Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

GUGATAN TERHADAP ELITE ACEH: PENONTON TIDAK PERNAH MENENTUKAN PERMAINAN


Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Pengamat Pol-Sos & Akademisi USK, Aceh
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

OPINI

GUGATAN TERHADAP ELITE ACEH: PENONTON TIDAK PERNAH MENENTUKAN PERMAINAN

81 Tahun Indonesia Merdeka, 21 Tahun Aceh Damai, dan Gugatan terhadap Elite yang Terlalu Lama Bernostalgia

Dalam politik, ekonomi maupun sejarah, penonton hanya melihat.
Pemain mengambil keputusan. Penonton berkomentar. Pemain menanggung risiko. Penonton mengkritik. Pemain bekerja. Penonton menunggu hasil. Pemain menciptakan hasil.

Karena itu, jika anak-anak bangsawan atau Elite Aceh hanya sibuk mengagungkan masa lalu, sementara orang lain menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, birokrasi, politik dan jaringan global, maka jangan salahkan siapa pun jika suatu hari kita kehilangan relevansi.

Sejarah tidak memberi hadiah kepada mereka yang hanya mengenang. Sejarah memberi tempat kepada mereka yang bertindak.

Ada pertanyaan yang mungkin terdengar provokatif, bahkan mengganggu kenyamanan sebagian orang:

Jika Aceh memiliki sejarah kebangsawanan yang panjang, mengapa dalam pertarungan modern di tingkat nasional kita justru lebih sering menjadi penonton daripada pemain utama?

Pertanyaan ini tidak bermaksud menghidupkan kembali feodalisme. Justru sebaliknya.

Pertanyaan ini adalah kritik terhadap kebangsawanan yang kehilangan fungsi sosialnya.

Sebab di dalam masyarakat modern, seseorang tidak lagi dihormati karena darah yang mengalir dalam tubuhnya, tetapi karena apa yang mengalir dari pikirannya, apa yang dikerjakan tangannya, dan apa yang diberikan hidupnya kepada masyarakat.

Di sinilah letak persoalannya.

Aceh memiliki banyak nama besar. Tetapi apakah kita memiliki cukup banyak gagasan besar?

Aceh memiliki banyak orang yang bangga terhadap leluhur. Tetapi apakah kita memiliki cukup banyak orang yang berani menjadi leluhur bagi generasi berikutnya?

Ini dua hal yang sangat berbeda.

Jangan Sampai Kita Menjadi Bangsawan yang Hanya Pandai Mengenang

Ada masyarakat yang menjadikan sejarah sebagai sumber inspirasi. Ada pula masyarakat yang menjadikan sejarah sebagai tempat berlindung.

Perbedaannya sangat sederhana.

Masyarakat pertama berkata:

Karena leluhur kami pernah hebat, maka kami harus lebih hebat.”

Masyarakat kedua berkata:

“Karena leluhur kami pernah hebat, maka kami sudah cukup bangga.”

Saya khawatir, sebagian kita mulai terjebak pada yang kedua.

Kita begitu rajin mengulang nama-nama besar masa lalu, tetapi tidak cukup rajin melahirkan nama-nama besar baru. Kita menghafal silsilah, tetapi tidak selalu membangun kapasitas.

Kita memperdebatkan siapa keturunan siapa, tetapi tidak selalu memperdebatkan siapa yang paling mampu menyelesaikan persoalan rakyat.

Kita bangga dengan sejarah perdagangan Aceh, tetapi ekonomi modern kita masih sangat bergantung pada aktivitas konsumsi dan belanja pemerintah. Kita bangga dengan tradisi intelektual ulama Aceh, tetapi kualitas pendidikan dan riset masih harus terus diperjuangkan. Dan Kita bangga dengan keberanian para pejuang, tetapi kadang generasi sekarang terlalu takut mengambil risiko.

Ironi semacam inilah yang harus kita bongkar.

Jangan sampai sejarah yang seharusnya menjadi bahan bakar justru berubah menjadi selimut yang membuat kita tertidur.

