga, jaga ilmu, jaga integritas. Maka Allah akan membalasnya dengan predikat, posisi, dan kemuliaan yang terkadang di luar ekspektasi manusia.[]NA. RIYA ISON

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com