![]() |
Media: Gajahputihnews.com Rabu, 20 Mei 2026 |
Kebangkitan Nasional ke-118: Menyoal Teater Upacara dan Defisit Nurani Bangsa
Mahasiswi Program Doktor (S3) Pendidikan IPS, SPs, Universitas Syiah Kuala
Setiap tanggal 20 Mei, kita seperti terjebak dalam sebuah ritus teatrikal yang usang. Di bawah terik matahari, pidato-pidato formal dibacakan, slogan-slogan optimisme digelorakan, dan sejarah masa lalu diglorifikasi. Tahun 2026 ini, Indonesia resmi memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang ke-118.
Namun, di balik riuh rendah seremoni itu, sebuah pertanyaan eksistensial yang menggugat harus kita layangkan ke jantung bangsa ini: Benarkah kita sedang bangkit, atau kita justru sedang berjalan dalam tidur (sleepwalking) menuju tepi jurang kehancuran moral ?
Kita hari ini adalah manusia yang hidup dalam jeratan paradoks abad digital. Kita merayakan lompatan teknologi, kecerdasan buatan, dan kemegahan infrastruktur fisik, namun pada saat yang sama kita sedang menyaksikan kemunduran massal emosi kemanusiaan.
Layar gawai semakin mendekatkan yang jauh, tetapi berhasil mengasingkan manusia dari realitas sosial di sekelilingnya. Bangsa ini tampak gagah secara lahiriah, tetapi keropos di dalam karena mengalami kelelahan moral (moral fatigue) yang akut.
Gugatan dari Ruang Kelas Difabel
Sebagai seorang pendidik di Sekolah Luar Biasa (SLB) YAPDI Banda Aceh, ruang kelas saya adalah cermin yang memantulkan ironi terbesar peradaban modern.
Di luar sana, masyarakat yang mengklaim dirinya “normal” justru semakin menunjukkan perilaku yang tidak normal: membully, menghina, memproduksi hoaks, menindas yang lemah, dan menghakimi sesama di ruang publik digital tanpa secuil pun rasa bersalah.
Di titik ini, sebuah refleksi filosofis yang menjungkirbalikkan logika kita muncul: Siapakah yang sebenarnya mengalami keterbatasan? Anak-anak didik saya yang memiliki keterbatasan fisik-intelektual, ataukah masyarakat modern kita yang mengalami amputasi empati dan kebutaan nurani ?
Anak-anak berkebutuhan khusus mengajarkan eksistensialisme sejati yang telah lama hilang dari kurikulum sekolah kita. Mereka menunjukkan bahwa nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh validasi algoritma media sosial, pangkat, atau pencitraan visual, melainkan oleh ketulusan rasa, penerimaan, dan penghargaan otentik terhadap sesama manusia.
Penjara Administratif dan Banalitas Publik
Mengapa pendidikan kita gagal melahirkan manusia yang bernurani ? Jawabannya karena pendidikan kita telah mengalami reduksi maknawi.
Sekolah tidak lagi menjadi laboratorium peradaban, melainkan pabrik industri yang sibuk mengejar angka, ranking, dan formalitas administratif. Guru-guru disibukkan oleh beban borang dan aplikasi digital yang melelahkan, sementara ruang dialogis untuk menyentuh jiwa anak didik terabaikan.
Filsuf dan sosiolog Jerman, Jürgen Habermas, jauh-jauh hari telah memperingatkan bahaya kolonisasi lifeworld (dunia-kehidupan) oleh sistem. Ketika ruang publik kehilangan rasionalitas komunikatifnya, yang tersisa hanyalah kebisingan emosional yang destruktif. Fenomena ini nyata hari ini: ruang publik kita bertransformasi menjadi arena caci maki kolektif (banalitas publik).
Kondisi ini diperparah oleh apa yang dijelaskan Albert Bandura dalam teori belajar sosial (social learning). Generasi muda adalah peniru ulung dari lingkungan makronya.
Sayangnya, “kurikulum sosial” yang dipertontonkan di tingkat elit hari ini adalah kurikulum yang busuk: korupsi yang dinormalisasi, pragmatisme politik yang menghalalkan segala cara, serta hilangnya rasa malu.
Ketika keteladan mati di tingkat atas, maka institusi pendidikan dipaksa memikul beban sejarah sendirian untuk menjinakkan keliaran moral generasi baru.
Aceh, Algoritma, dan Pendidikan Pembebasan
Aceh secara historis adalah tanah perlawanan dan episentrum spiritualitas. Modal sosial seperti budaya musyawarah, gotong royong (meuriput), dan penghormatan sakral kepada sosok guru (meuguru) seharusnya menjadi benteng imunologis dari gempuran individualisme global. Namun, realitas hari ini menunjukkan benteng itu mulai retak.
Anak-anak kita hari ini lebih akrab dengan narasi dangkal para influencer dibanding dialektika sejarah bangsanya. Mereka fasih mengikuti tren estetika digital, namun gagap mengenali akar etis dan identitas kulturalnya sendiri.
Olah karena itu, pendidikan tidak boleh lagi sekadar menjadi instrumen penjinakan (domestifikasi) agar siswa patuh pada pasar kerja. Pendidikan harus dikembalikan sebagai gerakan pembebasan.
Paulo Freire, teoretikus pendidikan asal Brasil, menegaskan bahwa pendidikan harus membebaskan manusia dari kesadaran palsu (naive consciousness). Di Indonesia saat ini, tugas terbesar pendidikan adalah membebaskan generasi muda dari mentalitas kerumunan yang pasif, budaya takut bersuara, dan kebiasaan memaklumi kebohongan struktural.
Manifesto Kebangkitan Abad Baru
Kebangkitan nasional pada abad ini bukan lagi urusan mengusir penjajah bersenjata, melainkan perang semesta melawan:
- Kemiskinan moral struktural,
- Korisis keteladanan akut, dan
- Degradasi radikal atas nilai kemanusiaan.
Musuh terbesar bangsa hari ini bukanlah kebodohan literasi membaca, melainkan kedunguan empati sosial.
Cerdas tanpa empati hanya akan melahirkan monster intelektual yang dingin dan korup. Empati tanpa keberanian moral hanya memproduksi air mata simpati yang impoten. Sementara keberanian tanpa moralitas akan melahirkan tirani baru yang menindas.
Peringatan Kebangkitan Nasional ke-118 ini harus kita jadikan alarm darurat nasional. Sebuah bangsa tidak akan pernah punah hanya karena kebangkrutan ekonomi atau runtuhnya infrastruktur.
Bangsa akan mati seketika dan menjadi bangkai sejarah ketika generasinya telah kehilangan nurani, kehilangan rasa malu, dan kehilangan kepedulian universal terhadap manusia lainnya.
Dan perjuangan untuk menolak kepunahan bangsa itu, sejatinya, sedang dipertaruhkan setiap hari. Bukan di podium-podium megah para pejabat, melainkan dari ruang kelas sederhana, dari sekolah-sekolah di ujung daerah, dan dari keteguhan jemari para guru yang menolak menyerah pada zaman yang sedang sakit ini.
Banda Aceh, 20 Mei 2026

Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor