OPINI
Ketika AI Mengajar Semua Orang Menulis, Siapa yang Masih Menulis dengan Jiwa?
MEDIAGAJAHPUTIHNEWS.COM
WILAYAH SABANG (PULAU WEH-ACEH)
REDAKSIGPN-NEWS-DAERAH
Oleh:
Teuku Muhammad Jamil
Pengamat Politik dan Akademisi USK, Aceh
Peradaban digital sedang memasuki sebuah babak yang belum pernah dialami umat manusia sebelumnya. Kini, menulis bukan lagi kemampuan yang harus ditempa melalui kebiasaan membaca, latihan berpikir, atau pergulatan panjang dengan pengalaman hidup. Cukup beberapa kalimat perintah, dalam hitungan detik lahirlah artikel, puisi, pidato, opini, bahkan buku.
Sejak teknologi generative artificial intelligence meledak penggunaannya pada 2022, dunia menyaksikan perubahan yang berlangsung jauh lebih cepat daripada revolusi digital sebelumnya. Memang, konsep kecerdasan buatan telah diperkenalkan sejak Konferensi Dartmouth tahun 1956 oleh John McCarthy. Namun, selama puluhan tahun AI hanya berkembang di laboratorium dan ruang riset. Baru dalam beberapa tahun terakhir ia benar-benar memasuki ruang publik dan mengubah cara manusia bekerja, berpikir, serta berkarya.
Perubahan itu menghadirkan manfaat yang luar biasa. AI membantu riset, mempercepat analisis data, mempermudah penerjemahan, bahkan membuka akses pengetahuan bagi banyak orang. Namun, setiap revolusi selalu membawa konsekuensi yang perlu direnungkan.
Hari ini, ruang digital dipenuhi tulisan yang lahir hampir seketika. Kolumnis "dadakan" bermunculan setiap hari. Penyair instan hadir tanpa pernah bergulat dengan bahasa. Pelukis digital, penulis naskah, editor, hingga kreator konten tumbuh dalam jumlah yang sulit dihitung. Teknologi seolah memberikan panggung kepada siapa saja untuk tampak produktif.
Tidak ada yang salah dengan itu. Yang mulai menjadi persoalan adalah ketika produktivitas menggantikan kedalaman, dan kecepatan mengalahkan keaslian.
Kita sering menemukan seseorang yang sebelumnya hampir tidak pernah menulis, kini mampu menerbitkan beberapa artikel dalam sehari, bahkan yang lebih mengerikan lagi semua bidang keilmuwan digarap. Dia kadang lupa pada ilmunya sendiri yang digeluti. Media sosial dan berbagai platform digital dipenuhi tulisan yang tersusun rapi, bahasanya halus, kalimatnya panjang, tetapi sering kali terasa datar. Semua tampak benar, namun tidak selalu terasa hidup.
Tulisan semacam ini menyerupai hidangan yang disusun sangat indah di atas meja, porsinya melimpah, tetapi kehilangan aroma dan cita rasa. Mata terpukau, tetapi hati pembaca tidak tersentuh.
Menurut saya pribadi, pembaca masa kini jauh lebih cerdas daripada yang sering dibayangkan. Mereka dapat merasakan perbedaan antara tulisan yang lahir dari pengalaman batin dengan tulisan yang hanya merupakan hasil olahan algoritma. Keindahan bahasa tidak selalu identik dengan kedalaman makna, bahkan pesan substansial pun tak tersampaikan.
Di sisi lain, ruang digital juga melahirkan fenomena baru tentang pembentukan identitas. Mesin pencari, algoritma, dan optimasi konten dapat membuat seseorang tampak sangat berpengaruh hanya karena namanya terus muncul di berbagai laman internet. Frekuensi kemunculan sering kali dianggap sebagai ukuran kepakaran. Padahal, sejarah tidak pernah dibangun hanya oleh banyaknya jejak digital.
Seorang pemikir seperti Yuval Noah Harari dikenal bukan karena setiap hari memenuhi ruang maya dengan tulisan, melainkan karena gagasan-gagasannya mengubah cara orang memahami sejarah manusia. Demikian pula Malcolm Gladwell atau Umberto Eco; reputasi mereka lahir dari kedalaman berpikir, bukan dari banjir publikasi yang mengejar algoritma.
