Breaking News

Dekadensi Silaturahmi : Ketika Teknologi Mendekatkan Jarak, tetapi Mematikan Rasa

Prof. Dr. TM. Jamil Drs., M.Si

Media: Gajahputihnews.com
Kamis, 28 Mei 2026
Editor: Junaidi Ulka 
OPINI

Dekadensi Silaturahmi : Ketika Teknologi Mendekatkan Jarak, tetapi Mematikan Rasa

Oleh:
Teuku Muhammad Jamil
Pengamat Politik dan Akademisi Universitas Syiah Kuala (USK)
Direktur Pusat Kajian Politik dan Sosial Aceh

Masih Pentingkah Kita Saling Mengucap dan Berkunjung di Hari Raya?

Di ranah modernitas yang kian mekanis, umat manusia sebenarnya sedang mengalami krisis eksistensial paling sunyi dalam sejarah peradaban: komodifikasi dan keterasingan kemanusiaan. Teknologi memang berhasil melipat jarak dan mempercepat transmisi pesan, namun gagal total dalam merawat kedalaman relasi antara subjek. 

“Kita hidup di era di mana teks dapat terkirim dalam fraksi detik, tetapi ruang batin manusia justru semakin kedap dan sulit disentuh.”

Hari ini, ucapan Idul fitri dan Idul adha kerap terdegradasi menjadi sekadar formalitas digital yang artifisial. Kalimat sakral mohon maaf lahir dan batin dikirimkan secara masal (broadcast) tanpa tatapan mata, tanpa kehangatan jabat tangan, dan tanpa getaran rasa. 

“Celakanya, tradisi saling berkunjung (silaturahmi) yang dahulu menjadi episentrum ukhuwah, perlahan mulai ditinggalkan atas nama kesibukan, efisiensi teknologis, dan pragmatisme modern.”

Padahal, manusia bukanlah sekadar Homo Digitalis yang digerakkan oleh algoritma; kita adalah makhluk sosial dan spiritual.

Paradoks Modernitas dan Kematian Sosial

Dalam perspektif sosiologi klasik, Émile Durkheim menegaskan bahwa kohesi masyarakat ditentukan oleh kuatnya solidaritas sosial. Hari raya sejatinya bukan sekadar ritual teologis yang berulang, melainkan sebuah mekanisme sosial (social mechanism) untuk merajut kembali retakan hubungan antarmanusia. 

Ketika individu saling mengunjungi, meruntuhkan ego untuk meminta maaf, dan duduk bersama tanpa sekat stratifikasi sosial, di situlah masyarakat sedang merevitalisasi jaring-jaring kemanusiaannya.

Namun kini, yang terjadi justru sebuah paradoks modernitas yang getir. Rumah-rumah ibarat menara gading yang semakin megah, tetapi ruang perjumpaan psikologisnya kian menyempit. 

Jagat maya begitu bising, tetapi batin manusia teramat sepi. Kita bangga memiliki ribuan pengikut dan kontak di gawai, namun kehilangan relasi yang tulus di dunia nyata.

Filsuf eksistensialisme Martin Buber pernah mengingatkan bahaya ketika manusia modern kehilangan hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou) yang setara dan mendalam, lalu menggantinya menjadi hubungan” Aku-Itu” (I-It. Artinya, manusia mulai terjebak dalam komodifikasi hubungan: memperlakukan sesamanya bukan sebagai jiwa yang utuh dan bermartabat, melainkan sekadar objek atau instrumen fungsional yang cukup disapa ala kadarnya demi formalitas.

Maka jangan heran jika hari ini kita menyaksikan fenomena keterasingan (alienasi) bahkan di dalam institusi terkecil seperti keluarga. Fenomena “together alone” duduk di satu meja makan yang sama, namun masing-masing kepala menunduk, tersedot ke dalam realitas virtual telepon genggamnya. 

Kita berkumpul secara fisik, tetapi jiwa kita saling bermigrasi ke tempat lain. Kita hidup dalam simulakrum kebersamaan, namun sejatinya sedang merayakan kesepian masing-masing.

Komodifikasi Relasi : Antara Empati dan Fungsi

Di sinilah letak urgensi epistemis dari tradisi yang diwariskan oleh indatu kita: berkunjung (meulaweung), menyapa, membawa hantaran, berjabat tangan, dan duduk bersila mengurai cerita. Itu bukan sekadar romantisme masa lalu atau tradisi kuno yang kedaluwarsa. 

Itu adalah warisan peradaban emosional (emotional civilization) yang nilainya justru menjadi sangat mewah dan mahal di tengah gempuran era kecerdasan buatan.

Hari raya bukanlah panggung etalase untuk memamerkan sandangan baru, memajang foto keluarga yang estetis, atau berburu validasi di media sosial. Hakikat terdalam dari hari raya adalah rekonsiliasi kemanusiaan

Di sana ada jiwa yang butuh dipeluk secara eksistensial, ada luka batin yang harus disembuhkan melalui pemaafan yang autentik, dan ada kohesi sosial yang wajib diperbaiki.

Secara psikologi sosial, interaksi tatap muka langsung memiliki dampak neurobiologis yang tidak bisa direkayasa oleh layar digital. Berbagai riset menunjukkan bahwa sentuhan fisik dan kehadiran nyata berkontribusi signifikan terhadap reduksi stres dan kesehatan mental. 

Manusia yang merawat relasi sosialnya secara hangat terbukti memiliki resiliensi psikologis yang lebih tinggi.

Sayangnya, modernitas kapitalistik mendidik kita untuk mengagungkan asas efisiensi seraya mengikis empati. Hubungan antarmanusia kini bergeser menjadi sangat transaksional dan bersifat fungsional-utilitarian. 

Kita kerap kali baru mencari orang lain saat membutuhkan bantuan atau demi memuluskan kepentingan personal. Hubungan yang berbasis pada ketulusan kepribadian (personality) kian terkikis, digantikan oleh relasi berbasis fungsi jabatan atau kepentingan politik semata.

Benteng Terakhir Kemanusiaan Kita

Kita telah bermutasi menjadi generasi yang fasih dan cepat mengetik kata “maaf” lewat jempol, tetapi teramat lambat dan enggan melangkahkan kaki untuk mendatangi. 

Kita begitu murah hati melempar emoji pelukan di grup percakapan, tetapi kaku dan enggan untuk benar-benar mendekap bahu saudara kita yang sedang berduka. 

Kita sangat taktis mengirimkan untaian doa hasil salin-tempel (copy-paste) di grup WhatsApp, tetapi alpa untuk mengetuk pintu rumah orang tua sendiri.

Padahal, ada satu wilayah sakral yang selamanya tidak akan pernah bisa direplikasi atau digantikan oleh kecerdasan buatan ataupun teknologi komunikasi tercanggih sekalipun: tatapan mata yang tulus, getaran suara yang luruh saat mengakui kesalahan, dan kehangatan metafisik dari sebuah kehadiran fisik.

Idulfitri dan Iduladha sesungguhnya adalah momentum perlawanan kebudayaan (cultural resistance) terhadap dehumanisasi modern

Hari raya adalah interupsi tahunan yang mengingatkan kita bahwa manusia tidak boleh takluk oleh determinisme mesin, tidak boleh diperbudak oleh kesibukan birokratis, dan tidak boleh kehilangan kedalaman rasa hanya karena dunia bergerak kian canggih.

Teknologi mungkin telah berhasil membuat dunia ini terasa seperti desa global yang tanpa jarak. Namun, tanpa silaturahmi yang autentik, hati manusia justru akan saling menjauh menjumpai titik nadir keterasingannya.

Oleh karena itu, budaya saling mengunjungi dan memaafkan secara langsung bukanlah ritual tanpa makna. Ia adalah benteng pertahanan terakhir bagi kemanusiaan kita yang sedang dikepung oleh digitalisasi yang dingin.

Sebab pada akhirnya, dalam rekam sejarah hidup kita, yang akan paling di-ingat oleh manusia lain bukanlah seberapa cepat kita membalas pesan instan mereka, melainkan seberapa tulus dan utuh kita hadir secara fisik dan batin dalam kehidupan mereka.

Sagoe Atjeh Rayeuk, 11 Zulhijjah 1447-H

© Copyright 2022 - gajah putih News.com