![]() |
| By redaksi: Gajahputihnews.com Rabu, 13 Mei 2026 |
Membedah “Kabinet Milenial” USK 2026–2031: Antara Korporatisasi Kampus, Bisnis Akademik, dan Masa Depan Keadilan Institusional
(Akademisi & Ketua Program Doktor Pendidikan IPS Sekolah Pascasarjana USK 2014–2020)
![]() |
| Prof. Dr. TM. Jamil, M.Si |
Pelantikan para Wakil Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) periode 2026–2031 pada Rabu, 13 Mei 2026, merupakan bagian penting dari konsolidasi kepemimpinan Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., MBA, yang sebelumnya resmi dilantik sebagai Rektor USK periode 2026–2031. Momentum ini bukan sekadar agenda administratif perguruan tinggi, melainkan deklarasi arah politik akademik dan desain ideologis kampus ke depan.
Formasi baru yang didominasi generasi milenial menunjukkan adanya percepatan transformasi birokrasi akademik menuju tata kelola yang lebih teknokratis, digital, dan berbasis efisiensi modern.
Namun, setiap percepatan selalu menyimpan risiko besar: kampus dapat kehilangan ruh intelektualnya ketika terlalu sibuk mengejar performa administratif dan pertumbuhan angka-angka institusional.
USK hari ini sedang berada di persimpangan penting antara universitas sebagai pusat peradaban ilmu atau sekadar institusi bisnis pendidikan yang sibuk mengejar proyek, ranking, investasi, dan surplus keuangan.
Dominasi Ekonomi dan Akuntansi: Efisiensi atau Korporatisasi Kampus ?
Masuknya figur-figur berlatar belakang ekonomi dan akuntansi pada posisi strategis memperlihatkan arah kuat bahwa tata kelola USK ke depan berpotensi bergerak menuju model Corporate University. Dalam konteks PTN-BH, orientasi ini memang tidak dapat dihindari. Kampus dituntut mandiri, efisien, produktif, dan agresif membangun unit-unit usaha institusi.
Tetapi persoalan paling mendasar bukan semata bagaimana kampus menghasilkan uang, melainkan: untuk siapa keuntungan institusi itu dikelola dan didistribusikan?
Jangan sampai bisnis kampus hanya melahirkan elit-elit baru birokrasi akademik, sementara dosen biasa dan tenaga kependidikan (tendik) tetap hidup dalam ketimpangan kesejahteraan yang panjang dan sunyi. Jangan sampai unit usaha berkembang pesat, tetapi rasa keadilan institusional justru semakin mengecil.
Kampus bukan perusahaan murni. Universitas adalah ruang moral, ruang intelektual, dan ruang peradaban. Ketika orientasi bisnis terlalu dominan, ukuran keberhasilan sering kali bergeser: dosen dinilai dari kedekatan struktural, proyek, jabatan tambahan, dan akses kekuasaan bukan lagi dari integritas akademik, kualitas pengajaran, dan dedikasi intelektualnya.
Inilah titik paling sensitif yang harus dijaga oleh kabinet baru USK.
Selama ini, di banyak perguruan tinggi PTN-BH, kita menyaksikan lahirnya “kelas birokrasi akademik baru” yang menikmati remunerasi besar, fasilitas berlapis, perjalanan dinas, dan berbagai insentif institusional; sementara sebagian besar dosen biasa dan tenaga kependidikan hanya menjadi penonton dari pertumbuhan institusi yang sesungguhnya mereka bangun setiap hari melalui kerja-kerja sunyi.
Jika bisnis kampus berkembang, maka keadilan kesejahteraan juga wajib berkembang.
Remunerasi tidak boleh hanya berputar di lingkaran pejabat struktural, dosen dengan tugas tambahan, atau kelompok tertentu yang dekat dengan pusat kekuasaan kampus. Tendik yang bekerja menjaga denyut administrasi universitas selama puluhan tahun juga berhak mendapatkan penghormatan ekonomi yang layak. Dosen biasa yang mengajar secara konsisten tanpa jabatan struktural juga berhak menikmati hasil kemajuan institusi.
