Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

ACEH KAYA, GURUNYA JANGAN DISURUH IKHLAS TERUS


Oleh: Dra. Tisara, MS.
Guru Ahli Madya pada SMA Negeri 1 Krueng Barona Jaya, Aceh Besar.

ACEH KAYA, GURUNYA JANGAN DISURUH IKHLAS TERUS

Hardikda ke-67 dan Gugatan terhadap Masa Depan Pendidikan Aceh.

Setiap tanggal 2 September, Aceh kembali memperingati Hari Pendidikan Daerah (Hardikda). Tahun ini, peringatan itu memasuki usia ke-67.

Enam puluh tujuh tahun. Usia yang cukup panjang untuk sebuah pertanyaan sederhana, tetapi sangat menyakitkan untuk dijawab: Ke mana sebenarnya arah pendidikan Aceh? Apakah pendidikan Aceh sedang bergerak menuju kemajuan? Ataukah kita hanya semakin pandai membuat slogan tentang kemajuan?

“Apakah sekolah-sekolah kita benar-benar sedang menyiapkan generasi yang mampu bersaing dengan dunia? Ataukah kita masih sibuk dengan urusan administratif, proyek, laporan, serapan anggaran, dan seremoni yang setiap tahun berganti wajah tetapi tidak selalu menghasilkan perubahan?”

Pertanyaan itu penting, sebab Aceh bukan daerah yang miskin sejarah.

Aceh memiliki sejarah keilmuan yang besar.!  Aceh memiliki tradisi pendidikan yang panjang. Aceh memiliki perguruan tinggi. 
Aceh memiliki dayah.
Aceh memiliki ribuan sekolah. 
Aceh memiliki anggaran pendidikan. 
Aceh memiliki sumber daya alam. 
Aceh bahkan memiliki kekhususan dan dana pembangunan yang tidak sedikit.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih pahit: Mengapa dengan semua modal itu, pendidikan Aceh masih harus terus berbicara tentang persoalan-persoalan yang seharusnya sudah lama selesai?

Kita Terlalu Sibuk Merayakan Pendidikan. Setiap tahun kita merayakan pendidikan. Kita membuat spanduk. Kita menggelar upacara. Kita mengadakan seminar. Kita menyampaikan pidato. Kita memberikan penghargaan. Kita berbicara tentang generasi emas. Tetapi setelah mikrofon dimatikan dan spanduk diturunkan, guru kembali ke ruang kelas dengan persoalan yang sama.

Beban administrasi. Tuntutan kinerja. Target pembelajaran. Evaluasi yang terus berubah. Kurikulum yang silih berganti. Tuntutan untuk menguasai teknologi. Tuntutan untuk kreatif. Tuntutan untuk inovatif. Tuntutan untuk menghasilkan generasi unggul.

Guru diminta menjadi segalanya. Guru harus menjadi pendidik. Guru harus menjadi pengajar. Guru harus menjadi motivator. Guru harus menjadi konselor. Guru harus menjadi mediator. Guru harus menjadi inovator. Guru bahkan harus memahami persoalan sosial dan psikologis peserta didiknya.

Tetapi ketika guru berbicara tentang kesejahteraan, negara sering kali menjawab dengan kalimat paling tua dalam sejarah birokrasi pendidikan:

Mengabdi dengan ikhlas.”

Inilah ironi kita. Ketika negara tidak mampu menyelesaikan persoalan kesejahteraan guru secara sungguh-sungguh, maka keikhlasan sering kali dijadikan sebagai kebijakan tidak tertulis.

Seolah-olah seorang guru tidak boleh memiliki kebutuhan hidup. Seolah-olah seorang guru tidak memiliki keluarga. Seolah-olah seorang guru tidak memiliki anak yang juga harus bersekolah. Seolah-olah pengabdian dapat membayar harga kebutuhan pokok.

Tidak.

Keikhlasan adalah nilai moral. Tetapi kesejahteraan adalah kewajiban negara. Jangan pernah menukar keduanya.

Guru Bukan Mesin Pencetak Masa Depan yang Tidak Perlu Dirawat

Ada satu kesalahan besar dalam cara kita memandang pendidikan. Kita terlalu sering berbicara tentang peserta didik, tetapi lupa membicarakan kehidupan orang yang mendidiknya.

Kita berbicara tentang Generasi Emas. Tetapi lupa bertanya tentang kondisi guru yang akan melahirkan generasi itu.

Kita ingin anak-anak Aceh menjadi unggul. Tetapi apakah kita telah memastikan guru-guru Aceh memiliki kehidupan yang layak untuk menjalankan tugas besar itu?

Kita ingin sekolah menghasilkan generasi kreatif. Tetapi apakah guru memiliki ruang untuk berpikir?

Kita ingin guru melakukan inovasi. Tetapi apakah guru diberikan waktu yang cukup untuk membaca, meneliti, berdiskusi, dan mengembangkan diri?

Kita ingin kualitas pembelajaran meningkat. Tetapi apakah kebijakan pendidikan kita lebih banyak memperkuat proses pembelajaran atau justru memperbesar pekerjaan administratif?

Ada saatnya kita harus jujur: Guru hari ini terlalu sering diukur dari banyaknya dokumen yang dibuat, bukan dari seberapa dalam ia berhasil mengubah kehidupan muridnya. Ini adalah salah satu penyakit paling serius dalam birokrasi pendidikan.

Guru datang ke sekolah untuk mendidik manusia. Tetapi terlalu sering ia pulang membawa pekerjaan administrasi.

Sekolah akhirnya berisiko berubah menjadi kantor. Guru berisiko berubah menjadi operator. Dan pendidikan kehilangan jiwanya.

Jangan Minta Pendidikan Berkualitas dari Guru yang Dipaksa Bertahan Hidup

Pendidikan berkualitas membutuhkan guru berkualitas. Tetapi guru berkualitas juga membutuhkan kehidupan yang berkualitas. Ini bukan tuntutan berlebihan. Ini adalah hukum sederhana kehidupan.

Seorang guru yang memiliki ketenangan ekonomi akan memiliki ruang lebih besar untuk mengembangkan dirinya.

Ia dapat membaca. Ia dapat belajar. Ia dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Ia dapat memikirkan metode pembelajaran. Ia dapat memberikan perhatian yang lebih baik kepada peserta didik. 

Sebaliknya, seorang guru yang terus-menerus berada dalam kecemasan ekonomi akan dipaksa membagi energinya antara mendidik anak bangsa dan menyelesaikan persoalan kehidupannya sendiri.

Negara sering kali meminta guru meningkatkan kualitas. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: siapa yang meningkatkan kualitas hidup guru?

Kita terlalu sering meminta guru berkorban untuk negara. Tetapi negara tidak boleh terus-menerus membangun pendidikan di atas pengorbanan tanpa batas dari para guru.

Pengorbanan memang mulia. Tetapi negara yang baik tidak menjadikan pengorbanan rakyatnya sebagai fondasi permanen kebijakan.

Aceh Tidak Kekurangan Anggaran, yang Sering Kurang adalah Keberanian Memilih Prioritas

Ini bagian yang paling tidak nyaman. Aceh memiliki sumber daya. Aceh memiliki anggaran. Aceh memiliki kekhususan. Aceh memiliki sejarah politik yang panjang. Tetapi pendidikan sering kali tetap harus berjuang untuk mendapatkan perhatian yang seharusnya.

Masalahnya bukan semata-mata berapa besar uang yang tersedia. Masalahnya adalah: ke mana sebenarnya uang itu diarahkan?

Pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai belanja pembangunan. Pendidikan harus dipahami sebagai investasi peradaban. Jalan yang dibangun hari ini dapat rusak beberapa tahun kemudian.

Gedung yang dibangun hari ini dapat lapuk. Proyek yang diresmikan hari ini mungkin akan terlupakan beberapa tahun kemudian.

Tetapi seorang anak yang memperoleh pendidikan yang baik dapat mengubah kehidupan keluarganya selama beberapa generasi. Karena itu, investasi terbesar sebuah daerah bukanlah beton.

Investasi terbesar adalah manusia. Dan manusia tidak dibangun oleh baliho. Manusia dibangun oleh pendidikan. Pendidikan dibangun oleh guru.

