![]() |
Safari subuh Arafah By Redaksi Ahad, 14 Juni 2026 |
Menelusuri Jejak Peradaban Islam Aceh: Dari Dayah, Tauhid, hingga Semangat Perlawanan
BANDA ACEH – Perjalanan sejarah Aceh merupakan bagian penting dari peradaban Islam di Nusantara yang telah berlangsung selama berabad-abad. Aceh tidak hanya dikenal sebagai daerah yang memiliki tradisi keislaman yang kuat, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, perdagangan, hukum, dan perjuangan yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustad Mursalin Basyah, Lc., MA, dalam kegiatan Safari Subuh Arafah yang berlangsung di Masjid AYOUDHYA, Gampong Alue Deah Teungoh, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Ahad (14/6/2026).
![]() |
| Para jamaah safari subuh Arafah |
Aceh Sebagai Pusat Peradaban Islam
Sejarah mencatat bahwa Aceh pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam terpenting di Asia Tenggara. Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, wilayah ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus pusat penyebaran ilmu pengetahuan Islam.
Para ulama dari berbagai wilayah datang ke Aceh untuk belajar dan berdiskusi mengenai ilmu agama. Hubungan intelektual antara Aceh dengan Timur Tengah telah melahirkan banyak ulama besar yang memberikan kontribusi bagi perkembangan pemikiran Islam di Nusantara.
Keberadaan lembaga pendidikan tradisional atau dayah menjadi salah satu pilar utama yang menjaga kesinambungan ilmu pengetahuan Islam di Aceh. Dari dayah lahir generasi ulama, pemimpin masyarakat, dan pejuang yang memiliki integritas serta pemahaman agama yang kuat.
Kekuatan Tauhid dan Disiplin Masyarakat Aceh
Dalam perjalanan sejarahnya, masyarakat Aceh dikenal memiliki kedisiplinan sosial yang kuat yang bersumber dari nilai-nilai agama. Tauhid tidak hanya dipahami sebagai keyakinan, tetapi juga menjadi dasar dalam membangun tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kekuatan spiritual tersebut menjadi salah satu faktor yang membentuk karakter masyarakat Aceh sebagai bangsa yang tangguh, mandiri, dan memiliki semangat juang tinggi. Nilai-nilai keislaman yang mengakar kuat telah menjadi benteng dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk masa penjajahan.
Perlawanan terhadap Kolonialisme Belanda
Sejarah juga membuktikan bahwa Aceh merupakan salah satu wilayah yang paling gigih melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Perang yang dikenal sebagai Perang Aceh menjadi salah satu konflik terpanjang yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Belanda.
Kegigihan rakyat Aceh dalam mempertahankan agama, tanah air, dan kehormatan bangsa membuat pemerintah kolonial kesulitan menaklukkan wilayah tersebut. Bahkan Belanda harus melakukan berbagai strategi politik dan sosial untuk memahami kekuatan masyarakat Aceh.
Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah kolonial adalah Christiaan Snouck Hurgronje. Ia mempelajari kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Aceh secara mendalam guna memberikan masukan kepada pemerintah kolonial Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Fakta tersebut menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Islam dan peran ulama dalam kehidupan masyarakat Aceh pada masa itu.
Perempuan Aceh dalam Lintasan Sejarah
Perjuangan Aceh tidak hanya dilakukan oleh kaum laki-laki. Sejarah mencatat banyak perempuan Aceh yang tampil sebagai pemimpin dan pejuang dalam menghadapi penjajahan.
Di antaranya adalah Laksamana Malahayati yang dikenal sebagai perempuan pertama di dunia yang memimpin armada laut perang. Selain itu terdapat Cut Nyak Dhien yang memimpin perjuangan rakyat Aceh setelah gugurnya suaminya dalam perang melawan Belanda.
Nama lain yang juga memiliki peran penting adalah Teungku Fakinah, seorang ulama perempuan yang aktif dalam perjuangan melawan penjajah serta pendidikan masyarakat. Kehadiran para tokoh perempuan tersebut menunjukkan bahwa semangat perjuangan Aceh lahir dari seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan gender.
Menghormati dan Merawat Warisan Sejarah
Perjalanan panjang sejarah Aceh memberikan pelajaran berharga bagi generasi masa kini. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga identitas, nilai-nilai agama, budaya, dan pendidikan.
Oleh karena itu, masyarakat Aceh perlu terus mempelajari sejarah daerahnya sebagai sumber inspirasi dalam membangun masa depan. Penguatan pendidikan, pelestarian dayah, penghormatan terhadap ulama dan pahlawan, serta pengembangan generasi muda yang berakhlak menjadi bagian penting dalam merawat warisan peradaban Aceh.
Harapan
Diharapkan generasi Aceh masa kini mampu mengenal dan memahami sejarah daerahnya secara lebih mendalam. Semangat keilmuan, tauhid, persatuan, dan perjuangan yang diwariskan para pendahulu hendaknya menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan zaman modern.
Aceh memiliki modal sejarah yang besar untuk terus berkembang sebagai daerah yang religius, berbudaya, berpendidikan, dan bermartabat.
Kesimpulan Safari Subuh Arafah
Safari Subuh Arafah yang disampaikan Ustad Mursalin Basyah mengingatkan kembali bahwa kejayaan Aceh pada masa lalu dibangun oleh kekuatan iman, pendidikan dayah, persatuan masyarakat, dan semangat perjuangan yang tinggi.
Sejarah Aceh bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan sumber pelajaran yang harus dipahami dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kepahlawanan tetap hidup dalam kehidupan masyarakat Aceh.





Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor