![]() |
Oleh: JM. Saiful, SE., MM Kandidat Doktor Ilmu Politik dan Sosial Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh Korwil Partai Gerakan Rakyat Provinsi Aceh |
“Bahaya terbesar ketika prestasi kalah dengan koneksi adalah matinya keadilan dan meritokrasi.”
Di tengah tuntutan terhadap tata kelola pemerintahan dan kehidupan sosial yang semakin transparan, persoalan meritokrasi kembali menjadi isu penting.
Menurut pandangan JM Saiful, kesempatan seharusnya diberikan berdasarkan kompetensi, integritas, pengalaman, kinerja, dan prestasi, bukan semata-mata karena hubungan pribadi, kedekatan politik, atau jaringan kekuasaan.
Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut siapa yang memperoleh jabatan atau kesempatan. Jika orang yang memiliki kemampuan dan rekam jejak yang baik justru tersisih karena tidak memiliki koneksi, sementara mereka yang memiliki kedekatan memperoleh ruang lebih besar, maka dampaknya dapat meluas menjadi persoalan kepercayaan publik terhadap institusi dan sistem.
“Jangan sampai orang yang bekerja keras kalah oleh orang yang memiliki koneksi. Jika prestasi tidak lagi menjadi ukuran, generasi muda akan kehilangan keyakinan bahwa pendidikan, kerja keras, kompetensi, dan integritas memiliki arti,” ujar JM Saiful.
Dalam perspektif tata kelola yang baik, meritokrasi bukan berarti menghapus jaringan sosial atau hubungan antarmanusia. Silaturahmi dan relasi sosial merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat. Namun, hubungan tersebut semestinya tidak berubah menjadi akses istimewa yang mengalahkan objektivitas dan kompetensi.
Lebih jauh, ketika praktik mengutamakan koneksi berlangsung secara berulang dan dianggap sebagai sesuatu yang normal, masyarakat dapat membangun persepsi bahwa keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kemampuan, melainkan oleh siapa yang dikenal dan siapa yang dapat memberikan akses.
Jika persepsi tersebut berkembang, dampaknya sangat serius. Generasi muda dapat kehilangan motivasi untuk meningkatkan pendidikan, keterampilan, pengalaman, dan integritas karena merasa bahwa kerja keras tidak menjamin adanya kesempatan yang adil.
Pada tingkat kelembagaan, kondisi demikian juga berpotensi menurunkan kualitas organisasi. Ketika posisi strategis tidak ditempati oleh orang yang paling kompeten, maka keputusan yang dihasilkan berisiko tidak optimal. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat memengaruhi kualitas pelayanan publik, produktivitas lembaga, serta kepercayaan masyarakat.
Karena itu, prestasi harus berjalan bersama integritas. Kompetensi tanpa integritas dapat melahirkan penyalahgunaan kewenangan, sementara integritas tanpa kompetensi juga tidak cukup untuk menjalankan tanggung jawab yang semakin kompleks.
JM Saiful menilai, sistem yang sehat harus mampu menciptakan ruang kompetisi yang terbuka, transparan, dan dapat dipertanggung jawabkan. Setiap orang harus memiliki kesempatan yang proporsional untuk menunjukkan kemampuan berdasarkan kriteria yang jelas dan terukur.
“Koneksi boleh membuka pintu silaturahmi, tetapi prestasi, kompetensi, dan integritas harus menentukan siapa yang layak berada di dalamnya. Negara yang sehat adalah negara yang memberi kesempatan berdasarkan kemampuan, bukan kedekatan.”
Meritokrasi sebagai Investasi Masa Depan
Meritokrasi pada akhirnya bukan hanya persoalan pengisian jabatan atau pembagian kesempatan. Ia merupakan investasi terhadap masa depan institusi dan generasi.
Masyarakat yang percaya bahwa sistem bekerja secara adil akan terdorong untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Sebaliknya, masyarakat yang merasa bahwa koneksi selalu mengalahkan prestasi dapat mengalami apatisme dan kehilangan kepercayaan terhadap sistem.
Oleh karena itu, diperlukan keberanian untuk membangun budaya yang menghargai kinerja, kompetensi, integritas, rekam jejak, dan tanggung jawab. Rekrutmen, promosi, pemberian penghargaan, maupun penempatan seseorang pada posisi tertentu semestinya dapat dijelaskan melalui ukuran yang objektif, bukan berdasarkan kedekatan.
Dalam konteks pembangunan daerah dan nasional, prinsip tersebut semakin penting. Tantangan pemerintahan dan masyarakat ke depan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki jaringan, tetapi juga mampu bekerja, berpikir kritis, berintegritas, serta menghasilkan solusi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah sistem bukanlah seberapa banyak orang yang memiliki koneksi, melainkan seberapa adil sistem tersebut memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki kemampuan untuk berkontribusi.
Jika prestasi dihargai, generasi muda akan terdorong untuk bekerja keras. Jika integritas dijunjung, masyarakat akan percaya. Namun, jika koneksi terus-menerus mengalahkan kompetensi, yang terancam bukan hanya karier seseorang, melainkan masa depan keadilan dan kualitas institusi itu sendiri.

0 Komentar