Elite yang Tidak Berubah Akan Digantikan

Dalam teori politik klasik, elite bukanlah sesuatu yang statis. Pareto berbicara mengenai circulation of elites—sirkulasi elite. Artinya, dalam setiap masyarakat selalu terjadi pergantian, regenerasi dan perubahan komposisi kelompok yang memegang pengaruh.

Elite lama dapat bertahan jika mampu beradaptasi. Elite baru dapat muncul jika memiliki kemampuan menawarkan sesuatu yang lebih relevan.

Di sinilah kita harus jujur kepada diri sendiri.

Kebangsawanan Aceh pernah menjadi sumber legitimasi sosial dan politik. Tetapi legitimasi itu tidak otomatis diwariskan secara utuh kepada generasi berikutnya.

Mengapa?

Karena masyarakat berubah. Dulu seseorang dapat dihormati karena garis keturunan.

Hari ini masyarakat semakin bertanya:

Pendidikannya apa?

Karyanya apa?

Integritasnya bagaimana?

Kemampuannya apa?

Apa kontribusinya kepada masyarakat?

Apa yang bisa ia lakukan untuk Aceh?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan penghinaan terhadap kebangsawanan.

Justru itulah ujian kebangsawanan di era modern.

Dari Feodalisme Menuju Meritokrasi

Kita harus berani mengatakan bahwa Aceh tidak mungkin kembali ke struktur feodal masa lalu. Dan memang tidak perlu.

Indonesia telah memilih demokrasi. Konstitusi menjamin persamaan kedudukan warga negara. Maka tidak ada seorang pun yang berhak memperoleh kekuasaan hanya karena memiliki nama besar.

Tetapi ada sebuah paradoks:

Demokrasi tidak menghapus elite.

Demokrasi justru melahirkan elite baru melalui kompetisi.

Pertanyaannya kemudian:

Elite seperti apa yang ingin dilahirkan Aceh?

Elite yang hanya pintar bernegosiasi dengan kekuasaan?

Elite yang hanya kuat ketika musim pemilu?

Elite yang hanya dekat dengan pejabat?

Elite yang hidup dari proyek?

Atau elite yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, kebudayaan dan jaringan global?

Di sinilah anak-anak bangsawan Aceh memiliki pilihan sejarah.

Kita bisa mempertahankan identitas tanpa mempertahankan feodalisme. Kita bisa menghormati leluhur tanpa mengultuskan keturunan. Kita bisa menjaga adat tanpa menolak modernitas. Kita bisa mempertahankan marwah tanpa meminta keistimewaan.

Dan yang paling penting:”

Kita bisa menjadi bangsawan secara kultural, tetapi menjadi demokrat secara politik. Itulah sintesis yang seharusnya kita bangun.

Masalah Terbesar Bukan Kehilangan Kekuasaan, Tetapi Kehilangan Arah

Ada satu kesalahan dalam membaca sejarah bangsawan. Orang sering menganggap bahwa masalah utama adalah hilangnya kekuasaan.

Menurut saya, bukan itu.

Kehilangan kekuasaan adalah konsekuensi sejarah. Yang lebih berbahaya adalah kehilangan orientasi.

Ketika seseorang kehilangan jabatan, ia masih bisa membangun. Ketika kehilangan kekuasaan, ia masih bisa berkarya. Ketika kehilangan status, ia masih bisa memperoleh kehormatan.

Tetapi ketika kehilangan visi, ia tidak tahu lagi untuk apa dirinya hidup. Karena itu saya tidak ingin melihat anak-anak bangsawan Aceh sibuk mengejar masa lalu. Saya ingin melihat mereka mengejar masa depan.

Jangan bertanya:

“Bagaimana mengembalikan kejayaan dahulu?”

Tetapi tanyakan:

“Bagaimana menciptakan kejayaan yang belum pernah ada sebelumnya?”

Aceh Tidak Butuh Nostalgia, Aceh Butuh Transformasi

Kita harus berhenti memandang kejayaan Aceh hanya melalui kacamata masa lalu. Kejayaan Aceh abad ke-21 tidak harus berbentuk kerajaan besar.

Kejayaan Aceh dapat berupa:

universitas yang diperhitungkan dunia;

ilmuwan yang menemukan teknologi;

pengusaha yang membangun industri;

petani yang menguasai teknologi;

nelayan yang menjadi pelaku ekonomi maritim modern;

anak muda yang mampu bersaing secara global;

seniman yang membawa budaya Aceh ke dunia;

politisi yang bersih;

birokrat yang profesional;

jurnalis yang independen;

dan masyarakat yang hidup sejahtera.

Jika semua itu terwujud, itulah kejayaan Aceh modern. Bukan istana yang besar. Bukan gelar yang panjang. Dan Bukan seremoni yang megah. Tetapi manusia yang bermartabat dan bukan manusia penjilat pada kekuasaan.

Jangan Salah Mengartikan Perdamaian

Dua puluh satu tahun damai adalah modal sejarah yang sangat besar. Tetapi perdamaian bukan tujuan akhir. Perdamaian adalah platform untuk membangun masa depan.

Kalau setelah 21 tahun damai kita hanya menghasilkan elite yang semakin nyaman dengan kekuasaan, sementara anak muda masih mencari pekerjaan ke luar Aceh, maka kita harus berani bertanya: Apa yang salah dengan desain pembangunan kita?

Kalau sumber daya alam masih menjadi bahan perdebatan tanpa menghasilkan kesejahteraan yang proporsional bagi masyarakat, kita harus bertanya: Siapa yang menikmati nilai tambahnya?

Kalau politik lokal semakin matang secara elektoral tetapi belum cukup kuat secara gagasan, kita harus bertanya: Apakah demokrasi kita hanya berhasil memilih penguasa, atau juga berhasil menghasilkan kebijakan yang baik?


Dan kalau anak-anak bangsawan Aceh masih sibuk membanggakan sejarah sementara arena ekonomi, teknologi, pendidikan dan politik nasional dikuasai orang lain, maka pertanyaannya semakin tajam: Apakah kita benar-benar mewarisi semangat kepemimpinan leluhur, atau hanya mewarisi nama mereka?

Perdamaian Harus Melahirkan Generasi Baru

MoU Helsinki seharusnya tidak hanya dibaca sebagai akhir konflik. Ia harus dibaca sebagai awal transformasi sosial Aceh. Generasi yang lahir setelah perdamaian tidak boleh hanya menjadi generasi yang hafal sejarah konflik.

Mereka harus menjadi generasi yang mampu menjawab:

Bagaimana Aceh menjadi pusat ekonomi?

Bagaimana Aceh menjadi pusat pendidikan?

Bagaimana Aceh menjadi pusat inovasi?

Bagaimana Aceh mengelola sumber daya alam dengan adil?

Bagaimana Aceh membangun industri sendiri?

Bagaimana Aceh memasuki jaringan ekonomi global?

Dan di sinilah elite tradisional harus mengambil peran. Bukan sebagai penguasa masa lalu.

Tetapi sebagai mentor masa depan.

Bangun Dinasti Kebaikan, Bukan Dinasti Kekuasaan

Saya tidak percaya bahwa semua bentuk pewarisan antargenerasi adalah buruk. Yang buruk adalah ketika yang diwariskan hanyalah akses terhadap kekuasaan.

Tetapi kalau yang diwariskan adalah:

ilmu, karakter, kedisiplinan, jaringan sosial, etos kerja, kepedulian, kemandirian, dan keberanian mengambil risiko,nmaka itu bukan dinasti kekuasaan. Itu adalah dinasti kebaikan.

Kita seharusnya membangun keluarga-keluarga Aceh yang selama beberapa generasi konsisten melahirkan:

doktor, profesor, pengusaha, ulama, seniman, teknokrat, diplomat, peneliti, politisi bersih, dan pemimpin masyarakat.

Bukan karena mereka memiliki hak istimewa. Tetapi karena mereka memiliki tradisi pendidikan dan kerja keras. Inilah bentuk baru kebangsawanan yang jauh lebih bermartabat.

Jangan Hanya Mewariskan Gelar kepada Anak

Saya ingin mengatakan sesuatu yang sederhana:

Jika seorang bangsawan hanya mewariskan gelar kepada anaknya, ia belum tentu mewariskan kebangsawanan. Tetapi jika ia mewariskan pendidikan, karakter dan keberanian untuk mengabdi, maka sesungguhnya ia sedang mewariskan sesuatu yang jauh lebih besar.

Sebab gelar dapat hilang.

Jabatan dapat berakhir.

Harta dapat habis.

Tetapi karakter dan ilmu dapat hidup lintas generasi.

Itulah warisan yang sesungguhnya.

Kita Harus Berhenti Menunggu “Orang Aceh” Datang Menyelamatkan Aceh

Ada penyakit lain yang harus kita akui.

Kita sering menunggu seseorang datang dari Jakarta.

Menunggu orang Aceh menjadi menteri.

Menunggu orang Aceh menjadi pejabat tinggi.

Menunggu orang Aceh menjadi pengusaha besar.

Menunggu orang Aceh memiliki kekuasaan nasional.

Setelah itu kita bangga. Padahal pertanyaan sebenarnya adalah:

Mengapa kita selalu menunggu orang lain menjadi besar terlebih dahulu sebelum kita merasa besar?

Bukankah seharusnya kita membangun sistem yang memungkinkan ratusan bahkan ribuan orang Aceh menjadi besar secara bersamaan?

Ini membutuhkan perubahan paradigma.

Dari politik tokoh menjadi politik institusi. Dari kebanggaan simbolik menjadi kapasitas nyata. Dari warisan status menjadi warisan pengetahuan. Dari menunggu kesempatan menjadi menciptakan kesempatan.

Bangsawan Harus Berani Masuk ke Arena Ekonomi

Kita juga terlalu sering membicarakan politik ketika membicarakan kepemimpinan. Padahal kekuasaan abad ke-21 tidak hanya berada di gedung parlemen atau kantor pemerintahan.

Kekuasaan juga berada di:

kampus, laboratorium, perusahaan, bank, media, teknologi, data, platform digital, industri kreatif, dan jaringan ekonomi global.

Jika anak-anak bangsawan Aceh tidak masuk ke ruang-ruang tersebut, maka kita harus menerima kenyataan bahwa pengaruh sosial kita akan semakin kecil.

Karena itu saya ingin melihat anak-anak Aceh termasuk anak-anak bangsawan menjadi:

pemilik perusahaan, bukan hanya pencari pekerjaan;

pencipta teknologi, bukan hanya pengguna teknologi;

pemilik media, bukan hanya pembaca berita;

peneliti, bukan hanya penonton perkembangan ilmu;

investor, bukan hanya konsumen;

dan pembuat kebijakan, bukan hanya komentator kebijakan.

Kalau Tidak Sekarang, Kapan?

Pertanyaan ini akhirnya kembali kepada generasi kita.

Indonesia sudah 81 tahun merdeka. Aceh sudah 21 tahun damai.

Kita tidak bisa terus menggunakan konflik masa lalu sebagai alasan untuk kegagalan masa kini. Kita tidak bisa terus menggunakan penjajahan sebagai alasan ketertinggalan. Kita tidak bisa terus menggunakan pusat sebagai kambing hitam. Dan kita juga tidak boleh terus menggunakan kebesaran leluhur sebagai kompensasi atas kelemahan generasi sekarang.

Sudah waktunya bercermin.

Apa yang kurang dari kita?

Mungkin bukan sumber daya.

Mungkin bukan manusia.

Mungkin bukan sejarah.

Tetapi keberanian untuk mengubah modal yang kita miliki menjadi kekuatan nyata.

Sebuah Gugatan untuk Anak-Anak Bangsawan Aceh

Maka izinkan saya menyampaikan gugatan ini bukan sebagai orang yang berada di luar lingkaran. Tetapi justru sebagai anak bangsawan Aceh yang ikut merasakan kegelisahan itu.

Saya tidak ingin kebangsawanan Aceh mati. Tetapi saya juga tidak ingin kebangsawanan Aceh hidup hanya sebagai kenangan. Saya ingin kebangsawanan Aceh menemukan bentuk baru. Bukan kebangsawanan yang menuntut rakyat tunduk. Tetapi kebangsawanan yang membuat rakyat merasa terlindungi.

Bukan kebangsawanan yang meminta kursi. Tetapi kebangsawanan yang membawa kapasitas ke meja pengambilan keputusan. Bukan kebangsawanan yang membanggakan silsilah. Tetapi kebangsawanan yang membangun peradaban. Dan bukan kebangsawanan yang berkata:

Saya keturunan siapa.”

Melainkan:

“Apa yang bisa saya berikan?”

Pertanyaan Terakhir: Penonton atau Pemain?

Pada akhirnya, pilihan itu ada di tangan kita. Kita bisa terus duduk di tribun. Melihat orang lain maju. Melihat orang lain sukses. Melihat orang lain menguasai ekonomi. Melihat orang lain menguasai teknologi. Melihat orang lain mengisi jabatan strategis.

Lalu kita tepuk tangan dan berkata:

“Hebat sekali dia.”

Atau kita bisa turun ke lapangan, Belajar, Bekerja, Membangun, Mengambil risiko, Gagal, Bangkit, Dan mencoba lagi.

Karena sejarah tidak pernah dibangun oleh orang yang hanya menunggu keadaan menjadi sempurna. Sejarah dibangun oleh mereka yang berani bergerak ketika keadaan belum sempurna.

Maka setelah 81 tahun Indonesia merdeka dan 21 tahun Aceh damai, saya kira sudah waktunya pertanyaan itu tidak lagi kita simpan dalam hati.

Kita harus mengatakannya dengan lantang:

BANGSAWAN ACEH, APAKAH KITA AKAN TERUS MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI?

Kalau jawabannya tidak, maka buktikan. Bukan dengan gelar. Bukan dengan silsilah. Bukan dengan nostalgia.

Tetapi dengan ilmu.

Dengan integritas.

Dengan keberanian.

Dengan kemandirian ekonomi.

Dengan kekuatan politik yang bermartabat.

Dengan karya yang nyata. Dan dengan keberpihakan kepada rakyat.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan bertanya kepada kita:

“Siapa ayahmu?”

Sejarah akan bertanya:

“Apa yang telah engkau lakukan ketika engkau diberi kesempatan?”

Dan mungkin, itulah pertanyaan paling berat bagi setiap anak bangsawan. Sebab kita boleh mewarisi nama besar. Tetapi kita tidak boleh mewarisi kemalasan sejarah.

Kita boleh menghormati leluhur. Tetapi kita tidak boleh menggunakan leluhur sebagai alasan untuk berhenti berkarya.

Kita boleh bangga menjadi anak bangsawan. Tetapi kebanggaan itu harus dibayar dengan tanggung jawab.

Karena kebangsawanan tanpa tanggung jawab hanyalah gelar. Kebangsawanan tanpa karya hanyalah nostalgia. Kebangsawanan tanpa keberanian hanyalah bayang-bayang masa lalu.

Tetapi kebangsawanan yang berpadu dengan ilmu, integritas dan pengabdian itulah kebangsawanan yang masih layak diperjuangkan.

Maka, kepada anak-anak bangsawan Aceh: jangan hanya menjadi pewaris masa lalu. Jadilah pencipta masa depan. Sebab Aceh tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya mengatakan, “Dulu leluhur kami hebat.”

Aceh membutuhkan generasi yang kelak membuat anak cucunya berkata:

“Mereka bukan hanya mewarisi sejarah. Mereka menciptakan sejarah baru.”

Dan jika suatu hari pertanyaan itu akhirnya terjawab, saya berharap jawabannya bukan lagi:

“Ya, kami masih menjadi penonton.”

Tetapi: “Tidak. Kami sudah turun ke gelanggang. Kami sudah mengambil bagian. Kami sudah bekerja. Dan kami sedang menulis bab baru sejarah Aceh.”

Itulah makna sesungguhnya dari kemerdekaan. Itulah makna sesungguhnya dari perdamaian. “Dan mungkin itulah makna sesungguhnya menjadi bangsawan Aceh.”

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com