Jangan Hanya Bangga dengan Sekolah, Banggalah Jika Ada Pembelajaran

Kita terkadang terlalu mudah bangga dengan pembangunan fisik. Sekolah baru. Gedung baru. Laboratorium baru. Pagar baru.nRuang kelas baru. Semua itu tentu penting.

Tetapi sebuah gedung sekolah yang megah tidak otomatis menghasilkan pendidikan yang hebat. Sebab pendidikan tidak terjadi pada dinding.

Pendidikan terjadi dalam hubungan antara guru dan murid. Pendidikan terjadi ketika seorang anak yang takut bertanya akhirnya berani mengangkat tangan. Pendidikan terjadi ketika seorang anak dari keluarga sederhana mulai percaya bahwa ia memiliki masa depan.

Pendidikan terjadi ketika guru tidak hanya mengajarkan jawaban, tetapi mengajarkan bagaimana berpikir.

Itulah sebabnya kita harus berhenti menjadikan pendidikan sekadar persoalan fisik dan administrasi.

Sekolah yang hebat bukan sekolah yang paling banyak cat temboknya. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang berhasil membuat muridnya menjadi lebih manusiawi, lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih berani menghadapi masa depannya.

Masa Depan Aceh Sedang Dipertaruhkan di Ruang Kelas

Politik Aceh akan berubah. Pemerintah akan berganti. Pejabat akan datang dan pergi. Program akan diganti. Slogan akan berubah.

Tetapi anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah akan menjadi masyarakat Aceh pada masa depan.

Mereka akan menjadi guru. Dokter. Pengusaha. Petani. Aparatur negara. Politisi. Ulama. Akademisi. Dan pemimpin.

Pertanyaannya adalah: seperti apa manusia yang sedang kita persiapkan hari ini?

Jika pendidikan kita hanya mengajarkan anak untuk menghafal, jangan heran jika kelak kita menghasilkan generasi yang takut berpikir. Jika pendidikan kita tidak mengajarkan keberanian bertanya, jangan heran jika kelak masyarakat takut mengkritik kekuasaan.

Jika pendidikan kita gagal menanamkan integritas, jangan heran jika kelak kita terus menghadapi masalah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Jika pendidikan kita gagal membangun karakter, jangan heran jika teknologi hanya melahirkan manusia canggih yang kehilangan kemanusiaannya. Karena itu, masa depan Aceh sebenarnya tidak sedang menunggu.

Masa depan Aceh sedang diajarkan hari ini.

Di setiap ruang kelas. Oleh setiap guru. Dengan segala keterbatasannya.

Hardikda Harus Menjadi Hari Gugatan

Sudah waktunya Hardikda tidak hanya menjadi hari perayaan. Hardikda harus menjadi hari gugatan. Kita harus berani bertanya kepada diri sendiri dan kepada pemerintah:

Apakah pendidikan benar-benar menjadi prioritas pembangunan Aceh?

Apakah guru benar-benar ditempatkan sebagai profesi strategis?

Apakah kesejahteraan guru telah menjadi perhatian utama?

Apakah guru memiliki ruang yang cukup untuk mengembangkan dirinya?

Apakah kebijakan pendidikan benar-benar lahir dari realitas sekolah?

Ataukah kebijakan terlalu sering lahir dari meja birokrasi yang jauh dari ruang kelas?

Sebab tidak ada yang lebih berbahaya daripada kebijakan pendidikan yang dibuat oleh orang-orang yang terlalu lama tidak masuk ke kelas.

Mereka mungkin memahami angka. Tetapi belum tentu memahami anak.

Mereka mungkin memahami laporan. Tetapi belum tentu memahami kesulitan guru.

Mereka mungkin memahami indikator. Tetapi belum tentu memahami pendidikan.

Berhentilah Menyuruh Guru Menjadi Pahlawan Setiap Saat

Guru tidak menolak menjadi teladan. Guru tidak menolak mengabdi. Guru tidak menolak bekerja keras. Tetapi negara harus berhenti menggunakan kata “pahlawan” sebagai alasan untuk tidak menyelesaikan persoalan guru.

Guru bukan patung. Guru bukan slogan. Guru bukan alat seremonial setiap kali kita memperingati hari besar. Guru adalah manusia. Dan manusia membutuhkan penghargaan yang nyata. Bukan hanya tepuk tangan. Bukan hanya piagam.

Bukan hanya ucapan “terima kasih atas pengabdian.” Guru membutuhkan sistem pendidikan yang adil.

Guru membutuhkan perlindungan profesi. Guru membutuhkan kesempatan berkembang. Guru membutuhkan kesejahteraan. Dan yang paling penting: guru membutuhkan negara yang tidak hanya datang ketika membutuhkan mereka.

Pendidikan Aceh Harus Diselamatkan dari Kebiasaan Menunda

Hardikda ke-67 harus menjadi alarm. Kita tidak dapat terus-menerus menunda pembenahan pendidikan. Sebab setiap tahun yang kita lewatkan bukan sekadar kehilangan waktu.

Kita sedang kehilangan satu angkatan generasi. Seorang anak yang mendapatkan pendidikan buruk hari ini tidak dapat kembali ke usia sepuluh tahun untuk mengulang masa pendidikannya.

Waktu pendidikan tidak dapat diputar ulang. Itulah sebabnya kegagalan kebijakan pendidikan jauh lebih berbahaya daripada kegagalan proyek pembangunan biasa.

Gedung yang gagal dapat dibangun kembali. Jalan yang rusak dapat diperbaiki. Tetapi masa depan seorang anak yang terabaikan tidak selalu dapat dikembalikan.

Saatnya Memihak kepada Guru

Pada akhirnya, pendidikan Aceh membutuhkan keberanian untuk mengambil posisi. Dan posisi itu harus jelas: berpihak kepada guru. Berpihak bukan berarti memanjakan. Berpihak berarti memberikan keadilan. Berpihak berarti mengurangi beban birokrasi yang tidak perlu.

Berpihak berarti membuka kesempatan pengembangan profesional. Berpihak berarti memastikan kesejahteraan. Berpihak berarti mendengarkan suara guru sebelum membuat kebijakan.

Sebab guru adalah orang yang paling lama berhadapan dengan masa depan.

Politisi datang ke sekolah untuk berkunjung.

Pejabat datang untuk meninjau. Tetapi guru datang setiap hari.bMereka mengenal nama murid. Mereka mengetahui siapa yang mulai kehilangan semangat. Mereka melihat siapa yang datang ke sekolah dengan masalah keluarga.

Mereka menyaksikan kegagalan dan keberhasilan pendidikan secara langsung. Guru tidak membaca pendidikan dari laporan. Guru hidup di dalam pendidikan.

Karena itu, jika Aceh benar-benar ingin membangun masa depan, maka jangan hanya bertanya kepada para pejabat tentang pendidikan.

Tanyakan kepada guru. Dengarkan guru. Dan yang lebih penting: sejahterakan guru. Sebab pendidikan tidak akan pernah lebih kuat daripada manusia yang menjalankannya. Dan tidak ada masa depan Aceh yang benar-benar cerah apabila orang-orang yang menyalakan cahaya di ruang kelas terus diminta untuk berjalan dalam kegelapan.

Pada Hardikda ke-67 ini, mari kita berhenti sebentar dari pidato dan seremoni. *Mari kita mengajukan satu pertanyaan yang paling jujur:* Jika pendidikan adalah masa depan Aceh, mengapa guru—orang yang setiap hari membangun masa depan itu—masih harus terus memperjuangkan tempat yang layak dalam perhatian negara?

Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Hardikda hanya menjadi peringatan. Ataukah benar-benar menjadi momentum perubahan.

Karena Aceh tidak membutuhkan lebih banyak slogan tentang pendidikan. Aceh membutuhkan keberanian untuk membenahinya. Dan pembenahan itu harus dimulai dari tempat yang paling mendasar:

MULIAKAN GURUNYA. SEJAHTERAKAN GURUNYA. DENGARKAN GURUNYA.

Sebab apabila guru terus dilupakan, jangan salahkan masa depan apabila suatu hari nanti memilih meninggalkan Aceh.

Selamat Hari Pendidikan Daerah Aceh ke-67

Jangan hanya bangga memiliki pendidikan. Pastikan kita masih memiliki guru yang mampu hidup dengan layak untuk memperjuangkan masa depan anak-anak Aceh.

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com