Breaking News

BANGSA BESAR TIDAK PERNAH LAHIR DARI PEREMPUAN YANG DIREMEHKAN


Media: Gajahputihnews.com
Minggu, 7 Juni 2026
Editor: Junaidi Ulka 

BANGSA BESAR TIDAK PERNAH LAHIR DARI PEREMPUAN YANG DIREMEHKAN

“Refleksi atas Gagasan Lynda Az tentang Perempuan Aceh dan Masa Depan Peradaban”

Oleh : 
Prof. Dr. TM. Jamil, M.Si.
Akademisi & Pengamat Sosial USK, Banda Aceh.
Konsultan Keluarga -  Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh.

Tulisan Lynda Az berjudul “Perempuan Aceh dalam Lintasan Sejarah dan Pembangunan Modern: Pilar Intelektualitas, Syiar Islam, dan Partisipasi Publik” patut diapresiasi sebagai upaya mengingatkan kembali masyarakat Aceh bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap sejarah, melainkan salah satu aktor utama yang membentuk arah peradaban.

Dalam banyak masyarakat, sejarah sering ditulis dari sudut pandang laki-laki. Nama-nama raja, panglima perang, politikus, dan pemimpin negara memenuhi buku-buku sejarah. Namun di balik lahirnya para tokoh tersebut, sering kali berdiri perempuan-perempuan tangguh yang membentuk karakter, menanamkan nilai, dan menyiapkan fondasi moral bagi generasi penerus.

Aceh memiliki kekayaan sejarah yang unik dalam hal ini.

Jauh sebelum isu kesetaraan gender menjadi wacana global, Aceh telah mencatatkan dirinya sebagai salah satu wilayah di dunia Islam yang memberi ruang luas bagi kepemimpinan perempuan. 

Nama-nama seperti Sultanah Safiatuddin Syah, Sultanah Naqiatuddin Syah, Sultanah Zakiatuddin Syah, dan Sultanah Kamalat Syah bukan sekadar catatan sejarah, tetapi bukti bahwa kapasitas intelektual dan kepemimpinan perempuan telah diakui dalam tradisi sosial-politik Aceh.

Dalam bidang perjuangan, dunia mengenal Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Pocut Baren, dan sederet perempuan Aceh lainnya yang mengajarkan bahwa keberanian tidak mengenal jenis kelamin.

Namun persoalan yang dihadapi Aceh hari ini bukan lagi penjajahan fisik. Tantangan terbesar kita adalah penjajahan cara berpikir.

Kita hidup di era ketika pembangunan sering diukur dengan angka-angka ekonomi, pertumbuhan investasi, gedung-gedung megah, dan proyek-proyek besar. Sementara pembangunan manusia, terutama pembangunan kualitas perempuan, masih sering diposisikan sebagai isu sekunder.

Padahal berbagai penelitian pembangunan menunjukkan bahwa kualitas perempuan merupakan salah satu indikator paling menentukan kemajuan suatu bangsa.

Peraih Nobel Ekonomi, Amartya Sen, berulang kali menegaskan bahwa pembangunan sejati bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan perluasan kemampuan manusia (capability expansion). Dan kemampuan itu sangat dipengaruhi oleh akses perempuan terhadap pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan ruang partisipasi publik.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang masa depan Aceh, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang masa depan perempuan Aceh.

Tidak ada transformasi sosial tanpa transformasi perempuan. Tidak ada revolusi pendidikan tanpa keterlibatan perempuan. 

Tidak ada keluarga yang kuat tanpa perempuan yang dihormati. Tidak ada masyarakat madani tanpa perempuan yang diberi ruang untuk berkembang.

“Tulisan Lynda Az secara tepat mengingatkan bahwa perempuan Aceh bukan hanya objek pembangunan, melainkan subjek pembangunan.”

Namun saya ingin melangkah lebih jauh. Persoalan perempuan hari ini bukan hanya tentang keterwakilan dalam ruang publik. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana masyarakat memandang perempuan itu sendiri.

Masih ada budaya yang menganggap perempuan cukup berada di belakang layar. Masih ada keluarga yang mengutamakan pendidikan anak laki-laki dibanding anak perempuan.

Masih ada lingkungan sosial yang mengukur nilai perempuan hanya dari penampilan fisiknya.

Masih ada ruang-ruang kerja yang mempersulit perempuan berkembang. 

Masih ada kekerasan domestik yang disembunyikan atas nama menjaga nama baik keluarga.

Dan yang lebih menyedihkan, sering kali diskriminasi terhadap perempuan justru dilakukan oleh sesama anggota masyarakat yang mengaku menjunjung tinggi nilai agama. Padahal Islam sejak awal hadir untuk memuliakan perempuan.

Ketika dunia Arab mengubur bayi perempuan hidup-hidup, Islam datang membawa revolusi kemanusiaan. Ketika perempuan dianggap tidak memiliki hak, Islam memberikan hak pendidikan, hak ekonomi, hak kepemilikan, dan hak memperoleh penghormatan sebagai manusia yang setara dalam martabat. Karena itu, memuliakan perempuan bukan agenda Barat. Bukan pula agenda modernitas.

Memuliakan perempuan adalah agenda kemanusiaan dan ajaran Islam itu sendiri.

Dalam perspektif sosiologi keluarga, perempuan merupakan pusat reproduksi sosial. Mereka bukan hanya melahirkan manusia secara biologis, tetapi juga melahirkan nilai, budaya, karakter, dan peradaban.

Seorang ibu tidak hanya melahirkan seorang anak.
  • Ia sedang melahirkan seorang pemimpin masa depan.
  • Ia sedang melahirkan seorang ilmuwan.
  • Ia sedang melahirkan seorang guru. 
  • Ia sedang melahirkan seorang pengusaha. 
  • Dan Ia sedang melahirkan seorang pembangun bangsa.

Karena itu, setiap kali kita meremehkan perempuan, sesungguhnya kita sedang meremehkan masa depan kita sendiri. 

Setiap kali kita membatasi akses perempuan terhadap pendidikan, sesungguhnya kita sedang membatasi kualitas generasi yang akan lahir.

Setiap kali kita membiarkan perempuan hidup dalam ketakutan, sesungguhnya kita sedang meruntuhkan fondasi masyarakat yang sehat.

Sejarah dunia menunjukkan pola yang hampir sama.

Bangsa-bangsa yang berhasil maju adalah bangsa yang mampu mengangkat kualitas perempuan. Sebaliknya, masyarakat yang meminggirkan perempuan hampir selalu tertinggal dalam kualitas sumber daya manusia.

Aceh memiliki modal sejarah, modal budaya, dan modal religius yang sangat besar untuk menjadi contoh pembangunan berbasis keluarga dan pemberdayaan perempuan. Namun modal itu tidak akan berarti jika hanya berhenti menjadi kebanggaan masa lalu.

Kita membutuhkan keberanian untuk menerjemahkan warisan sejarah tersebut menjadi kebijakan nyata.

  • Pendidikan yang lebih baik.
  • Perlindungan terhadap perempuan dan anak.
  • Kesempatan ekonomi yang setara.
  • Partisipasi publik yang bermakna.
  • Dan yang paling penting, budaya penghormatan terhadap perempuan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada titik inilah saya sepakat dengan pesan utama yang disampaikan Lynda Az.

Perempuan Aceh bukan sekadar bagian dari sejarah. Mereka adalah penulis sejarah itu sendiri. Mereka bukan sekadar pewaris peradaban. Mereka adalah pencipta peradaban.

Dan jika Aceh ingin kembali menjadi negeri yang bermartabat, maju, dan berdaya saing, maka salah satu langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa setiap perempuan Aceh memperoleh penghormatan, kesempatan, dan ruang yang layak untuk tumbuh. 

Sebab sejarah telah mengajarkan satu pelajaran yang tidak pernah berubah : Bangsa besar tidak pernah lahir dari perempuan yang diremehkan. Wallahu a'lam bish-shawab.

Sagoe Atjeh Rayeuk, Akhir Pekan, 7 Juni 2026

© Copyright 2022 - gajah putih News.com