Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

GELAR TINGGI, ILMU SUNYI: SIAPA SESUNGGUHNYA PROFESOR?


Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Akademisi, Pengamat Sosial-Politik, dan Guru pada Sekolah Pascasarjana (SPs), USK, Aceh
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

OPINI

GELAR TINGGI, ILMU SUNYI: SIAPA SESUNGGUHNYA PROFESOR?

Ilmu tidak perlu berteriak untuk membuktikan dirinya. Karya akan berbicara. Waktu akan menguji. Sejarah akan menilai.

ADA sebuah paradoks yang semakin menarik untuk dibaca dalam kehidupan akademik Indonesia: semakin tinggi seseorang mengejar gelar akademik, kadang semakin rendah kesediaannya untuk mengukur dirinya dengan ukuran ilmu.

Gelar Profesor atau Guru Besar yang semestinya merupakan puncak pengakuan terhadap perjalanan intelektual, dalam realitas tertentu justru diperlakukan seperti trofi sosial. Dikejar, diperebutkan, dipamerkan, bahkan dijadikan alat legitimasi untuk menunjukkan siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah.

Lebih ironis lagi, ketika seseorang yang memiliki kapasitas keilmuan, karya, pengalaman akademik, kontribusi pemikiran, dan pengaruh intelektual dipanggil atau disebut Profesor, muncul suara-suara sinis.”

Pertanyaannya sederhana: Mengapa yang terganggu bukan kualitas ilmunya, tetapi sebutan “Profesor”-nya?

Di sinilah kita perlu membedakan antara Profesor sebagai jabatan akademik dan profesor sebagai otoritas intelektual.

Jabatan dapat diberikan melalui mekanisme administratif dan regulasi. Tetapi otoritas intelektual tidak pernah lahir dari selembar surat keputusan.

Otoritas intelektual dibangun melalui puluhan tahun membaca, meneliti, menulis, mengajar, berdebat, menguji gagasan, menerima kritik, menghasilkan karya, dan memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat.

Karena itu, seseorang mungkin memiliki gelar Profesor, tetapi belum tentu memiliki gravitas intelektual seorang profesor. Sebaliknya, seseorang yang tidak mengejar panggung akademik secara berlebihan bisa saja memiliki kedalaman ilmu, pengalaman, gagasan, dan pengaruh intelektual yang jauh melampaui mereka yang sibuk memajang gelar.

GELAR BUKAN ILMU

Pierre Bourdieu menjelaskan bagaimana dunia sosial memiliki berbagai bentuk kapital, termasuk cultural capital dan symbolic capital. Gelar akademik dapat menjadi modal simbolik yang memberikan status, pengakuan, dan posisi sosial.

Masalah muncul ketika modal simbolik menggantikan substansi intelektual. Ketika gelar menjadi tujuan, ilmu berubah menjadi kendaraan. Ketika jabatan menjadi prestise, penelitian berubah menjadi formalitas. Ketika pangkat menjadi ukuran manusia, karya ilmiah berubah menjadi angka. Dan ketika sitasi, indeks, Scopus, jabatan struktural, dan gelar diperlakukan sebagai satu-satunya ukuran kecendekiawan, kita berisiko melahirkan apa yang dapat disebut sebagai “akademisi administratif”: tinggi secara nomenklatur, tetapi belum tentu tinggi secara pemikiran.

Max Weber mengingatkan kita bahwa otoritas tidak hanya berbicara tentang posisi formal, tetapi juga tentang legitimasi.

Maka seorang Guru Besar seharusnya tidak hanya bertanya:

“Apa jabatan saya?”

Tetapi lebih penting:

“Apa yang sudah saya sumbangkan kepada ilmu pengetahuan?”

MENGAPA ADA YANG SINIS?"

Sinisme terhadap orang lain sering kali bukan lahir dari kekuatan intelektual, tetapi justru dari kegelisahan terhadap posisi diri sendiri. Orang yang benar-benar kuat secara akademik biasanya tidak takut pada hadirnya orang pintar lain.

Sebaliknya, ia akan berkata:

“Mari kita uji gagasannya.”

Tetapi orang yang menjadikan gelar sebagai benteng ego akan lebih mudah berkata:

“Dia siapa?”

Pertanyaan “dia siapa?” sebenarnya menarik.

Sebab dalam tradisi ilmiah, pertanyaan yang lebih bermutu bukanlah: “Siapa dia?”

melainkan: “Apa argumennya?”

Bukan: “Apa gelarnya?”

melainkan: “Apa kontribusinya?”

Bukan: “Dari kampus mana dia?”

melainkan: “Apa yang telah ia hasilkan?”

Dan bukan: “Mengapa dia dipanggil Profesor?”

melainkan: “Apakah pemikirannya dapat dipertanggungjawabkan secara akademik?”

Itulah perbedaan antara budaya ilmu dan budaya gengsi.

AKADEMISI ATAU PEMBURU STATUS?

Robert K. Merton berbicara mengenai norma-norma ilmu pengetahuan, antara lain universalism, communalism, disinterestedness, dan organized skepticism.

Dalam bahasa sederhana: ilmu harus terbuka untuk diuji, dikritik, dan diperdebatkan. Maka seorang akademisi tidak boleh alergi terhadap kritik. Tetapi kritik pun harus memiliki standar.

Kritik ilmiah berbeda dengan sinisme.

Kritik mengatakan:

“Argumen Anda lemah karena data ini menunjukkan sebaliknya.”

Sinisme mengatakan:

“Dia itu sebenarnya tidak pantas.”

Kritik menyerang gagasan.

Sinisme menyerang orang.

Kritik menghadirkan evidence.

Sinisme menghadirkan prasangka.

Kritik membuka ruang dialog.

Sinisme menutup ruang dengan stigma.

Ironisnya, terkadang orang yang paling keras merendahkan orang lain justru belum tentu memiliki karya yang layak dibanggakan.

Di sinilah muncul sebuah pertanyaan yang mungkin terasa pahit:

Apakah kita sedang menyaksikan kompetisi ilmu, atau kompetisi ego?

PROFESOR SEHARUSNYA TAKUT PADA SATU HAL

Seorang Profesor seharusnya tidak takut jika ada orang lain disebut Profesor. Ia seharusnya takut jika ilmunya berhenti berkembang. Ia tidak perlu takut pada akademisi muda. Justru akademisi muda harus menjadi energi baru bagi ilmu pengetahuan.

Ia tidak perlu takut pada orang yang berbeda pemikiran. Perbedaan adalah oksigen dunia akademik. Ia tidak perlu takut pada kritik. Sebab tanpa kritik, ilmu berubah menjadi dogma.

Yang seharusnya ditakuti seorang Guru Besar adalah ketika mahasiswa tidak lagi bertanya.

Ketika peneliti tidak lagi berani berbeda.

Ketika kampus berubah menjadi birokrasi gelar.

Ketika publik tidak lagi merasakan manfaat ilmu. Dan ketika nama besar tetap berdiri, tetapi gagasannya sudah tidak lagi memiliki daya jelaskan terhadap realitas.

INDONESIA TIDAK KEKURANGAN GELAR, KITA KEKURANGAN GAGASAN

Indonesia tidak kekurangan Doktor.

Indonesia tidak kekurangan Profesor.

Indonesia bahkan tidak kekurangan kampus.

Tetapi pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:

Berapa banyak ilmu yang benar-benar mengubah kehidupan masyarakat?

Mengapa kemiskinan masih berulang?

Mengapa ketimpangan pendidikan masih terjadi?

Mengapa kebijakan publik sering tidak berbasis evidence?

Mengapa sumber daya alam melimpah tetapi kesejahteraan rakyat belum sebanding?

Mengapa banyak persoalan sosial terus berulang meskipun negeri ini memiliki begitu banyak orang bergelar doktor dan profesor?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya menjadi cermin bagi dunia akademik. Sebab ukuran seorang ilmuwan bukan berapa banyak orang memanggilnya Profesor.

Ukuran seorang ilmuwan adalah berapa banyak persoalan manusia yang mampu ia bantu jelaskan, pecahkan, atau ubah melalui ilmu pengetahuannya.

JANGAN MENJADI PROFESOR YANG HANYA MENJADI NAMA

Ada ungkapan yang mungkin terdengar keras, tetapi perlu direnungkan:

Jangan sampai gelar Profesor lebih besar daripada pemikirannya.

Jangan sampai jabatan lebih tinggi daripada kapasitas.

Jangan sampai titel lebih panjang daripada daftar karya.

Jangan sampai ruang kerja lebih besar daripada kontribusi.

Dan jangan sampai seseorang terlalu sibuk mempertahankan statusnya sehingga lupa memperbarui ilmunya.

Sebab dunia akademik bukan kerajaan.

Profesor bukan raja.

Kampus bukan istana.

Mahasiswa bukan pengikut.

Dan ilmu pengetahuan bukan milik kelompok tertentu.

Ilmu adalah ruang terbuka tempat semua gagasan harus bersedia diuji. Karena itu, jika ada seseorang yang kualitas keilmuannya memang layak dihormati, janganlah kita sibuk mencari alasan untuk merendahkannya hanya karena ia disebut Profesor.

Ujilah karya-karyanya.

Bantah teorinya.

Kritik metodologinya.

Periksa datanya.

Debat argumentasinya.

Jika salah, tunjukkan kesalahannya.

Jika lemah, patahkan argumennya.

Tetapi jangan mengganti argumentasi dengan iri hati dan jangan mengganti kritik akademik dengan sinisme pribadi.

Sebab dalam dunia ilmu, orang yang benar-benar hebat tidak perlu sibuk mengatakan dirinya hebat. Karyanyalah yang berbicara.

DAN KEPADA MEREKA YANG GEMAR MENYINYIRI…

Kepada siapa pun yang gemar meremehkan orang lain karena gelar, jabatan, atau panggilan akademiknya, ada satu nasihat sederhana:

Jangan ukur kedalaman laut dari riak di permukaan.

Dan jangan merasa paling tinggi hanya karena berdiri di atas sebuah gelar. 

Sebab gelar bisa ditempelkan pada nama.

Jabatan bisa dicantumkan pada kartu nama.

Pangkat bisa ditulis dalam surat keputusan.

Tetapi kedalaman ilmu tidak bisa dipalsukan dalam waktu panjang.

Ia akan terlihat dalam karya.

Ia akan terdengar dalam argumentasi.

Ia akan terbaca dalam tulisan.

Ia akan terasa dalam cara seseorang menjelaskan persoalan.

Dan yang paling penting, ia akan meninggalkan jejak dalam kehidupan orang lain.

Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat kita karena berapa kali kita menyebut gelar kita sendiri.

Sejarah akan mengingat apa yang kita pikirkan, apa yang kita tuliskan, apa yang kita perjuangkan, dan apa yang kita wariskan kepada generasi sesudah kita.

Maka jangan terlalu sibuk bertanya:

“Mengapa dia Profesor?”

Tanyakanlah kepada diri sendiri:

“Setelah sekian tahun menjadi akademisi, apa yang sudah saya berikan kepada ilmu pengetahuan dan kepada masyarakat sampai hari ini?”

Jika jawabannya panjang dan berbobot, tidak perlu sinis kepada siapa pun.

Jika jawabannya kosong, mungkin bukan orang lain yang perlu kita kritik. Tapi berkacalah diri sendiri yang sibuk menjadi penjilat dan mengejar jabatan dengan berbagai cara.

Cerminlah yang perlu kita hadapi.

Sebab pada akhirnya, Profesor yang sejati bukanlah yang paling keras mempertahankan gelarnya, tetapi yang paling besar mempertanggungjawabkan ilmunya.

Dan akademisi yang sejati bukan yang paling sibuk terlihat pintar, tetapi yang pikirannya membuat orang lain menjadi lebih cerdas. Itulah universitas: bukan tempat memproduksi kebanggaan atas titel, melainkan tempat mempertanggungjawabkan kebenaran melalui ilmu.

Sagoe Aceh Rayeuk, Medio Agustus 2026

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com