![]() |
Media: Gajahputihnews.com Minggu, 3 April 2026 OPINI Oleh : Teuku Muhammad Jamil Ilmuwan Sosial dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK), Aceh |
“Labbaik atau Sekadar Gelar?” Haji sebagai Panggilan Ketundukan dan Kritik atas Kesombongan Manusia Modern
Tanggal 5 Mei 2026, Kloter pertama Jamaah Haji asal Aceh mulai diberangkatkan menuju Tanah Suci. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, kenyamanan hidup, bahkan sebagian meninggalkan jabatan dan rutinitas dunia demi memenuhi panggilan suci yang tidak semua manusia memperoleh kehormatan untuk menjawabnya : menjadi tamu Allah di Baitullah.
Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik…
Talbiyah itu bukan sekadar bacaan ritual yang dilantunkan berulang-ulang. Ia adalah deklarasi ketundukan total seorang manusia di hadapan Tuhannya. Dalam kalimat itu, manusia sesungguhnya sedang mengakui keterbatasannya.
Meruntuhkan kesombongan-nya, dan menyadari bahwa seluruh kemegahan dunia hanyalah sementara.
Haji bukan perjalanan wisata spiritual. Ia adalah perjalanan pembongkaran ego.
Di Aceh, keberangkatan haji selalu menjadi peristiwa sosial yang sarat makna. Kenduri digelar, peusijuek dilakukan, keluarga melepas dengan air mata dan doa. Rumah-rumah sederhana dipenuhi harapan agar orang yang berangkat tidak hanya kembali dengan gelar “Haji”, tetapi kembali dengan jiwa yang lebih jernih dan akhlak yang lebih mulia.
Dalam tradisi Aceh, peusijuek bukan sekadar adat seremonial. Ia mengandung filosofi kesejukan batin, keselamatan perjalanan, dan harapan agar manusia pulang dari Tanah Suci dengan hati yang lebih bersih dari kesombongan, iri hati, dan kerakusan dunia.
Karena itu, haji sejatinya bukan perpindahan geografis dari Aceh menuju Makkah, melainkan perpindahan spiritual dari manusia yang lalai menuju manusia yang sadar.
- Sadar bahwa hidup tidak abadi.
- Sadar bahwa jabatan akan berakhir.
- Sadar bahwa kekayaan tidak akan dibawa mati.
- Dan sadar bahwa pada akhirnya semua manusia akan kembali menghadap Tuhan dengan tubuh yang dibungkus kain putih, sebagaimana ihram yang dikenakan saat berhaji.
Ironisnya, manusia modern justru sering lebih serius mempersiapkan dunia dibanding mempersiapkan kematian. Kita merancang karier dengan matang, menghitung investasi dengan teliti, mengejar status sosial tanpa henti, tetapi sering lalai menyiapkan bekal moral dan spiritual untuk kepulangan yang pasti.
Di sinilah haji sesungguhnya menjadi kritik paling tajam terhadap peradaban modern yang materialistik.
Di depan Ka’bah, seluruh simbol sosial runtuh. Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan orang miskin, antara akademisi dan petani. Semua memakai kain ihram yang sederhana. Semua mengucapkan talbiyah yang sama. Semua hanyalah hamba kecil di hadapan kebesaran Allah.
Namun tragedi spiritual terbesar hari ini adalah ketika sebagian manusia mampu pergi ke Tanah Suci, tetapi gagal membawa pulang nilai kesucian itu ke dalam kehidupannya.
- Tidak sedikit yang pulang dengan gelar haji, tetapi tetap gemar menyakiti orang lain.
- Rajin ke Makkah, tetapi masih sombong terhadap sesama.
- Mudah menangis di depan Ka’bah, tetapi sulit berlaku jujur dalam kehidupan sosial.
Padahal ukuran kemabruran tidak pernah ditentukan oleh berapa kali seseorang mencium Hajar Aswad atau berapa mahal biaya perjalanan hajinya. Haji mabrur diukur dari perubahan moral setelah kembali ke tanah air.
- Apakah ia menjadi lebih jujur?
- Apakah ia menjadi lebih rendah hati ?
- Apakah ia lebih peduli terhadap penderitaan rakyat kecil?
- Apakah ia berhenti menzalimi orang lain?
Jika sepulang haji seseorang tetap mempertontonkan keserakahan, kesombongan, dan ketidak-jujuran, maka patut dipertanyakan:
Apakah yang berubah hanya pakaian dan gelarnya, sementara jiwanya tetap sama?
Karena itu, ibadah haji tidak boleh direduksi menjadi simbol status sosial atau prestise religius. Haji adalah madrasah ketundukan. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak memiliki apa-apa selain kelemahan dan dosa yang memerlukan ampunan Tuhan.
Aceh sebagai daerah religius memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam menjaga makna luhur ibadah ini. Para jamaah haji Aceh bukan hanya membawa nama pribadi dan keluarga, tetapi juga membawa marwah budaya Aceh yang menjunjung adab, ukhuwah, dan nilai-nilai keislaman.
Masyarakat Aceh tentu berharap para jamaah yang berangkat tahun 2026 kembali sebagai pribadi yang lebih lembut hatinya, lebih teduh ucapannya, dan lebih jujur perilakunya. Sebab inti dari seluruh ibadah bukanlah kemegahan simbol, melainkan perubahan akhlak.
Pada akhirnya, haji sejati bukan hanya tentang sampai di Ka’bah, tetapi tentang apakah hati benar-benar sampai kepada Allah. Sebab bisa saja tubuh mengelilingi Ka’bah, tetapi jiwa tetap sibuk mengelilingi kesombongan dunia.
“Kepada seluruh jamaah calon haji Aceh Kloter pertama tahun 2026, kami titip doa dan harapan. Semoga perjalanan ini menjadi perjalanan penyucian jiwa, bukan sekadar perjalanan fisik.”
Camkanlah bahwa setiap langkah di Tanah Haram menjadi penghapus dosa. Semoga setiap air mata di depan Ka’bah menjadi saksi kerinduan seorang hamba kepada Tuhannya.
Dan semoga sepulang dari Baitullah, para jama'ah tidak hanya membawa oleh-oleh dari Tanah Suci, tetapi juga membawa pulang hati yang lebih bersih, akhlak yang lebih mulia, dan keberanian moral untuk hidup lebih jujur di tengah dunia yang semakin kehilangan nurani.
Allahumma Labbaik, Labbaik Laa Syarika Laka Labbaik.

Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor