ACEH – Ratusan masyarakat dari berbagai elemen sipil dan organisasi berkumpul di kawasan Beutong Ateuh untuk menggelar aksi damai yang sarat nuansa religius. Mengusung pendekatan budaya dan agama, massa melakukan Aksi Zikir dan Doa Bersama sebagai bentuk penolakan keras terhadap rencana eksplorasi tambang emas yang dinilai akan membawa dampak bencana baru bagi Tanah Rencong.
Aksi ini digelar bukan tanpa alasan. Rencana pembukaan kembali aktivitas tambang ini memicu kekhawatiran mendalam sekaligus membuka kembali luka lama masyarakat. Rakyat menilai bahwa bencana yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan di masa lalu belum usai, namun kebijakan baru justru kembali membuka peluang eksploitasi yang sama.
Dalam orasi dan pembacaan pernyataan sikapnya, para pemimpin aksi menyoroti ketimpangan kesejahteraan yang terjadi selama ini. Mereka menuntut para pemegang kebijakan untuk tidak lagi memihak kepentingan investor atau segelintir pengusaha, melainkan berpihak sepenuhnya pada nasib rakyat banyak.
"Kami tantang dan minta bukti kepada para pengambil kebijakan, berikan kami contoh! Dari Sabang sampai Merauke, tambang emas mana yang benar-benar mensejahterakan rakyatnya? Khususnya di Aceh, coba lihat kenyataannya: yang kaya dan sejahtera hanyalah pemilik modal serta pemangku kebijakan saat itu. Sementara kami rakyat biasa? Yang ada hanya tanah longsor, sungai keracunan, hutan gundul, dan kemiskinan yang tak kunjung usai," tegas salah satu juru bicara aksi di hadapan massa.
Sentimen trauma kolektif menjadi alasan utama mengapa rakyat Aceh kini semakin resisten terhadap setiap rencana investasi di sektor tambang. Masyarakat masih mengingat jelas bagaimana kerusakan lingkungan parah dan konflik sosial yang muncul akibat operasi tambang sebelumnya, tanpa adanya dampak positif yang signifikan bagi ekonomi warga lokal.
"Rakyat belum sembuh dari trauma. Jangan lagi jadikan Aceh sapi perah yang diperas kekayaannya lalu dibuang saat rusak. Jika kebijakan ini tetap dipaksakan, berarti pemerintah telah memilih berpihak pada pengusaha, bukan pada amanat rakyat," tambahnya.
Aksi Zikir dan Doa Bersama di Beutong Ateuh ini menjadi bukti bahwa perlawanan rakyat Aceh terhadap eksploitasi SDA kini tidak hanya berbasis kekuatan fisik, namun juga didasari kekuatan moral, agama, dan kesadaran kolektif yang sangat kuat. Rakyat berikrar akan terus berjaga dan berjuang menjaga tanah leluhur dari ancaman tambang bencana.
"Team"
Terbit :13 Mei 2026


Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor