UIN Ar-Raniry Bukan Mesin Kekuasaan : Bahaya Status Quo dan Matinya Regenerasi Akademik
Di TENGAH dinamika pemilihan Rektor UIN Ar-Raniry, mulai dimainkan sebuah narasi bahwa kampus ini sebaiknya tetap dipimpin figur lama karena dianggap sedang berada dalam kondisi “baik-baik saja”. Bahkan muncul analogi bahwa UIN Ar-Raniry ibarat “mesin yang sedang panas”, sehingga pergantian nahkoda dinilai berpotensi mengganggu laju institusi.
Narasi ini terdengar tenang, rasional, bahkan seolah akademis. Namun sesungguhnya ia menyimpan bahaya besar bagi dunia perguruan tinggi. Sebab universitas diperlakukan hanya sebagai mesin birokrasi yang cukup dijaga agar tetap berjalan, bukan sebagai ruang intelektual yang hidup dari regenerasi gagasan, keberanian kritik, dan pembaruan visi.
Universitas bukan pabrik administrasi
Kampus adalah pusat pertarungan ide, laboratorium pemikiran, dan tempat lahirnya peradaban. Ketika perguruan tinggi mulai takut pada perubahan, maka saat itu pula dunia akademik sedang bergerak menuju kemunduran yang dibungkus dengan bahasa stabilitas.
Masalah terbesar dari narasi “lanjutkan saja karena sudah baik” ialah lahirnya budaya ketergantungan pada figur. Seolah-olah kampus akan kehilangan arah bila dipimpin orang baru. Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya bagi institusi akademik modern. Sebab universitas yang sehat dibangun oleh sistem yang kuat, bukan oleh kultus individu.
Jika sebuah kampus diyakini hanya bisa maju di tangan satu orang, maka sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan kekuatan institusi, melainkan kegagalan kaderisasi intelektual.
Pemikir Prancis, Michel Foucault, pernah mengingatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bekerja melalui aturan, tetapi juga melalui produksi narasi dan pembentukan opini publik. Dalam konteks pemilihan rektor, istilah “mesin yang sedang panas” bukan sekadar metafora netral. Ia adalah operasi wacana yang secara halus ingin menanamkan ketakutan bahwa perubahan identik dengan ancaman, sedangkan mempertahankan status quo dianggap sebagai pilihan paling aman.
Padahal sejarah universitas-universitas besar dunia justru menunjukkan hal sebaliknya. Regenerasi kepemimpinan sering menjadi momentum lahirnya energi baru, inovasi baru, jejaring baru, dan keberanian akademik baru. Kampus yang terlalu lama nyaman dengan pola lama biasanya perlahan kehilangan daya adaptasi terhadap perubahan zaman.
Harus diakui, UIN Ar-Raniry dalam beberapa tahun terakhir memang mencatat sejumlah capaian penting : akreditasi unggul, bertambahnya guru besar, meningkatnya publikasi internasional, serta penguatan reputasi akademik. Semua itu layak diapresiasi secara objektif.
Namun capaian institusi tidak boleh dipersonalisasi secara berlebihan seolah seluruh kemajuan lahir dari satu tangan. Perguruan tinggi tumbuh melalui kerja kolektif dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, budaya akademik, dan dukungan negara. Ketika keberhasilan kampus mulai dipusatkan pada satu figur, maka kultur akademik perlahan bergeser menjadi kultur patronase.
Dan patronase adalah musuh utama universitas modern
Kampus tidak membutuhkan akademisi yang sibuk membangun legitimasi kekuasaan melalui retorika ilmiah yang miskin objektivitas. Kampus membutuhkan keberanian moral untuk mengatakan bahwa regenerasi adalah hukum alam dalam dunia intelektual.
Dalam teori organisasi modern, institusi yang matang justru ditandai oleh kemampuannya melakukan transisi kepemimpinan secara elegan tanpa rasa takut kehilangan arah. Pergantian pemimpin bukan ancaman, melainkan mekanisme sehat untuk mencegah stagnasi ide dan konsentrasi pengaruh yang terlalu lama.
Karena itu, publik tidak boleh melihat pergantian rektor sebagai bentuk penolakan terhadap capaian sebelumnya. Pergantian bisa menjadi fase pembaruan orientasi, penyegaran visi, dan penyesuaian terhadap tantangan global pendidikan tinggi Islam yang semakin kompleks.
Apalagi UIN Ar-Raniry hari ini tidak miskin kader intelektual
Banyak figur potensial memiliki kapasitas akademik, pengalaman struktural, jejaring internasional, dan integritas moral yang layak dipertimbangkan. Kehadiran banyak kandidat berkualitas justru menunjukkan bahwa regenerasi di tubuh UIN Ar-Raniry berjalan sehat.
Dan kampus yang sehat tidak pernah takut pada kompetisi gagasan.
Empat tahun ke depan, tantangan pendidikan tinggi jauh lebih berat: internasionalisasi kampus, kecerdasan artifisial dalam pembelajaran, disrupsi digital, kompetisi riset global, hingga krisis moral generasi digital. Semua itu membutuhkan kepemimpinan visioner yang tidak sekadar menjaga rutinitas birokrasi, tetapi berani membuka arah baru.
Karena pada akhirnya, rektor bukan operator administratif yang tugasnya sekadar memastikan “mesin tetap hidup”. Rektor adalah nahkoda intelektual yang menentukan ke mana kapal besar bernama UIN Ar-Raniry akan berlayar.
Dan dalam dunia akademik, keberanian melakukan regenerasi bukan tanda kelemahan institusi — melainkan bukti kedewasaan sebuah universitas untuk tidak tunduk pada ketergantungan figur dan jebakan status quo.

Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor