![]() |
Oleh: Teuku Muhammad Jamil Ilmuwan Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala, Aceh. GP-News Minggu, 30 Agustus 2026 |
OPINI
Ketika Nama Ulama Aceh Dikalahkan oleh Prasangka dan Kemalasan Intelektual
ADA sesuatu yang ironis, bahkan memalukan, dalam cara sebagian orang di luar Aceh memahami Universitas Syiah Kuala. Mereka membaca kata “Syiah”, lalu berhenti berpikir.
Mereka tidak bertanya sejarahnya. Tidak menelusuri asal-usulnya. Tidak membuka literatur. Tidak mencoba memahami kebudayaan Aceh. Mereka hanya melihat sebuah kata, kemudian tergesa-gesa memberikan vonis: “Oh, itu kampus Syi’ah.” Selesai.
Sejarah kalah oleh prasangka. Pengetahuan dikalahkan oleh asumsi. Dan sebuah universitas besar harus menanggung beban kesalahan orang lain yang malas membaca. Inilah persoalan sebenarnya.
Universitas Syiah Kuala tidak bermasalah. Yang bermasalah adalah cara sebagian orang membaca.
SYIAH KUALA BUKAN SYI'AH
Harus dikatakan dengan terang, keras, dan tanpa diplomasi berlebihan: Syiah Kuala bukan Syi'ah.
Universitas Syiah Kuala tidak dinamai dari sebuah mazhab atau aliran keagamaan. Nama itu diambil dari seorang ulama besar Aceh dan Nusantara, Teungku Syiah Kuala atau Syekh Abdurrauf As-Singkili.
Dalam sejarah dan tradisi Aceh, Syiah Kuala merupakan sebutan bagi seorang ulama besar yang memiliki kedalaman ilmu dan otoritas keagamaan.
Sejumlah dokumen sejarah resmi USK menjelaskan bahwa nama universitas tersebut ditabalkan untuk mengenang Syekh Abdurrauf As-Singkili, seorang ulama, pendidik, mufti, dan tokoh intelektual Aceh yang tinggal dan mengembangkan pendidikan di kawasan Kuala Aceh.
Dalam tradisi tutur Aceh, istilah tersebut berkaitan dengan sebutan syeikh atau syekh, yang mengalami transformasi pengucapan dan penyesuaian dalam bahasa lokal.
Buku resmi tentang nilai-nilai keunsyiahan USK bahkan menjelaskan bahwa sebutan Syiah dalam konteks tersebut berhubungan dengan pengucapan lokal terhadap syeikh, bukan dengan identitas mazhab Syi'ah.
Karena itu, menyamakan Syiah Kuala dengan Syi'ah sebagai aliran atau mazhab adalah kesalahan kategoris.
Secara sederhana: Syiah Kuala adalah nama dan identitas historis seorang ulama Aceh.
Syi'ah adalah istilah untuk salah satu tradisi atau aliran dalam Islam.
Tulisan mungkin tampak mirip. Tetapi sejarahnya berbeda. Maknanya berbeda. Konteksnya berbeda. Dan orang yang berpendidikan seharusnya memahami perbedaan itu.
KITA HIDUP DI ZAMAN GOOGLE, TETAPI MASIH MALAS MEMBACA
Yang paling mengherankan adalah: kita hidup pada zaman ketika informasi berada di ujung jari, tetapi kesalahpahaman justru semakin mudah berkembang.
Orang bisa mengetahui segala sesuatu dalam hitungan detik. Tetapi mereka memilih tidak mengetahui. Orang bisa mencari sejarah Syiah Kuala. Tetapi mereka lebih suka percaya pada bisikan.
Orang bisa membaca sumber resmi. Tetapi mereka lebih percaya pada potongan informasi di media sosial. Ini adalah penyakit intelektual zaman modern: informasi melimpah, tetapi kemauan memahami semakin langka.
Kita jangan salah memahami persoalan. Ini bukan sekadar masalah komunikasi. Ini adalah masalah kemalasan epistemologis.
