Breaking News

Catatan Kritis atas Penyederhanaan Krisis Literasi Mahasiswa Aceh


By redaksi: Gajahputihnrews.com
Senin, 18 Meu 2026
Editor: Junaidi Ulka 
Oleh : 
Teuku Muhammad Jamil
Alumnus Program Doktor Ilmu Sosial, Universitas Airlangga Surabaya.
Saat Ini Guru pada Sekolah Pascasarjana, Universitas Syiah Kuala

Catatan Kritis atas Penyederhanaan Krisis Literasi Mahasiswa Aceh

“Rabun Membaca atau Rabun Melihat Struktur ?”

Tulisan “Mahasiswa Aceh Rabun Membaca” di Dialeksis patut diapresiasi karena mencoba menggugah kesadaran literasi generasi muda. Namun persoalannya, tulisan tersebut justru terjebak pada cara pandang yang terlalu moralistik, simplistik, dan cenderung menyalahkan mahasiswa sebagai aktor tunggal atas krisis membaca yang sedang terjadi.

Padahal dalam tradisi ilmu sosial modern, sebuah gejala sosial tidak pernah lahir dari ruang kosong. Rendahnya budaya membaca bukan sekadar persoalan malas atau tidak disiplin, melainkan akumulasi dari krisis struktur pendidikan, budaya digital, kapitalisme perhatian (attention capitalism), kemiskinan epistemik, hingga kegagalan negara dan kampus membangun ekosistem pengetahuan yang sehat.

Menyederhanakan masalah kompleks hanya menjadi “mahasiswa tidak suka membaca” adalah bentuk reduksi intelektual yang berbahaya. Itu sama saja seperti menyalahkan petani karena gagal panen tanpa melihat rusaknya tanah, cuaca, pupuk, dan kebijakan pertanian.

Pierre Bourdieu dalam teori cultural capital menjelaskan bahwa kemampuan membaca, berpikir kritis, dan mencintai ilmu bukan sekadar bakat individual, tetapi hasil pembentukan lingkungan sosial dan modal budaya. Ketika keluarga, sekolah, media, dan kampus gagal menghadirkan budaya intelektual yang hidup, maka lahirlah generasi yang mengalami keterasingan terhadap ilmu pengetahuan.

Kita juga harus jujur melihat kenyataan pahit : banyak kampus hari ini lebih sibuk mengejar akreditasi, ranking, administrasi, dan seremonial akademik dibanding membangun tradisi intelektual. Mahasiswa dijejali target IPK, bukan gairah berpikir. Mereka dipaksa cepat lulus, tetapi tidak dibiasakan berdialog dengan buku.

Akibatnya lahirlah apa yang disebut Byung-Chul Han sebagai achievement society  masyarakat yang sibuk mengejar performa, tetapi kehilangan kedalaman refleksi. Mahasiswa hari ini hidup dalam banjir informasi, namun miskin kontemplasi. Mereka terus “terhubung”, tetapi tidak benar-benar “memahami”.

Di sisi lain, budaya digital global juga sedang membentuk generasi instan. Algoritma media sosial tidak dirancang untuk melahirkan pembaca mendalam (deep reading), melainkan konsumen cepat yang hidup dari potongan video, sensasi, dan dopamin visual. Dalam situasi seperti ini, menyuruh mahasiswa “lebih rajin membaca” tanpa membongkar struktur sosialnya hanya akan menjadi ceramah moral yang tidak menyentuh akar masalah.

Lebih ironis lagi, sebagian elit akademik sendiri sering gagal memberi teladan intelektual. Banyak ruang akademik kehilangan diskursus kritis. Seminar berubah menjadi formalitas dokumentasi. Diskusi ilmiah digantikan budaya pencitraan.

Bahkan tidak sedikit dosen yang lebih sibuk memburu proyek dan jabatan dibanding membangun tradisi membaca di kampus.

Maka krisis literasi bukan semata krisis mahasiswa. Ini krisis peradaban akademik...

Kita tidak bisa meminta mahasiswa mencintai buku jika dosen dan kampus sendiri tidak menghadirkan atmosfer intelektual yang hidup. Perpustakaan sering sunyi bukan karena mahasiswa anti membaca, tetapi karena ilmu gagal dihadirkan sebagai kebutuhan eksistensial dan pengalaman yang membebaskan.

Paulo Freire pernah mengingatkan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer informasi, tetapi proses pembebasan kesadaran (critical consciousness). Membaca bukan hanya aktivitas melihat huruf, tetapi memahami realitas dan mempertanyakan ketidakadilan.

Karena itu, solusi persoalan ini tidak cukup dengan retorika nostalgia tentang “mahasiswa dulu rajin membaca”. Dunia telah berubah. Struktur sosial berubah. Teknologi berubah. Pola kognitif manusia berubah.

Yang dibutuhkan adalah revolusi ekosistem pengetahuan : kampus yang kembali menjadi pusat dialektika;

  • dosen yang hidup bersama tradisi ilmu;
  • ruang publik yang menghargai pemikiran;
  • perpustakaan yang hidup;
  • media yang mendidik;
  • dan kebijakan pendidikan yang tidak semata berorientasi pasar.

Jika tidak, kita hanya akan terus memproduksi generasi yang sibuk mengejar gelar, tetapi kehilangan kedalaman berpikir.

Persoalan terbesar Aceh hari ini mungkin bukan mahasiswa yang “rabun membaca”, tetapi elit intelektual yang mulai rabun melihat akar persoalan.

Dan ketika analisis kehilangan kedalaman struktural, kritik pun berubah menjadi sekadar keluhan moral.

Warkop Pojok Kampus, 18 Mei 2026.

© Copyright 2022 - gajah putih News.com