Berita

📰 Berita Terbaru

Cari Berita Ini

Breaking News

Festival Meurukon Hidupkan Kembali Seni Tradisi Aceh yang Nyaris Punah

Pentasan acara ini sudah dilakukan persiapan secara kontinyu oleh beberapa sanggar selama beberapa bulan sebelumnya, semoga dengan seni budaya Meurukon ini dapat memberi cakrawala dan suguhan menarik dari seni budaya yang selama ini jarang di tampilkan 

Media: Gajahputihnews.com
Selasa, 23 Juni 2026

BANDA ACEH — Upaya pelestarian seni tradisi Aceh terus dilakukan melalui penyelenggaraan Festival Meurukon: Seni Tradisi Aceh yang Hampir Punah yang digagas Perkumpulan Majelis Seniman Aceh (MaSA). Program tersebut merupakan bagian dari dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana bidang Pendayagunaan Ruang Publik 2025.

Puncak kegiatan berlangsung pada Selasa malam, 23 Juni 2026, di Gedung Teater Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh, Banda Aceh. Pertunjukan yang dimulai pukul 20.30 WIB hingga 23.00 WIB itu menjadi momentum penting dalam upaya menghidupkan kembali seni meurukon yang selama ini mulai jarang dikenal oleh generasi muda.

Ketua Umum Majelis Seniman Aceh, Chairiyan Ramli, mengatakan bahwa meurukon merupakan salah satu warisan budaya Aceh yang memiliki nilai religius, edukatif, dan sosial yang sangat kuat. Namun, keberadaannya kini semakin terpinggirkan sehingga diperlukan langkah nyata untuk mengembalikannya ke ruang publik.

“Melalui festival ini kami berupaya memasyarakatkan kembali seni meurukon agar dikenal dan diminati oleh generasi muda,” ujar Chairiyan.

Pada pertunjukan tersebut tampil Sanggar Meurukon UBBG yang beranggotakan mahasiswa Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh. Kelompok ini merupakan grup baru yang dibentuk dalam rangkaian program festival setelah menjalani pelatihan intensif selama tiga bulan.

Selain itu, turut tampil grup meurukon dari Kuta Gle, Blang Kuta Dua Meunasah, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen yang selama ini masih aktif mempertahankan tradisi tersebut.

Chairiyan menjelaskan, pembentukan Sanggar Meurukon UBBG merupakan hasil kerja sama Majelis Seniman Aceh dengan pihak Universitas Bina Bangsa Getsempena yang dijembatani oleh dosen UBBG, Dr. Zahraini, S.Pd., M.Pd.

Pelatihan meurukon berlangsung sejak April hingga Juni 2026 dengan melibatkan sejumlah pendamping dan pelatih, di antaranya Dr. Zahraini, S.Pd., M.Pd., Asifa Askan, M.Sn., serta Thayeb Loh Angen dari Majelis Seniman Aceh.

Rektor Universitas Bina Bangsa Getsempena, Prof. Dr. Hj. Lili Kasmini, S.Si., M.Si., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa menjadi langkah strategis dalam regenerasi pelaku seni tradisi Aceh.

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan dan Pendidikan Bahasa serta Sastra Aceh, UBBG menilai pelestarian meurukon sangat penting sebagai bagian dari penguatan identitas budaya daerah.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendampingi dan melatih mahasiswa sehingga mereka mampu menampilkan pertunjukan meurukon di panggung Taman Seni dan Budaya Aceh," kata Lili Kasmini.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival, Thayeb Loh Angen, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak April 2026. Dalam proses pelatihan, pihaknya menghadirkan Syeh Ismail Husen yang didampingi Yakob Samalanga untuk membimbing para mahasiswa peserta.

Festival meurukon tersebut meliputi empat agenda utama, yakni pelatihan, workshop yang dilaksanakan di UBBG pada 12 Juni 2026, pertunjukan pada 23 Juni 2026, serta pameran yang berlangsung di lobi Gedung Teater Tertutup Taman Seni dan Budaya Aceh pada 22–24 Juni 2026.

Selain itu, tim pelaksana juga menyusun sebuah booklet panduan meurukon yang ditulis oleh Iskandar Norman, Dr. Zahraini, dan Thayeb Loh Angen. Penulisan aksara Jawi Aceh dilakukan oleh M. Iqbal Hafidh dengan pengantar dari Prof. Yusny Saby dan Prof. Lili Kasmini.

Thayeb menilai bahwa meurukon memiliki posisi yang sangat penting dalam khazanah budaya Aceh karena berfungsi sebagai media dakwah Islam yang disampaikan melalui seni tutur dan dialog keagamaan.

“Meurukon merupakan seni dakwah yang secara utuh berbicara tentang ajaran Islam. Pelestariannya penting agar masyarakat mengetahui perkembangan pemikiran, pendidikan, dan peradaban yang pernah tumbuh di Aceh,” ujarnya.

Melalui festival tersebut, Majelis Seniman Aceh berharap seni meurukon dapat kembali berkembang dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda dan penutur bahasa Aceh.

Program "Festival Meurukon: Seni Tradisi Aceh yang Hampir Punah" didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana bidang Pendayagunaan Ruang Publik 2025, yang bersumber dari Dana Abadi Kebudayaan dan dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Pelaksanaan festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi gerakan kebudayaan untuk menjaga identitas, nilai keislaman, dan warisan intelektual masyarakat Aceh di tengah arus modernisasi.

© Copyright 2022 - gajah putih News.com