Breaking News

Tahun Baru Islam 1448 H : Bangsa Yang Kehilangan Cermin

Tahun Baru Islam 1448 H : Bangsa Yang Kehilangan Cermin

Oleh : 
Teuku Muhammad Jamil 
Ilmuwan Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah seharusnya menjadi momentum muhasabah, bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW bukan hanya perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah, tetapi juga revolusi moral, politik, sosial, dan peradaban. 

Hijrah adalah keberanian meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan kezaliman menuju keadilan.

Pertanyaannya, ke arah mana bangsa ini sedang berhijrah?

Di tengah gegap gempita pembangunan yang dipamerkan melalui layar televisi dan media sosial, kita menyaksikan ironi yang menyakitkan. Penguasa digugat di pengadilan, didemo di jalanan, dan dikritik di ruang publik. 

Pada saat yang sama, rakyat kecil semakin terhimpit oleh tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup, dan hilangnya harapan terhadap masa depan yang lebih baik.

Kejujuran yang dahulu menjadi fondasi moral bangsa kini terasa seperti barang langka. Integritas semakin sulit ditemukan, sementara kepura-puraan dan pencitraan justru menjadi komoditas politik yang paling laris. 

Seolah-olah bangsa ini sedang mengalami krisis keteladanan yang akut.

Lebih menyedihkan lagi, negeri yang kaya raya dengan sumber daya alam justru menyimpan paradoks yang menyakitkan. Tanah yang subur, laut yang luas, tambang yang melimpah, dan hutan yang kaya tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. 

Yang sering terjadi justru sebaliknya: kekayaan alam dieksploitasi secara besar-besaran, sementara masyarakat di sekitar nya tetap hidup dalam kemiskinan dan ketertinggalan.

Kita menyaksikan daerah-daerah penghasil sumber daya alam tetap menjadi kantong kemiskinan. Mereka menghasilkan kekayaan, tetapi tidak menikmati kemakmuran.

Mereka menjaga bumi, tetapi tidak memperoleh manfaat yang seimbang dari hasil bumi itu sendiri. Ini bukan sekadar kegagalan kebijakan ekonomi, melainkan kegagalan moral dalam mengelola amanah bangsa.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian penguasa tampak semakin jauh dari denyut kehidupan rakyat. 

Mereka seolah hidup dalam ruang yang berbeda. Jeritan masyarakat terdengar sayup, bahkan mungkin tidak terdengar sama sekali.

Ketika rakyat mengeluh tentang harga kebutuhan pokok, lapangan kerja, pendidikan, dan layanan kesehatan, respons yang muncul sering kali berupa narasi, bukan solusi.

Rakyat kemudian bertanya dengan getir : Apakah kami hanya penting saat pemilu dan pilkada ?

Ketika musim kampanye tiba, rakyat dielu-elukan sebagai pemilik kedaulatan negeri ini.

Suara mereka dicari, tangan mereka disalami, rumah mereka dikunjungi. 

Namun setelah kekuasaan diraih, tidak sedikit yang berubah menjadi penguasa yang sulit ditemui, sulit mendengar, dan lebih sulit lagi memahami penderitaan rakyat.

Di atas semua itu, ada satu penyakit yang tampaknya belum berhasil disembuhkan oleh bangsa ini : korupsi.

Ironisnya, korupsi tidak lagi dilakukan secara individual. Dalam banyak kasus, korupsi dilakukan secara sistematis, terorganisir, bahkan berjamaah. 

Ia tidak hanya mencuri uang negara, tetapi juga merampas masa depan generasi bangsa. Korupsi bukan sekadar kejahatan hukum, melainkan pengkhianatan terhadap amanah rakyat dan nilai-nilai kemanusiaan. 

Bangsa yang beradab, berubah menjadi bangsa yang sangat biadab kepada sesama.

Maka muncul pertanyaan yang layak direnungkan bersama :

Ada apa dengan bangsa ini? 

Apakah bangsa ini sedang sakit?

Jika ukuran kesehatan sebuah bangsa adalah keadilan, kejujuran, dan keberpihakan kepada rakyat, maka kita harus jujur mengakui bahwa ada gejala-gejala yang mengkhawatirkan. 

Bangsa ini mungkin belum mati, tetapi jangan-jangan sedang mengalami kelelahan moral yang serius.

Filsuf Yunani, Plato, pernah mengingatkan bahwa kehancuran sebuah negara bukan dimulai dari lemahnya ekonomi atau militer, melainkan ketika para pemimpinnya kehilangan kebajikan. 

Dalam perspektif Islam, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa kehancuran suatu kaum sering kali bermula ketika hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Karena itu, menyambut Tahun Baru Islam 1448 - H tidak cukup hanya dengan ucapan selamat, spanduk, atau seremoni. 

Yang lebih penting adalah keberanian melakukan hijrah moral dan hijrah politik. Hijrah dari keserakahan menuju amanah.

Hijrah dari kemunafikan menuju kejujuran.

Hijrah dari politik transaksional menuju politik pengabdian

Hijrah dari kekuasaan yang arogan menuju kepemimpinan yang melayani.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Bangsa ini juga tidak kekurangan sumber daya. Yang semakin langka justru pemimpin yang memiliki keberanian moral untuk berkata benar, bertindak adil, dan berpihak kepada rakyat.

Tahun Baru Islam mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran diri. 

Sebab tidak ada bangsa yang akan berubah hanya karena pergantian tahun, pergantian rezim, atau pergantian slogan. 

Perubahan hanya akan terjadi ketika ada kemauan kolektif untuk memperbaiki akhlak, tata kelola, dan orientasi pembangunan.

Di awal 1448 Hijriah ini, semoga kita tidak sekadar menghitung usia bangsa, tetapi juga berani mengukur kesehatan nuraninya.

Sebab sesungguhnya bangsa yang kehilangan kekayaan masih dapat bangkit kembali. Namun bangsa yang kehilangan kejujuran, keadilan, dan rasa malu sedang berjalan menuju jurang kehancuran yang paling dalam.

Selamat Menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Saatnya berhijrah, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam cara berpikir, memimpin, dan memperlakukan rakyat.

Pojok Kampus USK, 15 Juni 2026

0 Komentar

© Copyright 2022 - gajah putih News.com