Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

Hari Asyura 10 Muharram: Momentum Syukur, Introspeksi, dan Penyucian Diri Umat Islam


By redaksi: Gajahputihnews.com
Selasa, 23 Juni 2026
Oleh: Lynda, Az
Aktifis Perempuan dan 
Anggota Majelis Taklim (MT) Kota Banda Aceh 

Memasuki bulan Muharram, umat Islam di berbagai belahan dunia bersiap menyambut salah satu hari yang memiliki keutamaan besar dalam kalender Hijriah, yakni Hari Asyura yang diperingati setiap tanggal 10 Muharram. Hari yang sarat makna sejarah dan spiritual ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta melakukan introspeksi diri dalam mengawali tahun baru Hijriah.

Dalam tradisi Islam, Hari Asyura tidak sekadar menjadi penanda perjalanan waktu, tetapi juga mengingatkan kita semua umat terhadap berbagai peristiwa penting yang menunjukkan pertolongan Allah SWT kepada para nabi dan hamba-Nya yang beriman. 

“Karena itu, Hari Asyura dikenal sebagai hari penuh keberkahan, pengampunan, dan penguatan nilai-nilai kesabaran serta rasa syukur.”

Hari Asyura dan Jejak Sejarah Para Nabi

Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa pada tanggal 10 Muharram Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS beserta Bani Israil dari kejaran Fir'aun dengan membelah Laut Merah. Peristiwa monumental tersebut menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kezaliman.

Sebagai ungkapan syukur atas pertolongan Allah SWT, Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mengetahui kaum Yahudi juga berpuasa untuk mengenang peristiwa itu, beliau menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti ajaran Nabi Musa AS. 

“Rasulullah SAW kemudian melaksanakan puasa Asyura dan menganjurkan umatnya untuk melakukannya.”

Selain peristiwa Nabi Musa AS, sejumlah riwayat juga mengaitkan Hari Asyura dengan berbagai momentum penting dalam sejarah kenabian, seperti diterimanya tobat Nabi Adam AS dan keselamatan Nabi Nuh AS setelah peristiwa banjir besar. 

Meskipun sebagian riwayat tersebut memiliki tingkat validitas yang berbeda-beda, seluruhnya mengandung pesan tentang kasih sayang dan pertolongan Allah SWT kepada hamba-Nya yang taat.

Muharram, Bulan yang Dimuliakan Allah SWT

Muharram merupakan salah satu dari empat bulan suci atau Al-Asyhur Al-Hurum yang dimuliakan Allah SWT. 

Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, menjauhi perbuatan maksiat, serta meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah SWT dan sesama manusia.

Para ulama menjelaskan bahwa amal kebaikan yang dilakukan pada bulan Muharram memiliki nilai keutamaan tersendiri. 

Karena itu, momentum Hari Asyura menjadi kesempatan berharga untuk memperkuat komitmen spiritual dan memperbaiki kualitas diri di awal tahun Hijriah.

Keutamaan Puasa Asyura

Salah satu amalan yang paling dianjurkan pada Hari Asyura adalah menjalankan puasa sunnah. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa-dosa setahun yang telah lalu.”

Hadis tersebut menunjukkan betapa besar keutamaan puasa Asyura sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperoleh ampunan atas dosa-dosa kecil yang telah dilakukan selama satu tahun sebelumnya.

Untuk menyempurnakan pelaksanaan puasa Asyura, Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram yang dikenal sebagai Puasa Tasu'a, atau menambah puasa pada tanggal 11 Muharram. 

Anjuran ini bertujuan untuk membedakan praktik ibadah umat Islam dari tradisi puasa yang dilakukan oleh kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Momentum Introspeksi dan Kepedulian Sosial

Selain menjalankan puasa, Hari Asyura juga menjadi momentum memperbanyak amal kebajikan. 

Berbagai kegiatan sosial seperti bersedekah, membantu fakir miskin, menyantuni anak yatim, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur'an, serta mempererat silaturahmi menjadi amalan yang dianjurkan selama bulan Muharram.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, nilai-nilai yang terkandung dalam Hari Asyura relevan untuk terus dihidupkan.

Semangat kesabaran Nabi Musa AS, keteguhan para nabi dalam menghadapi ujian, serta keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT menjadi inspirasi bagi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Menyambut Tahun Baru Hijriah dengan Semangat Perubahan

Hari Asyura pada hakikatnya bukan hanya peringatan sejarah, melainkan ajakan untuk melakukan transformasi diri. 

Momentum ini mengingatkan umat Islam bahwa setiap pergantian tahun Hijriah harus diiringi dengan evaluasi diri, peningkatan kualitas ibadah, serta komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Melalui puasa, doa, zikir, dan berbagai amal saleh lainnya, umat Islam diharapkan mampu menjadikan Hari Asyura sebagai sarana penyucian jiwa sekaligus memperkuat rasa syukur atas nikmat dan pertolongan Allah SWT.

Dengan demikian, peringatan 10 Muharram tidak hanya menjadi tradisi keagamaan tahunan, tetapi juga menjadi momentum membangun karakter, memperkuat kepedulian sosial, serta meneguhkan keimanan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan di era modern.

Waallahuaklam Bishawab 

© Copyright 2022 - gajah putih News.com