GajahPutihNews | Jakarta — Gelombang dukungan terhadap pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara (ALA) kembali menguat. Mahasiswa, pemuda, aktivis, dan tokoh masyarakat dari kawasan tengah Aceh yang tergabung dalam Aliansi Pemuda Aceh Leuser Antara (ALA) menyatakan komitmennya untuk terus memperjuangkan pemekaran wilayah melalui jalur konstitusional dan gerakan intelektual.
Pernyataan tersebut mengemuka dalam diskusi virtual bertajuk “Aceh Leuser Antara: Jalan Baru Kesejahteraan atau Tantangan Baru Tata Kelola” yang digelar pada Sabtu, 10 Mei 2026.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Tiro Irawan selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Gayo Lues (IMGL) Jabodetabek, bekerja sama dengan Ikatan Pemuda Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT), Ikatan Mahasiswa Subulussalam dan Aceh Singkil, BEMPes DKI Jakarta, serta Aliansi Pemuda Aceh Leuser Antara (ALA).
Forum tersebut menjadi ruang konsolidasi moral bagi masyarakat kawasan tengah Aceh yang selama ini menilai pembangunan di wilayah pedalaman masih tertinggal, meski Aceh dikenal memiliki sumber daya alam yang melimpah.
Tiga narasumber utama yakni Prof. Rahmad Salam, Armen Desky, dan Zam Zam Mubarok menyampaikan pandangan bahwa perjuangan ALA bukan gerakan pemecah Aceh, melainkan upaya menghadirkan pemerataan pembangunan dan mempercepat pelayanan publik di kawasan tengah Aceh.
Dalam pemaparannya, Prof. Rahmad Salam menyebut kawasan ALA memiliki potensi besar menjadi provinsi maju apabila dikelola secara modern dan serius berbasis kekuatan sumber daya daerah.
“ALA bukan ancaman bagi perdamaian Aceh. Ini adalah hak demokratis rakyat untuk memperjuangkan kesejahteraan dan masa depan yang lebih adil,” ujarnya.
Sementara itu, Armen Desky menyoroti ironi Aceh yang kaya sumber daya alam namun masih menghadapi persoalan kemiskinan dan ketimpangan pembangunan.
Menurutnya, aspirasi pembentukan ALA yang telah diperjuangkan selama 26 tahun merupakan bukti bahwa tuntutan masyarakat kawasan tengah Aceh tidak pernah padam.
“ALA bukan untuk memecah Aceh, tetapi mempercepat pembangunan dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” kata Armen.
Ia juga menegaskan masyarakat kawasan tengah Aceh tidak boleh terus menjadi penonton di daerahnya sendiri, sementara potensi sumber daya alam terus mengalir tanpa dampak signifikan terhadap kesejahteraan rakyat.
Di sisi lain, Zam Zam Mubarok menilai pemerintah pusat perlu mulai melihat kawasan Aceh Leuser Antara sebagai wilayah strategis nasional yang memiliki kekuatan geografis, ekonomi, dan sumber daya alam untuk berkembang menjadi daerah otonom baru.
“Masa depan Aceh tidak boleh terus dikurung dalam narasi konflik semata. Sudah saatnya berbicara tentang pemerataan pembangunan dan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Aceh,” tegasnya.
Melalui forum tersebut, mahasiswa dan pemuda ALA se-Indonesia menyatakan akan terus mengawal perjuangan pembentukan Provinsi Aceh Leuser Antara melalui diskusi publik, konsolidasi nasional, gerakan intelektual, serta perjuangan damai yang konstitusional dan bermartabat.
“Mahasiswa ALA se-Indonesia bangkit bukan untuk memecah Aceh, tetapi melawan ketimpangan dan menghadirkan keadilan pembangunan bagi masyarakat kawasan tengah Aceh,” demikian pernyataan sikap yang disampaikan dalam forum itu.
(Kang Juna)
Social Header
Berita
Cari Blog Ini
Laporkan Penyalahgunaan
Kontributor