Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

JIKA TAK SETUJU, MENULISAH! JANGAN HANYA BERDEBAT DAN MENGANCAM

OPINI

Mengembalikan Martabat Diskursus Akademik di Tengah Budaya "Grup WhatsApp"

Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Pengamat Kebijakan Publik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh

Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Wartawan Internasional (ASWIN) DPD Aceh

Salah satu ciri masyarakat yang maju bukanlah banyaknya orang yang pandai berbicara, melainkan banyaknya orang yang mampu melahirkan gagasan.

Peradaban besar tidak dibangun oleh mereka yang gemar mencela karya orang lain, tetapi oleh mereka yang berani berpikir, menulis, dan mempertanggung jawabkan pikirannya di ruang publik. Sayangnya, yang kita saksikan belakangan justru menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan.

Ketika sebuah artikel atau opini dipublikasikan, tidak sedikit orang yang langsung bereaksi tanpa membaca secara utuh. Ada yang hanya membaca judul, ada yang sekadar mengikuti komentar orang lain, bahkan ada yang terburu-buru menyimpulkan isi tulisan tanpa memahami konteksnya. Yang lebih memprihatinkan lagi, sasaran kritik bukan lagi substansi tulisan, melainkan pribadi penulisnya.

Kalimat seperti “Ah, itu hanya opini.”, "Dia memang pandai menulis artikel.", atau "Apa yang sudah dia perbuat?" Lebih parah lagi ucapannya, “Dia memang sering mencari kesalahan orang lain”, itulah kata yang sering dilontarkan seolah-olah telah menjadi bantahan ilmiah untuk sebuah tulisan. Padahal, itu bukan argumentasi, melainkan penilaian personal yang sama sekali tidak menjawab isi tulisan. Bahkan terkesan hilang substantif, argumentatif dan  akademik.

Dalam logika, cara seperti ini dikenal sebagai ad hominem, yaitu kekeliruan berpikir yang menyerang orangnya, bukan argumennya. Dalam tradisi akademik, serangan semacam itu bukan tanda kecerdasan, tetapi justru menunjukkan lemahnya argumentasi.

Sebuah opini yang telah dipublikasikan bukan lagi milik penulisnya. Ia telah menjadi milik publik. Publik berhak menyetujui, mengkritik, bahkan membantahnya. Namun, bantahan yang bermartabat adalah bantahan yang dibangun di atas data, teori, logika, dan tulisan tandingan, bukan sindiran, ejekan, atau perdebatan emosional di grup percakapan.

Filsuf ilmu Karl Popper menjelaskan bahwa ilmu berkembang melalui falsification, yakni keberanian menguji dan membantah suatu gagasan dengan bukti dan argumentasi yang lebih kuat. Artinya, jika sebuah opini dianggap keliru, jawaban yang paling ilmiah bukanlah menyerang penulisnya, melainkan menyusun tulisan yang lebih baik.

Sementara itu, Jürgen Habermas melalui teori Communicative Action menegaskan bahwa tujuan komunikasi adalah mencari kebenaran bersama, bukan memenangkan perdebatan. Sayangnya, ruang digital hari ini sering berubah menjadi arena adu ego. Yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan tepuk tangan kelompoknya sendiri.

Lebih ironis lagi, sebagian orang begitu rajin mengomentari dan menyalahkan tulisan orang lain, tetapi tidak pernah menghasilkan satu pun tulisan untuk diuji oleh publik. Kritik tentu penting, tetapi kritik tanpa karya sering kali hanya menjadi kebisingan yang segera dilupakan.

Sejarah membuktikan bahwa kemajuan ilmu lahir dari perdebatan yang bermartabat. Ketika Albert Einstein berbeda pendapat dengan Niels Bohr tentang mekanika kuantum, keduanya saling membalas melalui teori, eksperimen, dan publikasi ilmiah. Tidak ada saling merendahkan. Perbedaan mereka justru melahirkan lompatan besar dalam fisika modern.

Begitu pula perdebatan antara Karl Popper dan Thomas Kuhn tentang perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka tidak saling menyerang secara pribadi. Mereka membangun argumentasi yang kemudian menjadi fondasi penting dalam filsafat ilmu hingga hari ini.

Di Indonesia, Nurcholish Madjid memantik polemik besar tentang pembaruan pemikiran Islam. Kritik terhadapnya datang dari berbagai kalangan, tetapi banyak di antaranya disampaikan melalui buku, artikel, jurnal, dan seminar. Demikian pula Buya Hamka, yang gagasannya diperdebatkan melalui karya tulis. Sejarah akhirnya lebih mengingat karya-karya mereka daripada suara-suara yang sekadar mencemoohnya.

Aceh sendiri memiliki warisan intelektual yang sangat membanggakan. Syekh Hamzah Fansuri, Syekh Nuruddin ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf as-Singkili melahirkan karya-karya besar yang diperdebatkan melalui kitab, risalah, dan forum keilmuan. Perbedaan pandangan memang terjadi, tetapi tetap berada dalam koridor ilmu. Tidak ada tradisi menjatuhkan martabat seseorang hanya karena berbeda pendapat.

Ironisnya, di era media sosial, sebagian orang justru merasa cukup menjadi “hakim” tanpa pernah menjadi “penulis”. Mereka cepat mengomentari, tetapi lambat membaca. Cepat menyalahkan, tetapi enggan meneliti. Cepat mencibir, tetapi tidak pernah menawarkan solusi, bahkan yang muncul hanya emosi.

Fenomena ini berkaitan dengan apa yang dikenal sebagai Dunning–Kruger Effect, yakni kecenderungan seseorang yang memiliki pengetahuan terbatas merasa paling memahami suatu persoalan. Sebaliknya, orang yang benar-benar menguasai ilmu biasanya lebih rendah hati karena menyadari betapa luasnya wilayah yang belum ia ketahui.

Lebih jauh, filsuf Byung-Chul Han mengingatkan bahwa masyarakat digital cenderung kehilangan budaya refleksi. Semua orang ingin menjadi komentator, tetapi sedikit yang bersedia menjadi peneliti. Semua ingin menjadi pengkritik, tetapi tidak banyak yang mau menghasilkan karya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, saya selalu meyakini satu prinsip sederhana. Jika Anda tidak setuju dengan sebuah opini, jangan habiskan energi untuk menyerang atau mengancam penulisnya. Tulislah opini tandingan. Sajikan data yang lebih kuat. Gunakan teori yang lebih kokoh. Bangun argumentasi yang lebih meyakinkan. Itulah bahasa kaum terdidik. Itulah tradisi akademik.

Grup WhatsApp bukan ruang untuk menentukan benar atau salahnya sebuah gagasan. Ia hanya ruang komunikasi. Adapun ruang pengujian gagasan adalah media, jurnal, buku, seminar, dan forum ilmiah yang memungkinkan setiap argumen diuji secara terbuka oleh publik.

Pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling sering berdebat di grup percakapan. Sejarah hanya mengenang mereka yang meninggalkan jejak pemikiran melalui karya.

Maka, marilah kita menghidupkan kembali budaya membaca sebelum menghakimi, memahami sebelum menyimpulkan, dan menulis sebelum mencela. Karena peradaban tidak dibangun oleh mereka yang gemar merendahkan karya orang lain, tetapi oleh mereka yang terus melahirkan gagasan untuk mencerahkan kehidupan bersama.

Ingat : Peradaban tidak runtuh karena banyaknya perbedaan pendapat. Peradaban runtuh ketika gagasan berhenti dijawab dengan gagasan, lalu digantikan oleh cacian dan ancaman.

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com