Breaking News

Membalas Opini dengan Amarah adalah Kekalahan Intelektual


By redaksi: Gajahputihnews.com
Jum'at, 15 April 2026
Editor: junaidi Ulka 

OPINI

Membalas Opini dengan Amarah adalah Kekalahan Intelektual

Oleh :

  • Teuku Muhammad Jamil, Dr, Drs, M.Si, Ph.D
  • Ketua Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, Sekolah Pascasarjana USK (2014 - 2022)

Di tengah era demokrasi digital hari ini, ruang publik sedang mengalami paradoks yang mengkhawatirkan. Semakin banyak orang berbicara, tetapi semakin sedikit yang benar-benar berpikir. Semakin ramai opini diproduksi, tetapi semakin miskin tradisi membaca dan mendengar secara jernih. Akibatnya, kritik tidak lagi dipahami sebagai bagian dari pendewasaan intelektual, melainkan dianggap sebagai ancaman terhadap ego, kelompok, kekuasaan, bahkan kehormatan pribadi.

Karena itu, ketika sebuah opini berbeda pandangan muncul ke ruang publik, sebagian orang tidak lagi menjawab dengan argumentasi, data, atau analisis ilmiah.

“Yang muncul justru serangan personal, hujatan, fitnah, intimidasi sosial, hingga upaya pembungkaman. Argumen dibalas sentimen. Gagasan dibalas kebencian.”

“Dan di titik inilah demokrasi perlahan kehilangan akal sehatnya.”

Padahal dalam tradisi akademik dan peradaban ilmu pengetahuan, sebuah pemikiran tidak pernah dibantah dengan kemarahan, melainkan dengan pemikiran lain yang lebih kuat. 

“Ilmu tidak tumbuh dari tepuk tangan, tetapi dari keberanian untuk diuji. Peradaban tidak lahir dari pujian yang membius, melainkan dari kritik yang mencerahkan.”

Filsuf ilmu pengetahuan Karl Popper menjelaskan bahwa inti dari ilmu bukanlah pembenaran, melainkan falsifikasi yaitu kesiapan sebuah gagasan untuk diuji, dikritik, bahkan dibatalkan secara rasional.

Dalam perspektif Popper, sebuah pemikiran tidak otomatis benar hanya karena populer atau dipuji banyak orang. Ia baru memiliki nilai ilmiah ketika terbuka terhadap bantahan yang argumentatif.

Karena itu, jika seseorang tidak setuju terhadap sebuah opini, maka jalan paling terhormat bukanlah menyerang penulisnya, tetapi menghadirkan opini tandingan yang lebih cerdas, lebih logis, lebih kaya data, dan lebih kuat secara metodologis.

“Membantah tulisan dengan tulisan adalah etika kaum intelektual. Membalas kritik dengan kebencian justru memperlihatkan kemiskinan argumentasi.”

Masalah terbesar ruang publik kita hari ini bukan semata rendahnya tingkat pendidikan, tetapi melemahnya kedewasaan intelektual. Banyak orang ingin didengar, tetapi tidak siap dibantah. 

Banyak yang gemar berbicara, tetapi malas membaca. Banyak yang bangga dipuji, tetapi marah ketika dikritik. Bahkan lebih ironis lagi, ada yang merasa dirinya paling benar hanya karena memiliki jabatan, massa, atau kekuasaan.

Di sinilah feodalisme berpikir masih hidup di tengah masyarakat modern

Kritik dianggap penghinaan. Perbedaan dianggap permusuhan. Padahal, dalam dunia akademik modern, menyerang argumen jauh lebih bermartabat daripada menyerang individu. 

“Sebab argumen adalah wilayah ilmu, sedangkan serangan personal adalah tanda kekalahan akal sehat.”

Pemikir demokrasi modern Jürgen Habermas: melalui teori deliberative democracy menegaskan, bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh kualitas dialog publiknya. 

Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang paling gaduh, tetapi demokrasi yang memberi ruang bagi argumentasi rasional, pertukaran gagasan, dan kritik yang etis. 

“Dalam ruang publik yang sehat, setiap orang berhak berbicara, tetapi juga harus siap dikoreksi.”

Sementara itu, dialektika Georg Wilhelm Friedrich Hegel menunjukkan bahwa perkembangan peradaban lahir dari benturan pemikiran : tesis melahirkan antitesis, lalu menghasilkan sintesis yang lebih matang. Artinya, perbedaan bukan ancaman terhadap demokrasi, melainkan energi intelektual untuk memperbaiki kualitas peradaban manusia.

Karena itu, opini yang dibalas dengan opini akan memperkaya bangsa. Sebaliknya, opini yang dibalas dengan kemarahan hanya memperlihatkan ketidakmampuan berpikir secara dewasa. 

“Ketika orang mulai membungkam kritik, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan ketakutannya terhadap kekuatan argumentasi.”

“Dalam tradisi Islam, perbedaan pandangan juga merupakan bagian dari kemuliaan ilmu.”

Para ulama besar berbeda pendapat dalam banyak persoalan, tetapi tetap menjaga adab dan kehormatan intelektual. Imam Syafi’i pernah berkata : “Pendapatku benar, tetapi mungkin salah. Pendapat orang lain salah, tetapi mungkin benar.” Sebuah pelajaran besar tentang kerendahan hati berpikir yang hari ini semakin langka di ruang publik kita.

Maka, bukalah mata hati dengan jujur. Belajarlah menerima kritik sebagaimana kita senang menerima pujian. Jangan hanya bangga ketika disanjung, tetapi marah ketika dikoreksi.

Sebab orang yang anti terhadap kritik sesungguhnya sedang menutup pintu perkembangan pemikirannya sendiri.

Jika sebuah opini dianggap keliru, bantahlah dengan tulisan yang lebih baik. Jawab dengan data, bukan dendam. Lawan dengan teori, bukan intimidasi. Kritik dengan etika, bukan amarah. Itulah cara kaum intelektual menjaga martabat ilmu pengetahuan dan menjaga demokrasi tetap waras.

Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka justru adalah keberanian berpikir jernih dan kerendahan hati menerima perbedaan. 

“Kita hidup di zaman ketika banyak orang mudah tersinggung, tetapi malas mendalami persoalan.”

Mudah marah, tetapi miskin argumentasi. Padahal kemajuan sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa keras orang berteriak, melainkan dari seberapa dewasa masyarakatnya berdialog.

“Pada akhirnya, sebuah opini hanyalah gagasan.”

Ia bisa benar, bisa pula salah. Namun peradaban akan runtuh ketika manusia tidak lagi melawan gagasan dengan pemikiran, melainkan dengan kebencian. Sebab ilmu tidak pernah tumbuh dari amarah, tetapi dari keberanian untuk berdialog secara terbuka, rasional, dan bermartabat.

Dan di situlah makna tertinggi falsifikasi menemukan kehormatannya :

Mengalahkan sebuah tulisan dengan tulisan yang lebih baik, bukan dengan kebencian yang paling gaduh.

Kutaraja, 15 Mei 2026

© Copyright 2022 - gajah putih News.com