![]() |
Redaksi: Gajahputihnews.com Kamis, 25 Juni 2026 Oleh: Junaidi Setiaraya |
“Semangat Swadaya Masyarakat Gayo Menjaga Warisan Persatuan dan Peradaban”
BENER MERIAH – Negeri di atas awan Tanoh Gayo, yang kini dikenal sebagai Kabupaten Bener Meriah, menyimpan jejak sejarah panjang tentang perjuangan, persatuan, dan keteguhan masyarakatnya.
Daerah yang dahulu merupakan bagian dari Aceh Tengah sebelum dimekarkan pada tahun 2003 itu tidak hanya dikenal sebagai penghasil kopi arabika terbaik dunia, tetapi juga menjadi saksi berbagai peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Salah satu warisan sejarah yang hingga kini tetap dikenang adalah keberadaan Radio Rimba Raya, sebuah stasiun radio perjuangan yang pada masa Agresi Militer Belanda menjadi corong Republik Indonesia kepada dunia internasional.
“Dari kawasan pedalaman Aceh, siaran Radio Rimba Raya berhasil menembus berbagai negara dan membantah klaim Belanda yang menyatakan bahwa Republik Indonesia telah runtuh.”
Sejarah mencatat, suara dari Tanoh Gayo dan Aceh kala itu menjadi simbol bahwa republik masih berdiri. Semangat perjuangan tersebut ternyata tidak pernah benar-benar padam dalam kehidupan masyarakat Gayo.
“Pengalaman serupa dirasakan oleh banyak pihak yang pernah bertugas di kawasan tersebut juga tidak luput diri penulis.”
Ketika menjalankan tugas PPK-PNPM-MP dan BRA di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, pada periode 2005–2011 pasca tsunami Aceh.
Kedekatan emosional dengan masyarakat Gayo, para reje, tokoh adat, dan masyarakat kampung memperlihatkan satu kekuatan besar yang dimiliki Tanoh Gayo, yakni semangat kebersamaan, itu yang kami alami.
Kekuatan masyarakat Gayo sesungguhnya bukan hanya terletak pada kekayaan alam maupun hasil perkebunan kopinya, melainkan pada modal sosial berupa gotong royong, kepedulian, dan solidaritas yang diwariskan secara turun-temurun.
Nilai tersebut kembali terlihat dalam aksi swadaya masyarakat memperbaiki ruas Jalan Tajuk–Enang-Enang yang menghubungkan Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Selama sekitar tujuh bulan terakhir, akses vital tersebut mengalami kerusakan akibat longsor dan kondisi jalan yang membahayakan pengguna.
Namun masyarakat tidak memilih menunggu. Mereka bergerak secara mandiri, bergotong royong, dan mengumpulkan kekuatan bersama demi membuka kembali akses yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.
Warga dari berbagai kampung berdatangan ke lokasi. Mereka menyumbangkan tenaga, bahan material, alat berat, konsumsi, hingga dana operasional.
Dukungan juga datang dari komunitas sosial, relawan, pelaku usaha, serta eksportir kopi Gayo yang memahami pentingnya jalur tersebut terhadap distribusi hasil pertanian dan mobilitas ekonomi masyarakat.
Gerakan swadaya tersebut bukan sekadar pekerjaan memperbaiki jalan, melainkan manifestasi nyata dari falsafah hidup masyarakat Gayo yang dikenal dengan ungkapan “alang tulung, beret bantu”, yakni saling menolong dan saling menopang dalam menghadapi kesulitan.
Budaya gotong royong telah lama menjadi identitas masyarakat Gayo. Dalam berbagai literatur antropologi Aceh, modal sosial masyarakat pedalaman Gayo dikenal sebagai salah satu kekuatan utama dalam menjaga kehidupan sosial, menyelesaikan persoalan bersama, serta mempertahankan ketahanan masyarakat di tengah berbagai tantangan.
Di tengah semangat kebersamaan tersebut, masyarakat berharap pemerintah hadir sebagai bagian dari solusi.
Jalan Enang-Enang merupakan akses strategis yang menghubungkan aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat di dua kabupaten.
Karena itu, penanganannya memerlukan langkah yang cepat, terukur, dan berkelanjutan.
Masyarakat tidak mengharapkan janji yang berulang ataupun pernyataan seremonial. Yang mereka butuhkan adalah tindakan nyata dan keberpihakan terhadap kebutuhan rakyat.
Ketika masyarakat secara sukarela turun langsung memperbaiki jalan demi kepentingan bersama, semangat tersebut seharusnya mendapat dukungan, pendampingan, dan percepatan kebijakan dari pemerintah.
Apabila terdapat kendala teknis maupun administrasi, maka solusi harus dihadirkan, sebab pada hakikatnya pemerintah hadir untuk mempermudah penyelesaian persoalan masyarakat.
Sejarah Tanoh Gayo telah berulang kali membuktikan bahwa masyarakatnya mampu bertahan dan bangkit melalui kekuatan kolektif.
Dari perjuangan mempertahankan republik melalui Radio Rimba Raya hingga semangat swadaya memperbaiki Jalan Enang-Enang, terdapat benang merah yang sama, yaitu semangat persatuan dan kepedulian.
Oleh sebab itu, gerakan swadaya masyarakat di Jalan Enang-Enang harus dipandang sebagai energi sosial yang positif dan strategis.
Pemerintah daerah, Pemerintah Aceh, hingga pemerintah pusat diharapkan dapat bersinergi untuk mempercepat pembangunan permanen jalan tersebut.
Perbaikan Jalan Enang-Enang secara swadaya menjadi pesan penting bahwa Tanoh Gayo masih memiliki kekuatan sosial yang luar biasa.
“Masyarakat telah membuktikan bahwa kepedulian dan gotong royong mampu melahirkan solusi di tengah keterbatasan.”
Pada akhirnya, jalan yang diperbaiki secara swadaya ini bukan semata tentang infrastruktur. Ia telah menjelma menjadi simbol persatuan, solidaritas, dan harapan masyarakat Gayo.
Ketika rakyat telah bergerak dengan ketulusan, maka sudah sepatutnya pemerintah hadir dengan kebijakan, dukungan, dan tindakan nyata.
Sebab pembangunan yang kuat tidak hanya dibangun oleh anggaran, melainkan juga oleh kepercayaan, kebersamaan, dan semangat rakyat yang tidak pernah padam.

Social Header
Berita
📰 Berita Terbaru
Cari Berita Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor