Breaking News

Tim Teknis POD Blok South Andaman: Hebat di Kertas, Tapi Apakah Siap di Lapangan ?

Tim Teknis POD Blok South Andaman 
Pers Release
Oleh : Prof. Dr. TM. Jamil, M.Si
Akademisi dan Pengamat Politik, USK, Aceh

Tim Teknis POD Blok South Andaman: Hebat di Kertas, Tapi Apakah Siap di Lapangan ?

Pemerintah Aceh baru-baru ini membentuk Tim Teknis POD Blok South Andaman yang, jika dilihat dari susunannya, terdiri dari para pejabat tinggi, akademisi, pakar energi, ilmuwan, hingga staf khusus gubernur yang berkompetensi tinggi. 

Di atas kertas, tim ini sungguh impresif: gabungan intelektual, teknokrat, dan ahli strategi yang seharusnya mampu membawa kebijakan energi Aceh ke level lebih profesional dan transparan.

Namun, saya ingin mengingatkan bahwa tim yang hebat di atas kertas tidak selalu hebat di praktik. Banyak tim teknis sebelumnya mengalami nasib yang sama: ahli, ekonom, dan ilmuwan banyak diundang untuk “diakui” namun jarang dilibatkan dalam proses negosiasi strategis dan pengambilan keputusan penting.

Akibatnya, keputusan sering jatuh ke tangan mereka yang mungkin kurang kompeten tapi memiliki akses “familial” yang lebih dekat dengan pusat kekuasaan.

Keberhasilan sebuah tim tidak cukup hanya diukur dari gelar, jabatan, atau sertifikat keilmuan. 

Yang menentukan adalah kesediaan untuk bekerja, kemampuan beradaptasi di lapangan, dan keberanian untuk mengeksekusi keputusan yang benar meski tidak populer. 

Tanpa hal ini, tim hebat tetap akan menjadi sekadar simbol, alat legitimasi administratif, dan pengisi dokumen di atas meja.

Saya melihat peluang besar di Aceh melalui Blok South Andaman, namun potensi itu bisa terbuang jika tim teknis hanya menjadi “panggung akademik” tanpa implementasi nyata. 

Oleh karena itu, saya menegaskan: undang para ahli, ajak mereka bicara, dengarkan masukan mereka, dan jangan biarkan keluarga atau jaringan pribadi menjadi satu-satunya penentu jalan kebijakan.

Tim hebat adalah tim yang tahu apa yang harus dilakukan, mau melakukan, dan siap bertanggung jawab. Jika tidak, apapun susunan personelnya, Aceh akan tetap kehilangan peluang emas di sektor energi dan sumber daya alamnya.

Aceh memiliki Dewan Ekonomi yang anggotanya terdiri dari para rektor, ilmuwan, dan pakar kebijakan. 

Jangan sampai tim teknis hanya menjadi pajangan keilmuan yang “menghias” administrasi, sementara keputusan penting tetap berada di lingkaran terbatas. 

“Waktu untuk serius bekerja sudah datang dan tim harus siap untuk itu, bukan sekadar siap di atas kertas.”

© Copyright 2022 - gajah putih News.com