Orang tidak salah paham karena tidak tersedia informasi. Sering kali mereka salah paham karena tidak mau melakukan usaha paling sederhana untuk mengetahui kebenaran.
Mereka ingin kesimpulan sebelum membaca. Mereka ingin vonis sebelum penelitian. Mereka ingin curiga tanpa pengetahuan. Dan ketika prasangka sudah menjadi cara berpikir, fakta tidak lagi penting.
USK TIDAK BOLEH TERUS-MENERUS MENJADI TERSANGKA
Selama bertahun-tahun, persoalan kesalahpahaman terhadap nama Universitas Syiah Kuala pernah menjadi diskursus publik. Bahkan pada masa penggunaan singkatan Unsyiah, terdapat laporan bahwa sebagian masyarakat di luar Aceh dan bahkan luar negeri menghubungkan nama tersebut dengan aliran Syi'ah. Hal ini pernah menjadi alasan munculnya diskusi terbuka mengenai penamaan universitas.
Namun sejarah kemudian menunjukkan satu hal penting. Nama itu tidak salah. Yang perlu diperbaiki adalah cara orang memahaminya.
Perubahan singkatan dari Unsyiah menjadi USK sejak 1 Januari 2021 merupakan bagian dari penyesuaian kelembagaan dan representasi seluruh unsur nama Universitas Syiah Kuala. Namun perubahan singkatan tidak berarti sejarah harus dihapus. Justru di sinilah persoalan filosofisnya.
Apakah setiap kali suatu nama disalahpahami, pemilik nama harus mengganti dirinya?
Kalau begitu, kita sedang mengajarkan sebuah logika yang berbahaya. Yang tidak tahu diberi kekuasaan menentukan identitas orang yang tahu.
Yang salah membaca menjadi hakim bagi sejarah. Yang malas memahami justru memaksa sejarah untuk berubah agar sesuai dengan keterbatasan pemahamannya. Tidak.
Itu bukan jalan pendidikan. Itu adalah kekalahan pendidikan. Universitas tidak boleh terus-menerus meminta maaf karena orang lain tidak membaca.
TETAPI USK JUGA TIDAK BOLEH BERPUAS DIRI
Di sisi lain, kita juga harus jujur. Mengatakan bahwa pihak luar salah memahami tidak otomatis membebaskan kita dari tanggung jawab.
Jika kesalahpahaman terus terjadi, berulang, dan bahkan berpotensi memengaruhi calon mahasiswa, maka USK tidak cukup hanya mengatakan: “Silakan baca sejarah kami.”
Itu terlalu pasif.
Universitas modern tidak hanya menjaga identitas. Universitas modern harus mengelola identitasnya.
Di sinilah saya melihat bahwa persoalan Syiah Kuala harus diperlakukan bukan sebagai persoalan flyer, banner, atau sekadar slogan.
Kita membutuhkan strategi kebudayaan dan komunikasi intelektual yang jauh lebih besar.
Bukan lagi sekadar:
“Syiah Kuala bukan Syi'ah.” Tetapi: “Kenali Syiah Kuala: Tradisi Ulama, Ilmu Pengetahuan, dan Peradaban Aceh.”
Narasinya harus diubah. Dari defensif menjadi ofensif. Dari membantah menjadi menjelaskan. Dari sekadar meluruskan kesalahpahaman menjadi memperkenalkan sebuah peradaban.
JANGAN LAWAN HOAKS DENGAN FLYER
Kalau flyer sudah dibuat tetapi kesalahpahaman masih terjadi, maka masalahnya bukan kurang flyer. Masalahnya adalah strategi komunikasinya terlalu kecil untuk menghadapi persoalan yang lebih besar.
USK harus membangun sebuah narasi tunggal dan konsisten yang digunakan dalam seluruh komunikasi nasional dan internasional.
Setiap orang yang membuka informasi tentang universitas ini harus segera menemukan satu penjelasan yang sederhana:
SYIAH KUALA = TENGKU SYEKH ABDURRAUF AS-SINGKILI
Bukan Syi'ah sebagai mazhab. Penjelasan tersebut harus menjadi bagian permanen dari:
- halaman utama website berbahasa Indonesia dan Inggris;
- profil penerimaan mahasiswa baru;
- materi promosi nasional;
- seluruh kerja sama internasional;
- video profil universitas;
- Google Knowledge dan ensiklopedia digital;
- Wikipedia dan sumber referensi publik;
- media sosial resmi;
- mesin pencari;
- setiap profil akademik internasional.
Sebab persoalan hari ini bukan hanya apa yang USK katakan tentang dirinya.
Tetapi juga: Apa yang muncul ketika dunia mengetik kata “Syiah Kuala” di mesin pencari?
Itulah medan pertempuran sesungguhnya.
USK HARUS MEREBUT NARASI DIGITAL
Kita harus sadar bahwa universitas pada abad ke-21 hidup bukan hanya di Darussalam.
Universitas hidup di Google. Universitas hidup di media sosial. Universitas hidup dalam algoritma. Universitas hidup dalam persepsi digital.
Seorang calon mahasiswa di Jakarta, Makassar, Medan, Papua, Malaysia, atau Timur Tengah mungkin belum pernah datang ke Banda Aceh. Tetapi sebelum datang, ia akan mencari informasi. Dan jika informasi pertama yang muncul menimbulkan kebingungan, maka keraguan sudah tercipta sebelum calon mahasiswa mengenal kampusnya.
Karena itu, USK perlu melakukan apa yang saya sebut sebagai: “Gerakan Reposisi Identitas Syiah Kuala.”
Bukan mengganti nama. Bukan menghapus sejarah. Tetapi menempatkan sejarah pada posisi yang benar dalam kesadaran publik.
Universitas Syiah Kuala berdiri sejak 1961 dan merupakan perguruan tinggi negeri tertua di Aceh, dengan posisi historis yang sangat kuat dalam pembangunan pendidikan daerah. USK sendiri menegaskan identitasnya sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh. Maka jangan biarkan sebuah kesalahpahaman linguistik mengalahkan sejarah intelektual lebih dari setengah abad.
ACEH JUGA HARUS IKUT BICARA
Persoalan ini tidak boleh dibebankan hanya kepada pimpinan universitas.
Syiah Kuala adalah bagian dari sejarah Aceh. Karena itu, Aceh harus ikut menjelaskannya.
Pemerintah Aceh, ulama, sejarawan, akademisi, budayawan, media, alumni, mahasiswa, bahkan masyarakat biasa harus mempunyai pemahaman yang sama.
Ketika orang bertanya:
“Apakah Universitas Syiah Kuala kampus Syi'ah?”
Jawabannya harus seragam:
“Tidak. Syiah Kuala adalah nama seorang ulama besar Aceh, Teungku Syekh Abdurrauf As-Singkili.”
Sederhana. Tegas. Tidak defensif. Tidak emosional. Tetapi berbasis sejarah. Justru di sinilah kecerdasan masyarakat diuji.
Kita tidak boleh marah setiap kali orang bertanya. Tetapi kita juga tidak boleh membiarkan pertanyaan itu terus berkembang menjadi kesimpulan yang salah.
SEJARAH ACEH TERLALU BESAR UNTUK DIKALAHKAN OLEH SALAH BACA
Ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada kesalahpahaman terhadap nama universitas. Yaitu ketika generasi Aceh sendiri mulai kehilangan kemampuan menjelaskan sejarahnya.
Bayangkan ironi itu. Kita marah ketika orang luar salah memahami Syiah Kuala.
Tetapi apakah seluruh mahasiswa USK sendiri memahami siapa Syiah Kuala?
Apakah seluruh alumni mampu menjelaskan Syekh Abdurrauf As-Singkili?
Apakah masyarakat Aceh memahami mengapa nama seorang ulama besar dipilih untuk universitas?