Sebab universitas besar tidak dibangun oleh segelintir pejabat, tetapi oleh ribuan tangan yang sering kali tidak terlihat.
Ketangguhan Bencana dan Transformasi Digital
Kehadiran unsur kebencanaan, kesehatan, teknik, dan informatika dalam kabinet ini memberi pesan strategis yang sangat kuat. USK tampaknya ingin menempatkan dirinya sebagai kampus yang tidak hanya unggul secara administratif, tetapi juga relevan terhadap tantangan global: perubahan iklim, mitigasi bencana, transformasi digital, hingga kedaulatan data.
Ini adalah langkah maju yang patut diapresiasi.
Aceh membutuhkan universitas yang bukan hanya sibuk mengejar ranking internasional, tetapi juga mampu menjadi pusat solusi sosial bagi rakyatnya sendiri. Kampus harus hadir dalam persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan ketahanan masyarakat menghadapi bencana.
Sebab universitas yang gagal menyentuh realitas sosial pada akhirnya hanya akan menjadi menara statistik yang megah tetapi asing bagi rakyatnya sendiri.
Bahaya Arogansi Generasi dan Amnesia Institusional
Kepada para Wakil Rektor muda, ada satu hal penting yang harus direnungkan : modernitas tidak boleh melahirkan amnesia sejarah.
Setiap generasi baru sering terjebak pada ilusi bahwa perubahan dimulai dari dirinya sendiri. Ini adalah jebakan intelektual paling berbahaya dalam birokrasi akademik.
USK tidak lahir kemarin. Ia dibangun melalui pengorbanan panjang, konflik pemikiran, kerja sunyi, dan dedikasi para pendahulu. Banyak orang yang mungkin tidak dikenal publik, tetapi menjadi batu pijakan yang memungkinkan institusi ini berdiri kokoh hingga hari ini.
Karena itu, merangkul generasi sebelumnya bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kematangan kepemimpinan.
Pemimpin akademik yang besar bukan mereka yang gemar mengganti seluruh sistem lama demi pencitraan perubahan, tetapi mereka yang mampu menyempurnakan warisan masa lalu dengan kebijaksanaan masa depan.
Jangan biarkan semangat akselerasi berubah menjadi kesombongan birokrasi.
USK Tidak Hanya Membutuhkan Manajer, Tetapi Negarawan Akademik
Tantangan terbesar kabinet baru bukan sekadar menaikkan ranking kampus, memperbesar pendapatan institusi, atau memperluas bisnis universitas. Semua itu penting, tetapi belum cukup. USK membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi kampus dan keadilan sosial internal.
Sebab kampus akan kehilangan legitimasi moral ketika kesejahteraan hanya terkonsentrasi pada elit struktural, sementara dosen biasa dan tenaga kependidikan terus diminta bersabar atas nama transformasi.
Universitas bukan sekadar mesin administrasi. Ia adalah rumah intelektual yang harus menghadirkan rasa keadilan.
Selamat dan Sukses atas Pelantikan Wakil Rektor USK Periode 2026–2031
- Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA
- Dr. Fairuzzabadi, S.E., M.Sc.
- Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH
- Dr. Ir. Ramzi Adriman, S.T., M.Sc.
Semoga amanah besar ini dijalankan dengan integritas, kejernihan moral, dan keberanian intelektual. Karena sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa di kampus, tetapi juga siapa yang mampu menghadirkan keadilan bagi seluruh warganya.
Penutup Reflektif
Keberhasilan seorang pemimpin milenial tidak diukur dari seberapa cepat ia mengganti wajah birokrasi, tetapi dari seberapa bijaksana ia menjaga martabat manusia di dalam institusi yang dipimpinnya.
Bangunlah kampus dengan ilmu, bukan dengan lingkaran kekuasaan.* Majukan institusi tanpa meninggalkan mereka yang selama ini diam-diam menopangnya. *Sebab universitas yang hebat bukan hanya kampus yang kaya, tetapi kampus yang adil.
Sagoe Aceh Rayeuk, 12 Mei 2026


Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor