Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

GRUP WHATSAPP: RUANG KOMUNIKASI ATAU TEMPAT MENUMPUK “TERUSKANNN…”?

𝐌𝐞𝐝𝐢𝐚: 𝐆𝐚𝐣𝐚𝐡𝐩𝐮𝐭𝐢𝐡𝐧𝐞𝐰𝐬.𝐜𝐨𝐦
𝐒𝐞𝐥𝐚𝐬𝐚, 𝟐𝟐 𝐒𝐞𝐩𝐭𝐞𝐦𝐛𝐞𝐫 𝟐𝟎𝟐𝟔

GRUP WHATSAPP: RUANG KOMUNIKASI ATAU TEMPAT MENUMPUK “TERUSKANNN…”?

Ketika Grup Komunikasi Kehilangan Komunikasi dan Informasi Mengalahkan Kecerdasan

𝐎𝐥𝐞𝐡: 𝐓𝐌. 𝐉𝐚𝐦𝐢𝐥
𝐈𝐥𝐦𝐮𝐰𝐚𝐧 𝐏𝐨𝐥𝐢𝐭𝐢𝐤 𝐝𝐚𝐧 𝐀𝐤𝐚𝐝𝐞𝐦𝐢𝐬𝐢 𝐔𝐧𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐒𝐲𝐢𝐚𝐡 𝐊𝐮𝐚𝐥𝐚, 𝐀𝐜𝐞𝐡

WhatsApp telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Jarak menjadi pendek, waktu menjadi efisien, dan informasi dapat berpindah dari satu orang ke orang lain hanya dalam hitungan detik. Kita dapat berkomunikasi dengan keluarga, sahabat, kolega, organisasi, mahasiswa, alumni, bahkan komunitas yang berada di tempat berbeda tanpa harus bertemu secara fisik.

Namun, kemajuan teknologi komunikasi tidak otomatis membuat manusia menjadi lebih komunikatif.

Ironisnya, di tengah kemudahan berkomunikasi itu, kita justru menghadapi paradoks baru: semakin mudah orang mengirim pesan, semakin sulit menemukan percakapan yang benar-benar bermakna. Fenomena tersebut sangat mudah ditemukan dalam grup WhatsApp.

Grup dibuat dengan tujuan tertentu. Ada grup keluarga, alumni, akademisi, organisasi, profesi, komunitas, bahkan kelompok diskusi. Namun dalam praktiknya, tidak sedikit grup yang perlahan kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang komunikasi. Ia berubah menjadi semacam papan pengumuman digital, tempat berbagai informasi ditumpuk tanpa pernah benar-benar dibaca, dibahas, atau dipertanyakan.

Lalu, untuk apa sebenarnya kita berada di dalam sebuah grup WhatsApp?

GRUP ADA, KOMUNIKASI HILANG

Komunikasi bukan sekadar mengirim pesan. Dalam perspektif ilmu komunikasi, komunikasi merupakan proses pertukaran pesan dan makna yang memungkinkan terjadinya respons, pemahaman, klarifikasi, serta perubahan pengetahuan atau sikap.

Karena itu, seseorang yang mengirim puluhan pesan setiap hari belum tentu lebih komunikatif daripada seseorang yang hanya mengirim satu pesan, tetapi pesan tersebut mampu melahirkan diskusi yang bermakna.

Banyak pesan bukan berarti banyak komunikasi. Banyak informasi juga bukan berarti banyak pengetahuan. Bahkan, banyak pengetahuan belum tentu menghasilkan kebijaksanaan.

Di sinilah paradoks komunikasi digital kita.

Kita hidup dalam zaman ketika informasi berlimpah, tetapi percakapan yang bermakna justru semakin langka.

Seseorang mengirim artikel, tetapi tidak ada yang membahas substansinya. Seseorang menyampaikan gagasan, tetapi tidak ada yang bertanya. Seseorang mengemukakan pandangan, tetapi segera tenggelam karena muncul puluhan postingan baru yang tidak berkaitan dengan pembicaraan sebelumnya. Akhirnya, yang ramai bukan diskusinya, melainkan lalu lintas pesannya.

BUDAYA “TERUSKAN” DAN KRISIS BERPIKIR

Fenomena yang paling menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah budaya “teruskan”, “share”, “sebarkan”, atau “lanjutkan”.

Berbagi informasi tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan, berbagi informasi yang benar, relevan, dan bermanfaat merupakan bentuk kontribusi sosial.

Masalahnya muncul ketika seseorang meneruskan informasi yang bahkan belum dibaca secara utuh.

Lebih buruk lagi, informasi tersebut tidak dipahami, tidak diperiksa sumbernya, dan tidak diketahui konteksnya.

Yang penting sudah dikirim. Yang penting sudah posting. Yang penting sudah muncul di layar anggota grup. Di sinilah budaya komunikasi digital mulai kehilangan dimensi intelektualnya.

Kita akhirnya memiliki kebiasaan baru: meneruskan informasi tanpa melalui proses berpikir.

Padahal, kontribusi intelektual tidak pernah diukur dari berapa banyak pesan yang kita kirim. Kontribusi intelektual diukur dari seberapa jauh apa yang kita sampaikan membantu orang lain memahami persoalan.

Jangan sampai grup WhatsApp berubah menjadi tempat manusia memindahkan informasi dari satu telepon genggam ke telepon genggam lainnya tanpa pernah melalui proses membaca, memahami, dan berpikir.

Kalau itu yang terjadi, kita bukan sedang membangun masyarakat pengetahuan. Tetapi, Kita sedang membangun masyarakat penerus informasi.

INFORMASI BUKAN PENGETAHUAN

Kita perlu membedakan tiga hal yang sering kali tercampur: informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan.

Informasi adalah sesuatu yang kita terima. Pengetahuan lahir ketika informasi dipahami, dianalisis, dibandingkan, dan ditempatkan dalam konteks.

Sementara kebijaksanaan muncul ketika pengetahuan digunakan secara tepat, bertanggung jawab, dan bermanfaat.

Karena itu, jangan terlalu bangga hanya karena setiap hari kita menerima ratusan informasi dari berbagai grup.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Berapa banyak informasi yang benar-benar kita pahami?

Berapa banyak yang kita verifikasi? Berapa banyak yang kita diskusikan? Berapa banyak yang mengubah cara kita melihat suatu persoalan? Dan berapa banyak yang benar-benar memberi manfaat?

Jika tidak ada proses tersebut, informasi hanya menjadi noise—kebisingan yang memenuhi ruang komunikasi.

Kita merasa sibuk membaca, padahal belum tentu belajar. Kita merasa aktif berkomunikasi, padahal mungkin hanya aktif mengirim. Kita merasa produktif, padahal sebenarnya hanya memperbanyak arus informasi.

MENGAPA ORANG LEBIH SUKA POSTING DARIPADA BERDISKUSI?

Ada persoalan sosial dan psikologis yang menarik di balik fenomena tersebut.

Posting memberikan kepuasan yang cepat. Kita menemukan sesuatu, lalu mengirimkannya. Setelah itu muncul perasaan bahwa kita telah berkontribusi.

Sebaliknya, berdiskusi membutuhkan energi intelektual. Kita harus membaca. Kita harus memahami. Kita harus menyusun argumentasi. Kita harus siap berbeda pendapat. Dan yang paling penting, kita harus siap menerima kemungkinan bahwa pendapat kita sendiri ternyata keliru.

Inilah salah satu persoalan komunikasi digital.

Kita ingin didengar, tetapi tidak selalu ingin mendengar. Kita ingin pendapat kita dihargai, tetapi belum tentu bersedia menghargai pendapat orang lain. Kita ingin informasi kita dibaca, tetapi malas membaca informasi orang lain.

Akhirnya lahirlah bentuk baru egoisme komunikasi: “Saya ingin berbicara, tetapi saya tidak terlalu tertarik mendengarkan.”

Padahal komunikasi tanpa kesediaan mendengar hanyalah monolog yang kebetulan menggunakan fasilitas grup.

GRUP WHATSAPP DAN KRISIS DIALOG

Sebuah grup yang sehat bukan sekadar kumpulan nomor telepon. Ia seharusnya menjadi komunitas komunikasi.

Di dalamnya ada interaksi, respons, pertanyaan, argumentasi, perbedaan pendapat, klarifikasi, koreksi, bahkan perdebatan. Perbedaan pendapat bukan penyakit dalam sebuah kelompok.

Dalam kehidupan intelektual, justru perbedaan merupakan bahan bakar bagi perkembangan pikiran.

Yang menjadi persoalan bukan ketika anggota grup berbeda pendapat. Persoalannya adalah ketika anggota grup tidak lagi mau berdialog.

Seseorang mengirim tulisan panjang dan serius. Respons yang muncul hanya:

👍 - 🙏 - ❤️ atau Striker.

Emoji tentu tidak salah. Ia dapat menjadi tanda penghargaan atau apresiasi. Tetapi jika hampir setiap gagasan hanya dijawab dengan emoji, sementara tidak pernah ada pertanyaan, tanggapan, kritik, atau pengembangan gagasan, maka grup tersebut perlahan kehilangan fungsi intelektualnya.

Kita akhirnya memiliki komunitas yang reaktif secara simbolik, tetapi miskin secara substantif.

GRUP BUKAN TEMPAT MEMAMERKAN KESIBUKAN

Ada kecenderungan lain yang perlu kita kritik secara jujur. Sebagian orang tampaknya menjadikan grup WhatsApp sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa dirinya selalu memiliki informasi terbaru.

Setiap berita dikirim. Setiap video diteruskan. Setiap foto dibagikan. Setiap kutipan diposting. Setiap informasi yang masuk langsung dilempar kembali ke grup.

Padahal, menjadi orang yang paling cepat mengirim informasi tidak otomatis berarti menjadi orang yang paling memahami persoalan.

Kecepatan mengirim bukan ukuran kedalaman berpikir.

Dalam dunia akademik, informasi justru harus diperlakukan dengan hati-hati. Sumbernya diperiksa, datanya dilihat, konteksnya dipahami, argumentasinya diuji, dan fakta dibedakan dari opini.

Karena itu, budaya “cepat teruskan” seharusnya digantikan dengan budaya: “BACA – PAHAMI – VERIFIKASI – DISKUSIKAN.” Inilah etika dasar komunikasi intelektual.

KITA TIDAK KEKURANGAN INFORMASI

Persoalan masyarakat digital dewasa ini sebenarnya bukan kekurangan informasi. Kita justru menghadapi kelebihan informasi.

Setiap hari smartphone kita dibanjiri berita, video, foto, komentar, podcast, tautan, dan berbagai bentuk konten.

Karena itu, persoalan utama bukan lagi: “Bagaimana mendapatkan informasi?”

Persoalannya adalah: “Bagaimana memilah informasi?”

Lebih jauh lagi: “Bagaimana mengubah informasi menjadi pengetahuan?”

Dan lebih jauh lagi: “Bagaimana menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan yang benar dan bermanfaat?”

Di sinilah grup WhatsApp seharusnya mempunyai fungsi yang lebih tinggi.

Grup yang baik bukan grup yang paling ramai. Grup yang baik adalah grup yang paling hidup secara intelektual dan sosial.

Ramai belum tentu hidup. Sepi belum tentu mati. Sebuah grup mungkin hanya menghasilkan 20 pesan sehari, tetapi setiap pesan mengandung gagasan, pertanyaan, pengalaman, atau analisis yang memperkaya anggota.

Sebaliknya, grup lain mungkin menghasilkan 2.000 pesan sehari, tetapi sebagian besar hanya berupa penerusan informasi tanpa dialog. Jumlah pesan tidak pernah menjadi ukuran kualitas komunikasi.

LALU, UNTUK APA KITA BERADA DI DALAM GRUP?

Pertanyaan inilah yang semestinya kita ajukan kepada diri sendiri. Jika kita masuk ke dalam grup akademik, organisasi, profesi, alumni, komunitas, keluarga, atau persahabatan, keberadaan kita seharusnya mempunyai tujuan.

Bukan sekadar: “Saya ada di grup.”

Tetapi: “Apa yang saya berikan kepada grup ini?”

Apakah saya membawa pengetahuan? Apakah saya membawa pengalaman? Apakah saya membawa pertanyaan? Apakah saya memberikan koreksi?
Apakah saya membantu meluruskan informasi yang keliru? 
Apakah saya membaca pemikiran orang lain? 
Apakah saya memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara? 
Atau jangan-jangan selama ini kita hanya menjadi konsumen sekaligus distributor informasi?

Pertanyaan ini tampak sederhana. Namun justru karena sederhana, ia sering tidak kita pikirkan.

JADIKAN GRUP SEBAGAI RUANG BELAJAR

Sudah waktunya budaya komunikasi dalam grup WhatsApp kita perbaiki.

Tidak setiap informasi harus dijawab. Tetapi informasi yang penting layak didiskusikan. Tidak setiap posting harus dikomentari. Tetapi gagasan yang substantif sebaiknya mendapatkan ruang dialog. Tidak setiap anggota harus selalu mengirim sesuatu.

Kadang-kadang diam dan membaca juga merupakan bentuk kontribusi. Namun, ketika muncul gagasan penting, jangan pula semuanya diam.

Berikan argumentasi. Ajukan pertanyaan. Berikan data. Berikan pengalaman. Koreksi apabila terdapat kekeliruan. Dan jika tidak setuju, katakan tidak setuju dengan argumentasi yang santun.

Sebab tujuan komunikasi bukan memenangkan perdebatan. Tujuan komunikasi adalah memperluas pemahaman.

DARI “SHARE” MENUJU “CARE”

Mungkin sudah waktunya budaya grup WhatsApp kita berubah: Dari SHARE menuju CARE.

Bukan sekadar: “Saya punya informasi, maka saya kirim.” Tetapi: “Saya punya informasi, saya baca, saya pahami, saya periksa, lalu saya pikirkan apakah informasi ini benar-benar bermanfaat bagi anggota grup.”

Perubahan kecil ini sebenarnya merupakan perubahan besar dalam budaya komunikasi.

Kita tidak perlu menjadi orang yang paling banyak posting. Kita perlu menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang kita posting. Sebab setiap informasi yang kita sebarkan membawa tanggung jawab moral.

Apalagi ketika informasi tersebut menyangkut politik, agama, pendidikan, ekonomi, hukum, kesehatan, atau kehidupan sosial.

Jangan sampai jempol kita lebih cepat daripada pikiran kita. Jempol hanya membutuhkan satu detik untuk menekan tombol “Teruskan”. Tetapi dampak sebuah informasi yang keliru dapat berlangsung jauh lebih lama.

GRUP WHATSAPP ITU UNTUK APA?

Jawabannya sebenarnya sederhana. Grup WhatsApp bukan sekadar tempat berkumpulnya nomor telepon.

Ia seharusnya menjadi ruang untuk berkomunikasi, bertukar pengalaman, memperkaya pengetahuan, menguji gagasan, dan membangun hubungan sosial.

Jika hanya ingin menyebarkan informasi, kita tidak memerlukan grup. Cukup buat kanal informasi.

Tetapi jika kita memilih membangun grup, maka konsekuensinya adalah membangun komunikasi dua arah.

Ada yang berbicara. Ada yang mendengar. Ada yang bertanya. Ada yang menjawab. Ada yang berbeda. Ada yang mengoreksi. Dan semuanya belajar.

Sebab pada akhirnya, kecerdasan sebuah grup bukan ditentukan oleh banyaknya orang pintar di dalamnya, melainkan oleh kualitas interaksi yang terjadi di antara mereka.

Jangan sampai kita memiliki grup yang anggotanya profesor, doktor, magister, pejabat, pengusaha, ulama, guru, aktivis, profesional, dan berbagai kalangan berpendidikan tinggi, tetapi komunikasi di dalamnya hanya:

“Teruskan...”

“Share...”
“Izin share...”
“Mohon diteruskan...”
Lalu selesai.

Kalau demikian, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri: APAKAH KITA SEDANG MEMBANGUN KOMUNITAS YANG BERPIKIR, ATAU SEKADAR KOMUNITAS YANG MENERUSKAN?

Teknologi komunikasi yang canggih tidak akan membuat manusia menjadi cerdas apabila manusianya berhenti berpikir.

Grup WhatsApp yang paling ramai sekalipun tidak akan menjadi ruang komunikasi yang sehat apabila setiap orang hanya ingin berbicara, tetapi tidak seorang pun benar-benar mau mendengar, membaca, memahami, dan berdialog.

Maka, sebelum kita menekan tombol “TERUSKAN”, barangkali ada satu tombol yang jauh lebih penting untuk kita tekan terlebih dahulu: “PIKIRKAN.”

Sebab komunikasi yang sehat bukan tentang berapa banyak yang kita kirim, tetapi tentang berapa banyak yang kita pahami, berapa banyak yang kita pelajari, dan seberapa jauh kita mampu membuat orang lain berpikir. Itulah barangkali makna sesungguhnya dari sebuah grup. Bukan sekadar tempat kita hadir, tetapi ruang tempat kita saling mencerdaskan.

Sagoe Aceh Rayeuk, 22 September 2026

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com