Kalau jawabannya belum sepenuhnya, maka kita harus jujur:
Masalahnya bukan hanya berada di luar Aceh. Masalahnya juga berada di dalam rumah kita sendiri. Jangan meminta dunia menghormati sejarah yang kita sendiri malas mempelajarinya.
SEBUAH UNIVERSITAS HARUS MENJADI PRODUSEN PENGETAHUAN, BUKAN KORBAN KESALAH-PAHAMAN
Memiliki akademisi.
Memiliki ahli sejarah.
Memiliki ahli bahasa.
Memiliki pakar agama.
Memiliki pakar komunikasi.
Memiliki mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu.
Mengapa persoalan ini tidak dijadikan proyek intelektual besar?
Buat Pusat Studi Syiah Kuala dan Peradaban Aceh.
Lakukan penelitian filologis. Lakukan kajian linguistik. Terbitkan buku dalam Bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Melayu, dan bahasa-bahasa strategis lainnya.
Produksi film dokumenter. Buat serial pendek digital. Masukkan sejarah Syiah Kuala dalam program orientasi mahasiswa baru.
Bangun museum digital. Dan yang paling penting: Dominasi ruang digital dengan pengetahuan, bukan sekadar klarifikasi. Sebab hoaks tidak akan mati hanya dengan bantahan. Hoaks mati ketika pengetahuan yang benar menjadi lebih mudah ditemukan daripada kebohongan.
JANGAN GANTI NAMA HANYA KARENA ORANG LAIN MALAS MEMBACA
Saya ingin mengatakan ini dengan sangat jelas:
Jangan pernah mengganti sejarah hanya untuk menyenangkan ketidaktahuan.
Hari ini mungkin ada orang salah membaca “Syiah”. Besok mungkin ada yang salah memahami “Kuala”.
Apakah kita akan terus mengganti identitas setiap kali dunia gagal memahami Aceh ?Tidak. Universitas Syiah Kuala harus tetap Universitas Syiah Kuala.
USK adalah singkatan kelembagaan yang tepat untuk kebutuhan komunikasi modern. Tetapi Syiah Kuala adalah akar sejarahnya. Dan akar tidak boleh dicabut hanya karena ada orang yang tidak memahami pohon. Justru tugas universitas adalah mengajarkan dunia bagaimana membaca pohon itu.
AKHIR KATA: MASALAHNYA BUKAN NAMA, TETAPI CARA BERPIKIR
Akhirnya, kita harus mengembalikan persoalan ini kepada tempat yang semestinya.
Syiah Kuala bukan masalah. Nama itu tidak perlu dipertanggungjawabkan. Sejarahnya jelas. Tokohnya jelas. Maknanya jelas. Yang tidak jelas adalah mengapa, di tengah dunia pendidikan yang semakin maju, masih ada orang yang berani menyimpulkan sesuatu tanpa membaca.
Maka pekerjaan kita bukan mengganti nama. Pekerjaan kita adalah mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan. Bukan dengan kemarahan. Bukan dengan ketakutan. Tetapi dengan kerja intelektual yang sistematis, modern, dan agresif. Karena sebuah universitas tidak boleh kalah oleh kesalahpahaman.
Sebuah universitas harus menjadi tempat di mana kesalahpahaman datang untuk dikoreksi. Dan kepada siapa pun yang masih bertanya apakah Syiah Kuala identik dengan Syi'ah, jawaban kita sederhana: Jangan hanya membaca kata. Bacalah sejarah.
Karena kadang-kadang, masalah terbesar bangsa ini bukan kekurangan informasi. Masalah terbesar kita adalah terlalu banyak orang ingin berpendapat, tetapi terlalu sedikit yang bersedia membaca.
Universitas Syiah Kuala tidak perlu mengganti sejarahnya. Indonesia dan dunia hanya perlu belajar membaca Aceh dengan benar.
- Teuku Muhammad Jamil
- Ilmuwan Politik & Akademisi Universitas Syiah Kuala, Aceh
- Anggota Senat Akademik USK, Aceh (Periode 2010 - 2022)

0 Komentar