Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

KETIKA RUMAH SAKIT KEHILANGAN HATI: KRISIS KEMANUSIAAN DI RSUZA DAN KEGAGALAN NEGARA MELINDUNGI WARGANYA


Oleh: Teuku Muhammad Jamil
Akademisi USK dan Pengamat Kebijakan Publik Aceh
OPINI

KETIKA RUMAH SAKIT KEHILANGAN HATI: KRISIS KEMANUSIAAN DI RSUZA DAN KEGAGALAN NEGARA MELINDUNGI WARGANYA

Rumah sakit boleh kehilangan obat, tetapi tidak boleh kehilangan nurani. Sebab ketika empati mati, ilmu kedokteran berubah menjadi sekadar prosedur tanpa jiwa.

Tidak ada keluarga yang mengantar ayahnya ke rumah sakit dengan harapan menjemput jenazah. Semua datang membawa harapan. Semua datang menitipkan nyawa kepada negara melalui institusi pelayanan kesehatan.

Namun tulisan “Mengantar Ayah Menjemput Maut” dari Teuku Alfin Aulia, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Al-Azhar, Kairo - yang viral di Aceh bukan sekadar kisah duka sebuah keluarga. Ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah pelayanan publik kita yang mulai kehilangan rasa malu dan rasa kemanusiaan. 

Jika narasi itu benar, maka yang sedang kita hadapi bukan sekadar dugaan kesalahan pelayanan medis, melainkan krisis moral dalam birokrasi kesehatan.

Persoalannya jauh lebih besar daripada satu pasien yang meninggal. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan publik terhadap rumah sakit rujukan tertinggi di Aceh.

Rumah sakit bukan sekadar gedung, dokter, perawat, atau alat kesehatan. Rumah sakit adalah simbol kehadiran negara dalam melindungi kehidupan. Ketika masyarakat mulai takut mempercayakan nyawanya kepada institusi tersebut, sesungguhnya yang sedang runtuh adalah legitimasi pelayanan publik itu sendiri.

Negara Tidak Boleh Hadir Hanya dalam Bentuk Gedung

Dalam teori Max Weber, legitimasi birokrasi lahir dari profesionalisme, rasionalitas, dan pelayanan yang adil. Namun birokrasi juga memiliki penyakit yang oleh Robert K. Merton disebut sebagai bureaucratic dysfunction: prosedur menjadi tujuan, manusia justru dilupakan.

Ketika laporan keluarga diabaikan, komunikasi menjadi tertutup, dan empati menghilang, maka birokrasi telah berubah menjadi mesin administratif yang kehilangan hati.

Di sinilah letak persoalannya. Yang sakit bukan hanya pasien. Yang sakit adalah sistem.

Habermas dan Matinya Komunikasi

Filsuf Jerman Jürgen Habermas menjelaskan bahwa pelayanan publik hanya akan memperoleh legitimasi apabila dibangun melalui komunikasi yang jujur, terbuka, dan saling menghormati.

Rumah sakit bukan sekadar tempat tindakan medis. Rumah sakit adalah ruang dialog antara ilmu pengetahuan dan harapan keluarga.

Jika komunikasi berubah menjadi kesombongan profesional, maka kepercayaan akan runtuh. Kepercayaan yang runtuh jauh lebih mahal daripada membangun gedung baru.

Emmanuel Levinas: Wajah Manusia yang Tidak Lagi Dilihat

Filsuf humaniora Emmanuel Levinas mengatakan bahwa etika lahir ketika kita mampu melihat wajah orang lain sebagai sesama manusia.

Ketika petugas kesehatan tidak lagi melihat pasien sebagai manusia yang memiliki keluarga, harapan, dan rasa takut, maka pelayanan berubah menjadi pekerjaan mekanis. Inilah yang disebut dehumanisasi.

Padahal WHO sejak lama menempatkan patient-centered care dan komunikasi sebagai bagian penting keselamatan pasien. Keselamatan pasien bukan hanya soal obat dan operasi, tetapi juga kualitas komunikasi, pelibatan keluarga, serta budaya keselamatan dalam organisasi kesehatan. 