Di sinilah tantangan terbesar era AI. Kita sedang berhadapan dengan apa yang dapat disebut sebagai krisis otentisitas. Dunia digital dipenuhi karya, tetapi perlahan mulai kekurangan jejak keunikan manusia. Yang semakin langka bukanlah tulisan, melainkan suara asli penulisnya.
Saya pernah mengalami pengalaman yang cukup menarik. Sebuah artikel opini saya dimuat oleh sebuah media sebagaimana biasanya. Setelah terbit, seorang sahabat mengirim pesan singkat, TM, “Tulisanmu kali ini terasa berbeda. Bahasanya terlalu rapi, terlalu sempurna. Rasanya seperti bukan gaya biasa menulismu ...”
Saya kemudian membuka kembali artikel tersebut. Ternyata redaksi telah melakukan penyuntingan menggunakan bantuan AI, sehingga struktur kalimat berubah cukup jauh dari karakter bahasa yang biasa saya gunakan. Karena saya memang bukan ahli bahasa apalagi ahli dalam menulis. Setelah saya menghubungi pihak redaksi, mereka menjelaskan maksudnya agar tulisan lebih ramah terhadap algoritma mesin pencari. Mereka pun meminta maaf, dan sejak saat itu tidak lagi melakukannya terhadap tulisan saya.
Pengalaman kecil tersebut menyadarkan saya bahwa bahkan media pun kini menghadapi godaan untuk menyesuaikan karya manusia dengan selera algoritma.
Padahal, nilai sebuah tulisan bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuannya menempati posisi teratas dalam mesin pencari. Nilainya justru terletak pada kemampuannya menggerakkan pikiran, menyentuh nurani, dan meninggalkan bekas dalam ingatan pembacanya.
Saya tidak termasuk kelompok yang memusuhi AI. Sebaliknya, AI adalah salah satu pencapaian terbesar ilmu pengetahuan modern yang patut disyukuri dan dimanfaatkan. Namun, AI seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan jati diri manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasakan, dan mengalami kehidupan.
Teknologi boleh membantu menyusun kalimat. Tetapi hanya pengalaman hidup yang mampu memberi ruh pada sebuah tulisan.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang paling banyak menghasilkan artikel. Sejarah akan mengingat siapa yang mampu melahirkan gagasan yang mengubah cara manusia memandang dunia.
Di tengah riuhnya banjir konten digital hari ini, saya masih menemukan harapan ketika membaca karya para penulis yang tetap setia menjaga suara otentiknya. Nama-nama seperti Goenawan Mohamad, Ahmad Tohari, Emha Ainun Najib, Tere Liye, Andrea Hirata, Eka Kurniawan, dan Ayu Utami membuktikan bahwa kualitas tidak pernah lahir dari perlombaan mengejar algoritma, melainkan dari kejujuran berpikir dan ketekunan merawat tradisi literasi.
Karena pada akhirnya, manusia boleh dibantu oleh kecerdasan buatan, tetapi peradaban hanya akan bertahan apabila tetap dipimpin oleh kecerdasan nurani.
-----------------------------------
Sekilas tentang Penulis
Teuku Muhammad Jamil adalah Seorang “Guru” - akademisi, dan pengamat sosial-politik yang aktif menulis tentang isu-isu pendidikan, kebijakan publik, transformasi digital, demokrasi, serta pembangunan Aceh dan Indonesia. Ia dikenal sebagai penulis yang memadukan perspektif akademik, nilai-nilai keislaman, dan refleksi kemanusiaan dalam setiap karya tulisnya.
Selain mengajar pada Program Doktor (S3) Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, ia juga memimpin sebuah lembaga riset dan bertindak sebagai Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh. Berbagai artikel opini, esai, dan kajian ilmiahnya telah dipublikasikan di sejumlah jurnal nasional, jurnal internasional, media massa dan forum akademik, dengan semangat membangun tradisi berpikir kritis, beretika, dan berorientasi pada kemaslahatan publik.
Bagi Teuku Muhammad Jamil, kecanggihan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), harus diposisikan sebagai instrumen untuk memperkuat kualitas ilmu pengetahuan, bukan menggantikan integritas intelektual dan keaslian nurani manusia. Karena itulah, ia meyakini bahwa kemajuan peradaban tidak hanya diukur dari kecerdasan teknologi yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya.
-Reporter/Pers GPN Sabang News Oleh Kabiro : MJ Eric Karno
-Sumber/Rilis/Photo : Junaidi Aceh
-RedaksiDaerah : Gajah putih NEWS.com
0 Komentar