![]() |
Cut Sawadi TRD: Pendiri Ikatan Putroe Bangsawan Aceh Gajahputihnews.com Senin, 1 Juli 2026 Oleh Dra. Cut Sawadi Sarjana Sejarah Universitas Syi'ah Kuala (USK) Banda Aceh |
Potret Kehidupan yang Memprihatinkan
“Di balik kebanggaan masyarakat Aceh terhadap kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam yang pernah menjadi salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh di Asia Tenggara, tersimpan kisah pilu yang masih menjadi perhatian berbagai kalangan pemerhati sejarah.”
Kehidupan sebagian keturunan Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah, sultan terakhir Kesultanan Aceh Darussalam, disebut masih jauh dari kondisi yang layak dan belum memperoleh perhatian yang memadai dalam upaya pelestarian sejarah daerah.
Kesultanan Aceh Darussalam pernah mencapai masa keemasan terutama pada era Sultan Iskandar Muda (1607–1636).
Pada masa itu Aceh berkembang sebagai pusat perdagangan internasional, pendidikan Islam, diplomasi, dan kekuatan militer yang disegani hingga ke kawasan Timur Tengah, India, serta Eropa.
“Sejarah mencatat bahwa kerajaan ini menjadi salah satu kekuatan politik Islam terbesar di kawasan Nusantara.”
Memasuki akhir abad ke-19, Kesultanan Aceh menghadapi agresi kolonial Belanda dalam Perang Aceh (1873–1904).
Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah kemudian memimpin perjuangan hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1904 ke Ambon sebelum dipindahkan ke Batavia (Jakarta), tempat beliau wafat pada 6 Februari 1939.
Salah seorang putra mahkota Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah adalah Tuanku Raja Ibrahim. Dari garis keturunan inilah lahir sejumlah cucu dan cicit Sultan Aceh yang hingga kini masih tersebar di berbagai wilayah Aceh, di antaranya Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Tangse, dan Lhokseumawe.
Potret Kehidupan yang Memprihatinkan
Berdasarkan penelusuran sejarah keluarga Kesultanan Aceh serta berbagai catatan masyarakat pemerhati sejarah, sebagian keturunan Tuanku Raja Ibrahim menjalani kehidupan yang sederhana. Sebagian besar memilih bekerja sebagai petani, pedagang kecil, penarik becak, pengrajin, hingga pensiunan aparatur negara. Beberapa di antaranya bahkan pernah mengalami kesulitan ekonomi, tinggal di rumah sederhana, maupun bergantung pada bantuan keluarga.
“Dari 16 putra-putri Tuanku Raja Ibrahim, sebagian telah wafat. Masing-masing meninggalkan kisah pengabdian dan perjuangan yang berbeda.”
Beberapa di antaranya pernah mengabdi sebagai anggota TNI, pegawai negeri sipil, tokoh masyarakat, pendidik agama, petani, hingga pelaku usaha kecil. Meski berasal dari garis keturunan Kesultanan Aceh, sebagian besar memilih menjalani kehidupan secara mandiri tanpa mengandalkan status kebangsawanan.
Di antara mereka terdapat sosok yang dikenal aktif membangun kegiatan sosial keagamaan, mendirikan yayasan pendidikan untuk anak yatim, menjadi mediator sosial pada masa konflik Aceh, hingga terus melestarikan tradisi kenduri, zikir, serta adat peumulia jamee (memuliakan tamu) yang diwariskan dari lingkungan Kesultanan Aceh.
Nilai-nilai tersebut masih dipraktikkan oleh sebagian keluarga hingga saat ini, meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Seruan Pelestarian Warisan Kesultanan
Sejumlah pemerhati sejarah menilai bahwa persoalan utama bukan semata menyangkut kondisi ekonomi keturunan Sultan Aceh, melainkan belum optimalnya upaya pelestarian warisan sejarah Kesultanan Aceh Darussalam sebagai bagian dari identitas budaya Aceh.
Mereka berpandangan bahwa keluarga Kesultanan Aceh merupakan bagian dari memori kolektif bangsa yang memiliki nilai sejarah, budaya, adat, dan peradaban Islam yang penting untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
Berbagai daerah di Indonesia maupun negara lain dinilai telah berhasil menjaga keberlangsungan institusi kerajaan sebagai bagian dari pelestarian budaya.
Kesultanan di Yogyakarta, misalnya, tetap memperoleh pengakuan konstitusional serta dukungan negara dalam menjalankan fungsi budaya dan pelestarian sejarah. Demikian pula kerajaan-kerajaan di Malaysia, Brunei Darussalam, maupun monarki Inggris yang tetap menjadi simbol sejarah dan identitas nasional.
Dalam konteks Aceh, sejumlah kalangan berharap Pemerintah Aceh dapat menyusun kebijakan yang lebih komprehensif untuk menjaga keberlanjutan warisan Kesultanan Aceh Darussalam.
Langkah tersebut dapat berupa pendokumentasian sejarah keluarga Kesultanan, pelestarian situs dan bangunan bersejarah, pemberdayaan keturunan Kesultanan dalam kegiatan adat dan budaya, hingga pengembangan museum, pusat studi, atau rumah budaya Kesultanan Aceh.
Aset Budaya dan Pariwisata
Pengamat sejarah menilai keberadaan keturunan Sultan Aceh memiliki nilai penting sebagai sumber sejarah lisan (oral history) yang dapat memperkaya kajian akademik mengenai Kesultanan Aceh Darussalam.
Melalui pengalaman, silsilah keluarga, tradisi, serta peninggalan yang masih dimiliki, mereka dinilai dapat menjadi bagian dari penguatan identitas budaya Aceh sekaligus mendukung pengembangan sektor pendidikan dan pariwisata berbasis sejarah.
Pelibatan keluarga Kesultanan dalam berbagai kegiatan kebudayaan, adat, dan pendidikan dipandang dapat menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu yang pernah mempertahankan kedaulatan Aceh dalam menghadapi kolonialisme.
Menjaga Sejarah sebagai Identitas Bangsa
Kisah kehidupan keturunan Sultan Alauddin Muhammad Daud Syah mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku-buku atau bangunan tua, tetapi juga hidup melalui keluarga yang masih mewarisi jejak perjalanan sebuah peradaban.
Pelestarian sejarah Kesultanan Aceh Darussalam bukan semata persoalan penghormatan terhadap garis keturunan kerajaan, melainkan bagian dari upaya menjaga identitas, budaya, dan memori kolektif masyarakat Aceh.
Sebagaimana ungkapan yang kerap dikutip oleh para sejarawan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Karena itu, perhatian terhadap warisan Kesultanan Aceh diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga keturunan Sultan, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah, akademisi, budayawan, dan seluruh masyarakat Aceh dalam merawat salah satu warisan peradaban Islam terbesar di Nusantara.
Catatan Redaksi:
Informasi mengenai kondisi sosial-ekonomi masing-masing anggota keluarga Kesultanan Aceh dalam tulisan ini merupakan narasi yang bersumber dari catatan keluarga dan pemerhati sejarah. Data tersebut memerlukan verifikasi lebih lanjut apabila akan digunakan sebagai dasar kebijakan publik atau klaim faktual mengenai kondisi terkini masing-masing individu.

0 Komentar