RSUZA Bukan Baru Sekali Dikritik

Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, RSUZA berkali-kali menjadi sorotan publik karena persoalan pelayanan, mulai dari dugaan penolakan pasien IGD, keluhan antrean panjang, keterbatasan fasilitas, hingga kritik terhadap kualitas pelayanan. 

Sebagian kasus masih menjadi perdebatan dan memerlukan klarifikasi resmi, namun berulangnya keluhan menunjukkan adanya persoalan tata kelola yang tidak boleh dianggap sepele. 

Dalam ilmu kebijakan publik, pola keluhan yang terus berulang merupakan indikator adanya kegagalan institusional, bukan sekadar kesalahan individu.

Gubernur Aceh Tidak Boleh Diam

RSUZA adalah rumah sakit milik Pemerintah Aceh. Karena itu, persoalan ini bukan hanya urusan direktur rumah sakit.

Ini adalah tanggung jawab politik Gubernur Aceh.

Diam adalah pilihan. Namun dalam kepemimpinan publik, diam sering kali dibaca sebagai pembiaran.

Rakyat tidak membutuhkan konferensi pers. Rakyat membutuhkan keberanian melakukan audit independen, investigasi transparan, evaluasi manajemen, reformasi pelayanan, dan perlindungan terhadap hak-hak pasien.

Pemimpin sejati tidak takut pada kritik. Yang takut pada kritik biasanya hanya mereka yang lebih sibuk menjaga citra daripada memperbaiki keadaan.

Ulama Tidak Boleh Kehilangan Suara Moral

Aceh adalah daerah yang menjadikan syariat Islam sebagai identitas moral. Karena itu, para ulama memiliki tanggung jawab etik untuk mengingatkan bahwa menjaga jiwa (hifz al-nafs) merupakan salah satu tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī'ah).

Jika pelayanan kesehatan kehilangan kasih sayang, maka nilai-nilai agama sedang kehilangan ruang implementasinya.

Akademisi Jangan Menjadi Penonton

Universitas tidak boleh hanya menghasilkan jurnal. Universitas harus menghasilkan keberanian moral. Jika akademisi diam ketika pelayanan publik mengalami krisis kemanusiaan, maka universitas sedang kehilangan fungsi sosialnya. Kampus bukan pabrik ijazah. Kampus adalah benteng nurani bangsa.

Yang Mati Bukan Hanya Seorang Ayah

Sesungguhnya, bila narasi keluarga itu terbukti melalui investigasi yang objektif, maka yang meninggal bukan hanya seorang ayah.

Yang ikut mati adalah rasa aman masyarakat. Yang ikut mati adalah kepercayaan publik. Yang ikut mati adalah harapan rakyat kecil terhadap pelayanan negara. Dan ketika kepercayaan masyarakat mati, membangunnya kembali jauh lebih sulit daripada membangun rumah sakit baru.

Saatnya Reformasi Total

Aceh tidak membutuhkan sekadar permintaan maaf. Aceh membutuhkan reformasi pelayanan kesehatan.

  • Audit independen.
  • Evaluasi manajemen.
  • Perbaikan budaya organisasi.
  • Pelatihan komunikasi empatik.
  • Penguatan keselamatan pasien.

Sistem pengaduan yang benar-benar melindungi masyarakat.

Karena rumah sakit tidak boleh menjadi tempat rakyat belajar bahwa menjadi pasien berarti kehilangan hak untuk didengar. Rumah sakit harus kembali menjadi tempat paling manusiawi di sebuah negeri. 

Sebab ukuran kemajuan suatu bangsa bukanlah tingginya gedung rumah sakitnya. Melainkan seberapa besar kasih sayang yang masih hidup di dalamnya.

---------------------------------------------------------------------

Sekilas tentang Penulis

Teuku Muhammad Jamil  adalah akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Guru Besar, pengamat kebijakan publik dan politik, serta Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh. Aktif menulis berbagai opini tentang demokrasi, tata kelola pemerintahan, pelayanan publik, pendidikan, dan pembangunan Aceh. 

Bagi penulis, kritik merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual untuk menjaga akuntabilitas kekuasaan, memperkuat etika pemerintahan, dan memastikan negara tetap berpihak kepada martabat manusia.

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com