![]() |
Media: GajahPutihnews.com Senin, 4 Mei 2026 Oleh : Prof. Dr. Drs. TM. Jamil, M.Si Kader dan Alumni PII Akademisi dan Ilmuwan Politik Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh |
“SEKALI LAYAR TERKEMBANG …” : Ketika PII Terancam Menjadi Monumen Sejarah dan Kader Kehilangan Nyali Perjuangan
GPNEWS | 4 Mei bukan sekadar momentum seremonial organisasi. Ia adalah titik lahir sebuah kesadaran sejarah : bahwa pelajar tidak boleh menjadi penonton bangsa, tetapi harus tampil sebagai penjaga moral, penggerak intelektual, dan pelopor perubahan sosial.
Pada 4 Mei 1947, ketika republik ini masih berdarah dan masa depan Indonesia belum menemukan kepastian, lahirlah Pelajar Islam Indonesia (PII). Organisasi ini tidak lahir dari ruang nyaman, melainkan dari kecemasan sejarah. PII lahir bukan untuk membangun romantisme organisasi, tetapi untuk membentuk manusia pejuang : kuat iman, tajam pikiran, dan berani melawan ketidakadilan.
Karena itu, PII pada masa lalu bukan sekadar organisasi pelajar. Ia adalah madrasah kader peradaban. Dari ruang-ruang pengkaderannya lahir tokoh bangsa, aktivis sosial, akademisi, ulama, pemikir, dan pemimpin yang hidup dengan idealisme.
Mereka tidak dibesarkan oleh kemewahan, tetapi oleh penderitaan dan disiplin perjuangan. Mereka akrab dengan buku, diskusi, kritik, dan pengorbanan. Mereka mungkin miskin secara materi, tetapi kaya keberanian moral.
Maka pertanyaan paling penting pada Milad PII hari ini bukanlah : sudah berapa usia organisasi ini? Tetapi :
- Masihkah ruh perjuangannya hidup di dada kader-kadernya ?
- Masihkah bait mars itu menjadi sumpah ideologis ?
“Sekali layar terkembang, surut kita berpantang…”
Ataukah kini ia hanya tinggal nyanyian nostalgia yang kehilangan daya gugat dan keberanian sejarah ?
Di sinilah kegelisahan itu menjadi relevan.
Sebab kita hidup di zaman ketika banyak organisasi mulai kehilangan kedalaman ruh kaderisasi. Dunia digital melahirkan budaya instan. Popularitas lebih dipuja daripada kapasitas. Viral lebih penting daripada intelektualitas. Banyak orang ingin terlihat hebat, tetapi sedikit yang siap ditempa menjadi kuat.
Akibatnya, tidak sedikit organisasi pelajar dan mahasiswa termasuk organisasi Islam perlahan berubah menjadi panggung simbolik : ramai atribut, miskin gagasan; sibuk seremoni, tetapi kehilangan daya kritis.
Pertanyaan yang terasa menohok pun muncul :
- Apakah PII hari ini masih melahirkan kader pejuang, atau justru melahirkan generasi pemburu posisi dan pencitraan ?
- Apakah ruang-ruang diskusi kader masih berbicara tentang keadilan sosial, kebangsaan, kemiskinan struktural, krisis moral, dan masa depan umatv?
Ataukah energi organisasi habis hanya untuk perebutan pengaruh, jabatan, dan eksistensi media sosial?
Ini bukan tuduhan. Ini adalah alarm sejarah.
Karena kehancuran organisasi tidak dimulai ketika sekretariatnya kosong, tetapi ketika idealismenya mati perlahan.
PII dahulu dikenal sebagai rumah lahirnya kader yang keras terhadap dirinya sendiri, tetapi lembut kepada rakyat. Kader-kadernya tidak takut berbeda pendapat. Mereka berani mengkritik kekuasaan, tetapi tetap menjaga etika intelektual dan moralitas perjuangan.
Hari ini, tantangan terbesar bukan sekadar mempertahankan organisasi secara struktural, melainkan mempertahankan karakter kaderisasi. Sebab organisasi bisa tetap hidup secara administratif, tetapi mati secara ruh dan nilai.
Bangsa ini sesungguhnya sedang mengalami krisis serius : krisis keteladanan, krisis intelektual, dan krisis moral publik. Kita hidup di era ketika kebisingan lebih dihargai daripada kedalaman berpikir. Banyak orang pandai berbicara, tetapi miskin keberanian moral. Banyak yang tampil religius, tetapi gagal menghadirkan keadilan sosial.
Dalam situasi seperti ini, PII seharusnya tampil sebagai kekuatan moral dan intelektual. Bukan sekadar organisasi nostalgia yang sibuk mengenang kejayaan masa lalu. Sebab PII sejati bukan museum sejarah kaderisasi Islam.
PII harus tetap menjadi laboratorium pemikiran, sekolah kepemimpinan, dan kawah candradimuka perjuangan moral bangsa.
Karena kader sejati tidak lahir dari kenyamanan. Ia lahir dari tempaan. Dari bacaan yang serius. Dari diskusi yang melelahkan. Dari keberanian melawan arus. Dan dari integritas yang tidak bisa dibeli oleh kekuasaan.
PII dahulu mengajarkan bahwa menjadi pelajar bukan hanya mengejar ijazah dan status sosial. Menjadi pelajar berarti membangun kesadaran sejarah dan tanggung jawab moral terhadap umat dan bangsa. Pelajar harus menjadi penjaga akal sehat bangsa bukan sekadar penonton kerusakan sosial.
Karena itu, Milad PII seharusnya menjadi momentum muhasabah peradaban. Bukan hanya mengenang senior dan kejayaan masa lalu, tetapi bertanya dengan jujur :
- Apakah kita masih berada di jalan perjuangan yang sama ?
Sebab organisasi besar bukanlah organisasi yang panjang umur, tetapi organisasi yang tetap mampu melahirkan kader yang jernih pikirannya, bersih hatinya, dan berani melawan kebatilan.
- Jika ruh itu hilang, maka mars perjuangan hanya tinggal suara tanpa jiwa.
- Dan sejarah kelak mungkin akan mencatat ironi paling menyedihkan :
- Sebuah organisasi bisa tetap berdiri secara struktural, tetapi runtuh secara nilai.
Maka bagi kader PII hari ini, pertanyaan itu kembali menggema dengan tajam :
- Masihkah “sekali layar terkembang” menjadi sumpah perjuangan?
- Ataukah ia telah berubah menjadi slogan kosong yang kehilangan keberanian?
Renungkanlah. Karena sejarah tidak pernah menghormati organisasi yang hanya besar dalam cerita masa lalu, tetapi gagal melahirkan keberanian di masa kini.
Kota Madani, 4 Mei 2026

Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor