![]() |
Media Gajahputihnews.com Kamis, 3 September 2026 Editor: Junaidi Ulka |
MGMP PENDIDIKAN PANCASILA SMK KOTA BANDA ACEH GERCEP: DARI KOPI, DIALOG, MENUJU GERAKAN PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN
BANDA ACEH — Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Pancasila tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kota Banda Aceh bergerak cepat (gercep) menindak lanjuti arahan Kepala Dinas Pendidikan Aceh Murthalamuddin, S.Pd., M.SP. yang mendorong agar seluruh MGMP bidang studi di Kota Banda Aceh diaktifkan kembali dan menjadi ruang kolaborasi nyata bagi para guru.
Setelah sukses menggelar pertemuan perdana pada pekan lalu sekaligus menetapkan Nopri Haridi, S.Pd., Gr., CPLA sebagai Ketua MGMP Pendidikan Pancasila tingkat SMK Kota Banda Aceh, para guru Pendidikan Pancasila langsung tancap gas menyusun program, membangun strategi, dan merumuskan berbagai agenda pengembangan organisasi ke depan.
Tidak ingin MGMP hanya berhenti sebagai wadah administratif dan rutinitas pertemuan, pengurus bersama para guru mencoba menghadirkan tradisi baru: berkumpul, berdiskusi, belajar, berbagi pengalaman, dan menghasilkan sesuatu yang konkret untuk kemajuan peserta didik.
Mengawali pertemuan kedua, MGMP Pendidikan Pancasila menghadirkan Prof. Dr. Teuku Muhammad Jamil, M.Si., akademisi sekaligus guru pada Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh, untuk berdiskusi mengenai tema “Guru, MGMP dan Anak Didik: Menyiapkan Generasi Masa Depan Bangsa.”
Pertemuan berlangsung dalam suasana santai, akrab, namun sarat gagasan. Bertempat di salah satu warung kopi ternama di pojok Kota Banda Aceh, para guru tidak sekadar berbincang tentang pendidikan, tetapi juga mendiskusikan berbagai persoalan aktual yang dihadapi guru dan peserta didik dalam dunia pendidikan kekinian.
GURU HARUS MENGAJAR DENGAN HATI
Dalam dialog tersebut, Prof. TM. Jamil sapaan akrab Prof. Teuku Muhammad Jamil menekankan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh kurikulum, teknologi, buku, maupun berbagai instrumen evaluasi.
Menurutnya, guru tetap menjadi salah satu aktor utama yang menentukan apakah proses pendidikan mampu menyentuh kehidupan peserta didik atau tidak.
“Kalau ingin sukses menjadi guru, ajarlah dengan hati. Apa yang dimulai dari hati, insya Allah akan sampai dan menyentuh hati,” pesan Prof. TM.
Ia mengingatkan, zaman telah berubah. Karakter anak didik juga berubah. Karena itu, guru tidak cukup hanya memahami materi pelajaran, tetapi harus mampu memahami manusia yang berada di hadapannya.
Guru dituntut untuk belajar mengenali karakter, kebutuhan, persoalan, kegelisahan, potensi, bahkan impian anak didiknya.
“Jangan hanya bertanya apakah anak sudah memahami pelajaran kita. Sesekali bertanyalah: apakah kita sudah memahami anak-anak kita?” ujarnya.
Menurut Prof. TM., guru ideal bukanlah guru yang membuat peserta didik merasa takut ketika masuk kelas. Sebaliknya, guru harus menjadi sosok yang kehadirannya dinantikan.
“Jadilah guru yang dinantikan, bukan guru yang ditakuti. Jadilah guru yang ingin selalu bersama anak didiknya, bukan guru yang ingin dihindari,” tegasnya.
Memang, katanya, menjadi guru seperti itu tidak mudah. Dibutuhkan kesabaran, keteladanan, ketulusan dan terutama jiwa ikhlas.
Guru yang mengajar dengan keikhlasan tidak akan melihat tugas mengajar semata-mata sebagai kewajiban administratif. Ia akan melihat setiap peserta didik sebagai manusia yang sedang dititipkan masa depannya.
TUGAS GURU BUKAN SEKADAR MEMBERI TUGAS
Prof. TM. juga mengingatkan bahwa tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan guru kepada peserta didik semestinya tidak dipandang sebagai beban.
Tugas harus dirancang sebagai obat bagi ketidaktahuan dan energi untuk membangun masa depan. Karena itu, guru harus mampu menjelaskan kepada peserta didik bahwa belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan.
“Anak didik harus merasa bahwa keberadaan guru dan tugas-tugas yang diberikan adalah bagian dari proses yang membantu menata masa depan mereka,” katanya.
Di sinilah, menurut Prof. TM., pentingnya membangun relasi pendidikan yang sehat antara guru dan peserta didik: tegas tetapi tidak menakutkan, disiplin tetapi tidak mematikan kreativitas, dan serius tetapi tetap manusiawi.
MGMP HARUS MELAHIRKAN KARYA, BUKAN SEKADAR PERTEMUAN
Berbicara mengenai MGMP, Prof. TM. Jamil menegaskan bahwa MGMP jangan sampai hanya menjadi tempat berkumpul dan berbagi informasi.
MGMP harus menjadi ruang intelektual guru untuk belajar bersama, memecahkan persoalan bersama, membangun inovasi bersama, dan menghasilkan karya bersama.
“MGMP harus menjadi wadah untuk berkumpul, menata, dan mewujudkan tujuan bersama. Jangan sampai kita hanya selesai pada pertemuan. Setelah bertemu, harus ada sesuatu yang lahir,” ujarnya.
Ia bahkan mendorong MGMP Pendidikan Pancasila SMK Kota Banda Aceh memiliki target yang lebih konkret, salah satunya menghasilkan buku pembahasan soal Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta didik meningkatkan kemampuan akademiknya.
Menurut Prof. TM., gagasan tersebut sederhana, tetapi mempunyai nilai strategis apabila dikerjakan secara serius dan kolaboratif.
“Bayangkan kalau guru-guru Pendidikan Pancasila bersama-sama menyusun sebuah buku yang baik. Itu bukan hanya menjadi karya MGMP, tetapi dapat menjadi warisan intelektual guru untuk anak-anak Aceh,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi kemampuan akademik peserta didik di Aceh yang masih perlu terus diperkuat.
“Sungguh menyedihkan kalau nilai TKA anak-anak kita masih jauh dari harapan. Kita tidak boleh hanya mengeluh. Guru harus hadir memberikan solusi,” tegasnya.
Karena itu, menurutnya, MGMP dapat menjadi salah satu motor penggerak untuk menghadirkan solusi tersebut.
PBM HARUS DIAWALI SIKAP DAN KOMITMEN
Sambil menikmati suasana santai dan secangkir kopi, Prof. TM. Jamil juga berbicara mengenai proses belajar-mengajar (PBM).
Menurutnya, PBM yang baik tidak lahir secara tiba-tiba. Ia harus diawali dengan sikap dan komitmen yang serius dari seluruh pihak.
Guru harus memiliki sikap sebagai pendidik, bukan sekadar sebagai penyampai materi. Peserta didik juga harus memiliki sikap sebagai pembelajar, bukan sekadar sebagai penerima nilai.
“Kalau sikapnya benar dan komitmennya serius, prosesnya akan lebih mudah diarahkan. Tetapi kalau sejak awal tidak ada sikap dan komitmen, sebaik apa pun perangkat pembelajaran yang kita miliki, hasilnya tidak akan maksimal,” jelasnya.
“Kalau sikapnya benar dan komitmennya serius, prosesnya akan lebih mudah diarahkan. Tetapi kalau sejak awal tidak ada sikap dan komitmen, sebaik apa pun perangkat pembelajaran yang kita miliki, hasilnya tidak akan maksimal,” jelasnya.
Menurutnya, pendidikan pada akhirnya bukan hanya persoalan transfer of knowledge, tetapi juga proses membangun sikap, karakter, tanggung jawab, daya juang, dan kepercayaan diri peserta didik.
Dalam konteks Pendidikan Pancasila, hal tersebut menjadi semakin penting karena mata pelajaran ini memiliki tanggung jawab strategis dalam membangun warga negara yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kebangsaan.
NOPRI: MGMP HARUS TERUS DIGELORAKAN
Sementara itu, Ketua MGMP Pendidikan Pancasila tingkat SMK Kota Banda Aceh, Nopri Haridi, S.Pd., Gr., CPLA, menyampaikan optimismenya terhadap keberlanjutan organisasi tersebut.
Menurut Nopri, pertemuan kedua ini menjadi bagian dari upaya membangun tradisi baru di kalangan guru Pendidikan Pancasila.
Ia berharap MGMP tidak hanya aktif pada saat tertentu, tetapi dapat terus bergerak dan melahirkan berbagai program yang memberikan manfaat langsung bagi guru maupun peserta didik.
“Semoga kegiatan ini terus kita gelorakan, kita majukan, dan kita jaga eksistensinya. MGMP ini harus menjadi rumah bersama bagi guru Pendidikan Pancasila untuk belajar, berdiskusi, berkolaborasi, dan menghasilkan karya,” harap Nopri.
Ia menambahkan, ke depan MGMP akan terus membuka ruang bagi para guru untuk menyampaikan gagasan, berbagi praktik baik pembelajaran, serta menyusun berbagai program yang relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.
DARI WARKOP MENUJU GERAKAN PENDIDIKAN
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana sederhana tersebut justru memperlihatkan bahwa gagasan besar tentang pendidikan tidak selalu harus lahir di ruang seminar yang formal.
Kadang-kadang, sebuah meja, secangkir kopi, dan percakapan antarguru dapat menjadi awal dari sebuah gerakan.
Bagi MGMP Pendidikan Pancasila SMK Kota Banda Aceh, pertemuan kedua ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun energi baru: dari sekadar berkumpul menjadi berkolaborasi, dari berdiskusi menjadi berkarya, dan dari mengeluhkan persoalan pendidikan menjadi menghadirkan solusi.
Di akhir pertemuan, Prof. TM. Jamil berpesan agar para guru tidak pernah kehilangan semangat untuk belajar.
“Guru tidak boleh berhenti belajar. Sebab ketika guru berhenti belajar, sesungguhnya pada saat itulah ia mulai kehilangan kemampuan untuk mengajarkan masa depan.”
Ia berharap MGMP Pendidikan Pancasila SMK Kota Banda Aceh mampu menjadi organisasi profesi yang hidup, produktif, dan memberi manfaat nyata.
“Jangan ukur keberhasilan MGMP dari berapa kali kita bertemu. Ukurlah dari berapa banyak gagasan yang lahir, berapa banyak karya yang dihasilkan, dan berapa banyak anak didik yang akhirnya menjadi lebih baik karena keberadaan kita,” pungkasnya.
Pertemuan pun berakhir dengan suasana penuh keakraban. Kopi boleh habis, tetapi percakapan tentang pendidikan dan masa depan anak bangsa diharapkan tidak pernah berakhir.
MGMP Pendidikan Pancasila SMK Kota Banda Aceh: GERCEP — bergerak cepat, berpikir bersama, berkarya nyata untuk pendidikan dan masa depan bangsa.

0 Komentar