Sara, Engkaulah Rumah Cintaku : Refleksi Cinta dan Syukur di Ulang Tahun Pernikahan ke-35
Sebuah Kado Cinta dari Teuku Muhammad Jamil untuk Isteri Tercinta.
ISTERIKU TERSAYANG, SARA…
Hari ini, 10 Mei 2026, Genap sudah tiga puluh lima tahun perjalanan cinta dan pengabdian yang kita rajut bersama dalam ikatan suci pernikahan. Waktu telah berjalan begitu jauh, namun cintaku kepadamu tidak pernah menua. Ia justru tumbuh semakin teduh, semakin matang, dan semakin mengerti makna pengorbanan.
Aku sadar, suami yang engkau nikahi ini bukanlah lelaki sempurna.
Aku tidak semulia Nabi Muhammad SAW dalam akhlaknya.
Tidak setakwa Nabi Ibrahim AS dalam ketaatannya.
Tidak pula setabah Nabi Ayyub AS dalam ujian hidupnya.
Aku hanyalah lelaki biasa…
lelaki yang belajar menjadi imam,
belajar menjadi ayah,
dan terus belajar menjadi suami terbaik untukmu.
Namun di tengah segala kekurangan itu, aku memiliki satu keyakinan yang tak pernah berubah: bahwa Allah telah menitipkan dirimu sebagai anugerah terindah dalam hidupku.
Pernikahan mengajarkan kita bahwa cinta bukan sekadar rasa, tetapi tanggung jawab jiwa.
Jika suami adalah nahkoda kapal, maka istri adalah penunjuk arah yang menjaga kapal itu tetap menuju pelabuhan keselamatan.
Jika suami adalah rumah, maka istri adalah kehangatan yang membuat rumah itu hidup.
Jika suami adalah langkah, maka istri adalah doa yang membuat langkah itu tidak tersesat.
Dan bila suatu saat aku lupa arah, maka ingatkanlah aku dengan kelembutanmu… sebagaimana selama ini engkau melakukannya tanpa lelah.
Sara yang kucintai…
Engkau pun tidak pernah mengaku sebagai wanita sempurna.
Engkau bukan Khadijah yang kemuliaannya menyelimuti sejarah.
Bukan pula Aisyah yang keluasan ilmunya menerangi umat.
Atau Fatimah yang kesederhanaannya menggetarkan langit.
Tetapi bagiku… engkau adalah perempuan luar biasa yang Allah kirimkan untuk membersamai hidupku.
Engkau adalah kesabaran yang menjelma manusia.
Engkau adalah keteguhan yang diam-diam menguatkan keluargamu.
Engkau adalah pelabuhan tempat lelahku pulang.
Betapa sering engkau sendiri di rumah mendidik anak-anak kita ketika aku harus pergi menjalankan kewajiban di luar kota, bahkan jauh dari keluarga. Namun tidak pernah sekali pun engkau menyambut kepulanganku dengan keluhan. Yang ada hanyalah senyuman… senyuman yang selalu membuatku merasa masih dicintai.
Dan aku tahu…
di setiap langkahku, ada doa-doamu yang diam-diam mengiringi.
Di setiap keberhasilanku, ada air mata dan pengorbananmu yang tak pernah terlihat orang lain.
Karena itu, jika dunia bertanya siapa perempuan hebat dalam hidupku, maka jawabannya adalah engkau, Sara… isteriku tercinta.
Sayang…
Tiga puluh lima tahun bersama bukan perjalanan yang pendek. Kita telah melewati banyak musim kehidupan. Ada hari-hari bahagia yang membuat kita tertawa, ada pula masa-masa sulit yang hampir meruntuhkan kekuatan hati.
Namun cinta yang dibangun di atas iman selalu menemukan jalannya untuk bertahan.
Aku masih mengingat saat pertama kali dahimu aku kecup setelah ijab dan qabul itu terucap. Saat itu aku merasa, Allah sedang mempertemukan dua jiwa yang akan belajar saling mencintai karena-Nya.
Dan hari ini, setelah puluhan tahun berlalu, aku semakin yakin bahwa cinta sejati bukanlah tentang menemukan pasangan yang sempurna. Tetapi tentang dua insan yang saling menerima ketidaksempurnaan dengan kesabaran dan kasih sayang.
Segala kelebihanmu adalah nikmat yang selalu aku syukuri.
Dan segala kekuranganmu adalah ruang bagiku untuk belajar mencintai dengan lebih tulus.
Maafkan aku…
untuk setiap luka yang mungkin pernah hadir karena sikap dan kata-kataku.
Maafkan aku…
untuk waktu-waktu ketika aku terlalu sibuk dengan dunia luar hingga lupa bahwa di rumah ada hati yang juga membutuhkan perhatian.
Percayalah, tidak pernah sedikit pun cintaku berkurang kepadamu.
Isteriku…
Aku bersyukur kepada Allah karena telah mengaruniakan kepadaku seorang wanita yang cerdas, bijaksana, sabar, dan shalihah. Engkau bukan hanya isteri, tetapi juga sahabat perjuangan, pendamping hidup, dan ibu luar biasa bagi anak-anak kita.
Alhamdulillah…
Allah telah menitipkan kepada kita anak-anak yang tumbuh dalam cinta dan pendidikan. Sebagian telah menjadi sarjana, sebagian masih menuntut ilmu, dan sebagian lagi telah membangun keluarganya sendiri.
Melihat mereka tumbuh dengan akhlak dan pendidikan yang baik, aku tahu bahwa di balik keberhasilan itu ada tangan lembut seorang ibu yang tidak pernah menyerah mendidik dengan kasih sayang dan doa.
Terima kasih, Sara… karena engkau telah menjadi madrasah pertama yang indah bagi anak-anak kita.
Wahai cinta dan kekasihku…
Di usia pernikahan kita yang ke-35 ini, izinkan aku kembali memohon kepada Allah:
“Ya Allah…
jadikanlah rumah tangga kami tetap dipenuhi sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Jangan Engkau cabut rasa cinta dari hati kami, karena tanpa cinta hidup akan kehilangan cahaya.
Panjangkanlah kebersamaan kami dalam iman dan kesehatan.
Jadikan anak-anak dan cucu-cucu kami generasi yang mencintai-Mu, mencintai Rasul-Mu, serta berguna bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.”
Dan jika suatu hari nanti rambut kita semakin memutih dan tubuh mulai melemah, aku hanya ingin satu hal: tetap menggenggam tanganmu sampai akhir usia.
Karena bagiku…
rumah terindah bukanlah bangunan yang megah,
melainkan tempat di mana ada dirimu di dalamnya.
Selamat ulang tahun pernikahan ke-35, isteriku tercinta.
Terima kasih telah menjadi takdir terbaik dalam hidupku.
Tetaplah bersamaku…
hingga cinta ini kembali dipertemukan di surga-Nya kelak. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Dengan seluruh cinta dan ketulusanku...
(Suamimu yang selalu mencintaimu)
Cot Irie City, 10 Mei 2026


Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor