Breaking News

SINTE MUNGERJE: WARISAN BUDAYA ADAT GAYO, PEDOMAN MENDIRIKAN RUMAH TANGGA YANG SARAT NILAI LUHUR


Takengon
, 5 Mei 2026 – Masyarakat suku Gayo yang mendiami wilayah Tanoh Gayo meliputi Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan sekitarnya, masih teguh memelihara dan melestarikan tradisi leluhur yang bernama Sinte Mungerje. Tradisi ini bukan sekadar rangkaian upacara dalam prosesi pernikahan, melainkan sistem ajaran dan nilai kehidupan yang menjadi pegangan utama bagi setiap pasangan yang akan membina rumah tangga.

 

Secara bahasa, Sinte berarti ajaran, petuah, atau nasihat, sedangkan Mungerje berasal dari kata ngerje yang bermakna hidup bersama, berumah tangga, dan membangun kehidupan berkeluarga. Jika digabungkan, Sinte Mungerje dapat diartikan sebagai seluruh pedoman dan bimbingan baik dari sisi adat maupun agama untuk membina hubungan suami istri yang harmonis, langgeng, dan berkah.

 

Ketua LSM Aliansi Rakyat Pecinta Alam Aceh (ARPAA) Riga Irawan Toni dalam keterangannya menyebutkan, Sinte Mungerje merupakan salah satu kekayaan budaya lokal yang perlu terus dijaga, dipelajari, dan disebarluaskan, tidak hanya untuk generasi muda Gayo, tapi juga sebagai warisan budaya milik bangsa Indonesia.

 

“Di dalam Sinte Mungerje terkandung akulturasi yang indah antara nilai-nilai adat asli masyarakat Gayo dengan ajaran Islam yang telah lama hidup berdampingan. Ini membuktikan bahwa budaya dan agama bisa berjalan beriringan, saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain,” ujar Riga.



*Rangkaian Prosesi yang Penuh Makna

 Tradisi ini dilaksanakan secara bertahap, setiap tahapan memiliki makna dan tujuan mendalam, yaitu:

✓ Mung In Te: Tahap awal dimana keluarga pihak laki-laki datang menyampaikan niat baik untuk meminang wanita pilihannya, sebagai bentuk penghormatan dan keterbukaan antar keluarga.

✓Be Telah: Musyawarah kedua belah pihak untuk membahas segala persyaratan, hantaran, mahar, dan kesepakatan lain yang disesuaikan dengan kemampuan dan adat setempat.

✓ I Serahan Ku Guru: Penyerahan calon pengantin kepada tokoh agama dan tetua adat untuk mendapatkan bimbingan, pembelajaran, dan penanaman nilai-nilai kehidupan.

✓Be Guru / Ejer Muara: Momen inti, dimana para tetua, orang tua, dan tokoh masyarakat menyampaikan petuah, nasihat, serta penjelasan tentang hak dan kewajiban masing-masing pasangan.

✓Mu Jule Mas: Penyerahan hantaran dan mahar sebagai bentuk bukti tanggung jawab, penghormatan, dan komitmen laki-laki kepada wanita dan keluarganya.

✓ Pakat Sara Ine: Musyawarah akhir untuk memastikan semua kesepakatan sudah disepakati bersama tanpa ada paksaan maupun keberatan.

✓Akad dan Upacara Penutup: Menggabungkan prosesi agama dan adat, diakhiri dengan doa bersama agar pasangan tersebut senantiasa diberikan kebahagiaan dan keberkahan dalam berumah tangga.

 

💎 Nilai-Nilai Luhur yang Ditanamkan

 

Dalam setiap petuah yang disampaikan, Sinte Mungerje mengajarkan nilai-nilai mulia yang menjadi pondasi kehidupan berumah tangga, antara lain:

🔹 Setie → kesetiaan dan kepercayaan satu sama lain

🔹 Bersikeke melen → saling mengingatkan dan menasihati dengan cara yang baik dan sopan

🔹 Mukemmel → saling menyempurnakan kekurangan masing-masing

🔹 Alang tulung → selalu saling membantu dalam suka maupun duka

🔹 Amanah → bertanggung jawab atas tugas dan kewajiban masing-masing peran

🔹 Gem asih → hidup saling menyayangi, mengasihi, dan memahami

🔹 Muten tu → memiliki rasa malu, harga diri, dan selalu menjaga perilaku dan nama baik diri serta keluarga

 

Menurut tokoh adat Tanoh Gayo, Aminullah, Sinte Mungerje diciptakan oleh leluhur agar setiap pasangan tidak hanya menikah secara formalitas, tapi benar-benar siap secara mental, pengetahuan, dan sikap untuk menjalani kehidupan berumah tangga.

 

“Zaman terus berubah, tapi nilai-nilai yang ada di Sinte Mungerje tetap relevan sampai sekarang. Banyak permasalahan rumah tangga bisa dihindari jika kita kembali memegang ajaran ini,” katanya.

 

Sebagai organisasi yang juga peduli terhadap pelestarian budaya dan lingkungan, ARPAA berkomitmen untuk turut serta melestarikan tradisi ini, salah satunya dengan mendokumentasikan, menyebarluaskan informasi, serta mengadakan kegiatan sosialisasi dan pembelajaran budaya kepada generasi muda.

 

“Budaya adalah identitas kita, dan Sinte Mungerje adalah salah satu permata berharga milik masyarakat Gayo. Kami akan terus berupaya agar tradisi ini tidak punah, bahkan semakin dikenal luas oleh masyarakat Aceh dan Indonesia pada umumnya,” tutup Riga.

 

 

 Penulis: Tim Media ARPAA

Sumber: Wawancara tokoh adat dan dokumentasi budaya Tanoh Gayo

Tags: #SinteMungerje #AdatGayo #BudayaAceh #ARPAA #WarisanBudaya #TanohGayo

© Copyright 2022 - gajah putih News.com